Panen dan Temu Lapang di Tabanan Bali

Temu lapang dan gelar teknologi padi hibrida mengangkat tema “Meningkatkan Daya Saing Petani Melalui System Pertanian Berbasis Komunitas dipusatkan di Desa Tajen, Kec. Penebel, Kab. Tabanan, Bali.

Gelar teknologi tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan The International Hybrid Rice Symposium yang rencananya akan diselenggarakan di Yogyakarta  pada Februari  2018.

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Pemerintah Prov. Bali, mitra swasta. Gelar teknologi terdiri dari 15 ha demplot varietas padi hibrida dengan teknik budidaya terkini, serta 35 ha denfam pertanian berbasis komunitas (small farmer Large Filed).

Varietas yang ditanam sebanyak 12 varietas unggul hibrida hasil inovasi Balitbangtan seperti varietas Hipa 18, Hipa 19, Hipa Jatim 2 dan varietas hibrida dari mitra swasta. Varietas hibrida yang ditanam memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri dan pernyakit utama padi. Selain itu, masih dilokasi yang sama ditanam 11 genotipe hibrida yang berasal dari International Rice Research Institute’.

Hadir dalam acara temu lapang Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Kepala Balitbangtan yang diwakili Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ismail Wahab, Bupati, Kepala Dinas Provinsi Bali, Kepala BPTP Bali, dan seluruh jajaran baik Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah Prov. Bali dan mitra swasta serta petani sebanyak 500 orang.

Dalam kunjungannya Ketut Sudikerta melakukan panen perdana padi hibrida di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan, sembari mengajak semua pihak agar memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan.

"Momentum ini sekaligus mengingatkan kita untuk melakukan penjagaan ketahanan pangan kita, terutama saat mengalami musibah bencana Gunung Agung," kata Sudikerta di sela-sela panen perdana padi hibrida tersebut, di Tabanan, (Selasa, 5/12/2017)

Ia menegaskan, sektor pertanian tidak bisa ditinggalkan, terlebih apabila terjadi sesuatu dengan dunia pariwisata seperti saat ini imbas dari situasi Gunung Agung, maka pertanian akan menjadi andalan Provinsi Bali. "Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali dan semua pihak memiliki tanggung jawab mewujudkan ketahanan pangan khususnya di Bali, yang meliputi ketersediaan pangan, distribusi dan aksesibilitasnya.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, ketersediaan beras di Bali surplus, produksinya mencapai 850 ton beras pertahun. Sedangkan kebutuhan pokok beras hanya 400 ton pertahun.

Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pertanian merupakan bidang yang sangat penting dalam menunjang perekonomian daerah Bali. Bidang petanian menempati posisi kedua dalam menyumbang pendapatan daerah Provinsi Bali setelah pajak kendaraan bermotor.

Pendapatan di bidang pertanian menyumbang pendapatan asli daerah sebesar 14,9 persen dari seluruh pendapatan Provinsi Bali. Hal ini dikatakan Ketut Sudikerta saat membuka temu lapang dan gelar teknologi padi hibrida tersebut. (Selasa, 5/12/2017).

Ditambahkan Sudikerta, infrastruktur juga harus menjadi perhatian, terutama irigasi saluran air, fasilitas jalan-jalan produksi, adopsi teknologi yang ada dan juga penggunaan benih unggul guna peningkatan produksi agar lebih maksimal.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Moh Ismail Wahab mengatakan bahwa Indonesia telah berhasil swasembada beras dan pemerintah berkomitmen untuk dapat mempertahankan swasembada ini, bahkan bertekad menjadi lumbung pangan di 2030.

Untuk itu, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balitbangtan sudah menyiapkan varietas unggul padi hibrida yang mampu menghasilkan padi kualitas tinggi seperti yang telah diterapkan di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan.

Kondisi Bali yang saat ini sedang terkena musibah, rupanya tidak menyurutkan semangat kerja keras petani dan seluruh petugas di Subak Tajen untuk terus berkarya  dalam menerapkan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian.

Satu hal yang menarik adalah hadirnya teknologi modern padi hibrida yang tetap bersanding harmonis dengan kearifan lokal budaya Bali. Diharapkan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lain dalam rangka peningkatan produksi padi untuk mempertahankan swasembada beras nasional, sekaligus Indonesia menjadi Negara pengekspor beras dan mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.(Shr)

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini956
Hari kemarin1625
Minggu ini13375
Bulan ini30000
Jumlah Pengunjung1078347
Online sekarang
18

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Panen dan Temu Lapang di Tabanan Bali

Temu lapang dan gelar teknologi padi hibrida mengangkat tema “Meningkatkan Daya Saing Petani Melalui System Pertanian Berbasis Komunitas dipusatkan di Desa Tajen, Kec. Penebel, Kab. Tabanan, Bali.

Gelar teknologi tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan The International Hybrid Rice Symposium yang rencananya akan diselenggarakan di Yogyakarta  pada Februari  2018.

Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Pemerintah Prov. Bali, mitra swasta. Gelar teknologi terdiri dari 15 ha demplot varietas padi hibrida dengan teknik budidaya terkini, serta 35 ha denfam pertanian berbasis komunitas (small farmer Large Filed).

Varietas yang ditanam sebanyak 12 varietas unggul hibrida hasil inovasi Balitbangtan seperti varietas Hipa 18, Hipa 19, Hipa Jatim 2 dan varietas hibrida dari mitra swasta. Varietas hibrida yang ditanam memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri dan pernyakit utama padi. Selain itu, masih dilokasi yang sama ditanam 11 genotipe hibrida yang berasal dari International Rice Research Institute’.

Hadir dalam acara temu lapang Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Kepala Balitbangtan yang diwakili Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ismail Wahab, Bupati, Kepala Dinas Provinsi Bali, Kepala BPTP Bali, dan seluruh jajaran baik Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah Prov. Bali dan mitra swasta serta petani sebanyak 500 orang.

Dalam kunjungannya Ketut Sudikerta melakukan panen perdana padi hibrida di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan, sembari mengajak semua pihak agar memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan.

"Momentum ini sekaligus mengingatkan kita untuk melakukan penjagaan ketahanan pangan kita, terutama saat mengalami musibah bencana Gunung Agung," kata Sudikerta di sela-sela panen perdana padi hibrida tersebut, di Tabanan, (Selasa, 5/12/2017)

Ia menegaskan, sektor pertanian tidak bisa ditinggalkan, terlebih apabila terjadi sesuatu dengan dunia pariwisata seperti saat ini imbas dari situasi Gunung Agung, maka pertanian akan menjadi andalan Provinsi Bali. "Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali dan semua pihak memiliki tanggung jawab mewujudkan ketahanan pangan khususnya di Bali, yang meliputi ketersediaan pangan, distribusi dan aksesibilitasnya.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, ketersediaan beras di Bali surplus, produksinya mencapai 850 ton beras pertahun. Sedangkan kebutuhan pokok beras hanya 400 ton pertahun.

Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pertanian merupakan bidang yang sangat penting dalam menunjang perekonomian daerah Bali. Bidang petanian menempati posisi kedua dalam menyumbang pendapatan daerah Provinsi Bali setelah pajak kendaraan bermotor.

Pendapatan di bidang pertanian menyumbang pendapatan asli daerah sebesar 14,9 persen dari seluruh pendapatan Provinsi Bali. Hal ini dikatakan Ketut Sudikerta saat membuka temu lapang dan gelar teknologi padi hibrida tersebut. (Selasa, 5/12/2017).

Ditambahkan Sudikerta, infrastruktur juga harus menjadi perhatian, terutama irigasi saluran air, fasilitas jalan-jalan produksi, adopsi teknologi yang ada dan juga penggunaan benih unggul guna peningkatan produksi agar lebih maksimal.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Moh Ismail Wahab mengatakan bahwa Indonesia telah berhasil swasembada beras dan pemerintah berkomitmen untuk dapat mempertahankan swasembada ini, bahkan bertekad menjadi lumbung pangan di 2030.

Untuk itu, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balitbangtan sudah menyiapkan varietas unggul padi hibrida yang mampu menghasilkan padi kualitas tinggi seperti yang telah diterapkan di Subak Tajen, Kabupaten Tabanan.

Kondisi Bali yang saat ini sedang terkena musibah, rupanya tidak menyurutkan semangat kerja keras petani dan seluruh petugas di Subak Tajen untuk terus berkarya  dalam menerapkan hasil inovasi Badan Litbang Pertanian.

Satu hal yang menarik adalah hadirnya teknologi modern padi hibrida yang tetap bersanding harmonis dengan kearifan lokal budaya Bali. Diharapkan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lain dalam rangka peningkatan produksi padi untuk mempertahankan swasembada beras nasional, sekaligus Indonesia menjadi Negara pengekspor beras dan mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.(Shr)

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi