Panen Perdana Produksi Benih IPB 3S dan 4S

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Dr. Made Jaya Mejaya mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pertanian (Balitbangtan) yang didampingi Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ali Jamil dan Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB  melakukan panen perdana produksi benih padi IPB 3S dan IPB 4S di KP Pusakanegara, Subang (19/5/2015).

Panen perdana tersebut merupakan tindak lanjut dari MOU yang dilakukan antara Menteri Pertanian dengan Rektor IPB dalam upaya mendukung Swasembada Pangan, khususnya padi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sebagai tindak lanjut dari MOU tersebut, Kepala Balitbangtan segera melakukan maping kesesuaian lokasi dan produksi benih IPB 3S dan IPB 4S kelas FS. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui respon benih tersebut, karena temuan benih ini masih baru. Varietas baru yang khusus untuk lahan sawah irigasi ini merupakan pengembangan padi Varietas Fatmawati yang memiliki potensi hasil rata-rata 12 ton/ha.

Dalam keterangannya Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB menjelaskan bahwa upaya ini merupakan kontribusi nyata IPB dalam pembangunan pertanian nasional. Benih Padi IPB 3S dan IPB 4S merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh peneliti dan dosen untuk lahan sawah irigasi, yang nantinya bila sudah menyebar ke masyarakat khususnya petani, biarkan petani yang menilai sendiri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa petani harus berdaulat dan dapat menentukan sendiri varietas yang disukai dan indikasinya memilih varietas yang menguntungkan.

Dr. Ali  Jamil, Kepala Balai Besar Penelitian Padi, melaporkan bahwa untuk panen perdana di KP Pusakanegara ini luasannya mencapai 6 ha dan masih ada 8 lokasi lagi yang melibatkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Walaupun varietas yang masih baru ini mempunyai tingkat efisiensi penggunaan Nitrogen 20% dibandingkan dengan varietas yang telah ada, tetapi tingkat kehampaannya masih cukup tinggi yaitu sekitar 20-29%.

Disamping itu umumnya pertanaman varietas IPB 3S dan IPB 4S masih lebih tinggi dibandingkan dengan varietas-varietas yang umumnya telah menyebar dan tingkat kerebahan tanamannya masih cukup tinggi. “Kita masih menunggu hasil pertanaman dari 8 lokasi lainnya yang ada di Sumatera dan Bali, jelasnya.

Dr. Made menegaskan bahwa Balitbangtan melalui BB Padi dalam memperkenalkan varietas baru sudah memiliki SOP. Untuk tahun pertama pengenalan cukup dalam plot-plot kecil yang biasa disebut adaptasi, kemudian bila petani tertarik diperluas lagi menjadi 1 ha dalam demfarm dan petani diberikan kesempatan untuk mencicipi rasa nasi.

“Bila masih tertarik kita luaskan menjadi 100 ha dan panennya melibatkan Kepala Dinas Pertanian setempat, demikian seterusnya, sehingga petani tidak merasa terbohongi,” jelas Dr Made.

Sumber: Badan Litbang Pertanian

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini366
Hari kemarin687
Minggu ini1053
Bulan ini28125
Jumlah Pengunjung777765
Online sekarang
25

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Panen Perdana Produksi Benih IPB 3S dan 4S

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Dr. Made Jaya Mejaya mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pertanian (Balitbangtan) yang didampingi Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ali Jamil dan Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB  melakukan panen perdana produksi benih padi IPB 3S dan IPB 4S di KP Pusakanegara, Subang (19/5/2015).

Panen perdana tersebut merupakan tindak lanjut dari MOU yang dilakukan antara Menteri Pertanian dengan Rektor IPB dalam upaya mendukung Swasembada Pangan, khususnya padi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sebagai tindak lanjut dari MOU tersebut, Kepala Balitbangtan segera melakukan maping kesesuaian lokasi dan produksi benih IPB 3S dan IPB 4S kelas FS. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui respon benih tersebut, karena temuan benih ini masih baru. Varietas baru yang khusus untuk lahan sawah irigasi ini merupakan pengembangan padi Varietas Fatmawati yang memiliki potensi hasil rata-rata 12 ton/ha.

Dalam keterangannya Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB menjelaskan bahwa upaya ini merupakan kontribusi nyata IPB dalam pembangunan pertanian nasional. Benih Padi IPB 3S dan IPB 4S merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh peneliti dan dosen untuk lahan sawah irigasi, yang nantinya bila sudah menyebar ke masyarakat khususnya petani, biarkan petani yang menilai sendiri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa petani harus berdaulat dan dapat menentukan sendiri varietas yang disukai dan indikasinya memilih varietas yang menguntungkan.

Dr. Ali  Jamil, Kepala Balai Besar Penelitian Padi, melaporkan bahwa untuk panen perdana di KP Pusakanegara ini luasannya mencapai 6 ha dan masih ada 8 lokasi lagi yang melibatkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Walaupun varietas yang masih baru ini mempunyai tingkat efisiensi penggunaan Nitrogen 20% dibandingkan dengan varietas yang telah ada, tetapi tingkat kehampaannya masih cukup tinggi yaitu sekitar 20-29%.

Disamping itu umumnya pertanaman varietas IPB 3S dan IPB 4S masih lebih tinggi dibandingkan dengan varietas-varietas yang umumnya telah menyebar dan tingkat kerebahan tanamannya masih cukup tinggi. “Kita masih menunggu hasil pertanaman dari 8 lokasi lainnya yang ada di Sumatera dan Bali, jelasnya.

Dr. Made menegaskan bahwa Balitbangtan melalui BB Padi dalam memperkenalkan varietas baru sudah memiliki SOP. Untuk tahun pertama pengenalan cukup dalam plot-plot kecil yang biasa disebut adaptasi, kemudian bila petani tertarik diperluas lagi menjadi 1 ha dalam demfarm dan petani diberikan kesempatan untuk mencicipi rasa nasi.

“Bila masih tertarik kita luaskan menjadi 100 ha dan panennya melibatkan Kepala Dinas Pertanian setempat, demikian seterusnya, sehingga petani tidak merasa terbohongi,” jelas Dr Made.

Sumber: Badan Litbang Pertanian

 

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:214

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:223

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:861

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi