Kekeringan Bukan Berarti Indonesia Harus Impor Beras

KLATEN - Dalam mengantisipasi cuaca ekstrem el Nino yang menyebabkan kekeringan di beberapa daerah, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengerahkan bantuan untuk membuat sumur dalam dan memberikan pompa air kepada petani yang mengalami kekeringan pada lahannya, Senin (27/7).

Terdapat 200 ribu hektar sawah terancam kekeringan di beberapa wilayah Indonesia sehingga berdampak pada produksi padi. Mentan berharap dampak kekeringan ini tidak membuat Indonesia mengimpor beras dari Negara lain.

“Impor beras ini merugikan para petani. Ada yang keliru selama ini, begitu harga naik yang terpikir di kepala langsung impor. Saya nggak mau,” ujar Mentan dalam dialognya dengan petani usai panen raya padi di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo Kabupaten Klaten.

Menurutnya ketika petani sedang panen raya padi seperti saat ini, lalu bila ada keputusan untuk impor beras maka sama sama menggadaikan petani. Pemerintah menegaskan tak akan membuka impor beras.

Mentan mengakui, kekeringan tahun ini akan membuat beberapa hektar sawah terancam kekeringan. Namun, tahun 2015 diperkirakan angkanya lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini karena keberhasilan Kementerian Pertanian menambah lahan sawah baru dengan total 102.000 hektar. Sehingga bila satu hektar menghasilkan lima ton, maka bisa dapat produksi beras tambahan sebanyak 500 ribu ton atau senilai Rp 2 triliun.

"Produksi terbesar kedua Oktober-Maret yaitu Jateng termasuk Klaten. Saya minta petani dapat menyerahkan hasil panennya ke Bulog, minimal 20%," ungkap Mentan.

Pada kunjungannya di Klaten, Mentan didampingi Bupati Klaten Sunarna, Direktur Bulog Wahyu Suparyono, Kepala Drive Bulog Jawa Tengah Usep Karyana, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jateng Surya. Mentan melakukan panen raya padi yang merupakan hasil perdana dari Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) secara manual dan dengan menggunakan combine harvester.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini59
Hari kemarin1137
Minggu ini59
Bulan ini28079
Jumlah Pengunjung851977
Online sekarang
13

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Kekeringan Bukan Berarti Indonesia Harus Impor Beras

KLATEN - Dalam mengantisipasi cuaca ekstrem el Nino yang menyebabkan kekeringan di beberapa daerah, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengerahkan bantuan untuk membuat sumur dalam dan memberikan pompa air kepada petani yang mengalami kekeringan pada lahannya, Senin (27/7).

Terdapat 200 ribu hektar sawah terancam kekeringan di beberapa wilayah Indonesia sehingga berdampak pada produksi padi. Mentan berharap dampak kekeringan ini tidak membuat Indonesia mengimpor beras dari Negara lain.

“Impor beras ini merugikan para petani. Ada yang keliru selama ini, begitu harga naik yang terpikir di kepala langsung impor. Saya nggak mau,” ujar Mentan dalam dialognya dengan petani usai panen raya padi di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo Kabupaten Klaten.

Menurutnya ketika petani sedang panen raya padi seperti saat ini, lalu bila ada keputusan untuk impor beras maka sama sama menggadaikan petani. Pemerintah menegaskan tak akan membuka impor beras.

Mentan mengakui, kekeringan tahun ini akan membuat beberapa hektar sawah terancam kekeringan. Namun, tahun 2015 diperkirakan angkanya lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini karena keberhasilan Kementerian Pertanian menambah lahan sawah baru dengan total 102.000 hektar. Sehingga bila satu hektar menghasilkan lima ton, maka bisa dapat produksi beras tambahan sebanyak 500 ribu ton atau senilai Rp 2 triliun.

"Produksi terbesar kedua Oktober-Maret yaitu Jateng termasuk Klaten. Saya minta petani dapat menyerahkan hasil panennya ke Bulog, minimal 20%," ungkap Mentan.

Pada kunjungannya di Klaten, Mentan didampingi Bupati Klaten Sunarna, Direktur Bulog Wahyu Suparyono, Kepala Drive Bulog Jawa Tengah Usep Karyana, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jateng Surya. Mentan melakukan panen raya padi yang merupakan hasil perdana dari Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) secara manual dan dengan menggunakan combine harvester.

Sumber : Kementrian Pertanian

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:191

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1073

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:476

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi