Petani Takkalalla Kabupaten Wajo Jatuh Hati ke Isabela

Setelah sebelumnya sukses dengan panen dan temu lapang demfarm teknologi jarwo super di Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI) kembali menyelenggarakan hal serupa yaitu demfarm seluas 56 hektar di Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.(28/8/2018)

Panen dan temu lapang di Kec. Takkalalla dihadiri Kepala BB Padi yang diwakili oleh Kabid KSPHP Dr. Suprihanto, Kepala Dinas Pertanian  Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir. H. Ambo Epu,  Camat Takkalalla Hj. Andi Besse Suhaemi, S.Sos, peneliti BPTP Sulsel, peneliti Lolit tungro, Danramil, Kapolsek,  Kepala BBP, koordinator penyuluh, para penyuluh dinas pertanian, dan petani.

Kegiatan diawali panen dengan alat panen combine harvester dilanjutkan dengan temu lapang di areal pertanaman yang diikuti kurang lebih 250 peserta.

Kepala Dinas Pertanian  Ambo menyambut baik kegiatan demfarm diwilayahnya dan mendukung kegiatan demfam tidak berakhir disini.

"Ini merupakan suatu langkah yang tepat dan harus didukung penuh karena dengan kegiatan denfarm ini petani bisa bersentuhan langsung dengan teknologi baru dan sekaligus belajar teknik budidaya yang baik agar procuksi padi lahan tadah hujan meningkat". Ungkap Ambo.

Sementara itu Dr. Suprihanto dalam sambutannya sangat mengapresiasi kerjasama yang baik dan dukungan penuh dari seluruh jajaran pemerintah daerah Kabupagen Wajo, khususnya Kecamatan Takkalalla.

Dirinya mengatakan "Sudah menjadi tugas kewajiban kami untuk mendekatkan teknologi agar benar-benar sampai dan bisa diterapkan petani, sehingga dengan adanya demfarm ini ada umpan balik dari petani mana-mana yang kurang dan perlu terus dikembangkan", kata Suprihanto.

Tujuan utama demfarm di Kabupaten ini tidak lain untuk mempercepat proses diseminasi sekaligus memperkenalkan teknologi budidaya  spesifik untuk peningkatan produksi padi di lahan sawah tadah hujan dengan teknologi intensifikasi sebar benih langsung (Isabela).

Varietas unggul yang ditanam terdiri dari 8 varietas spesifik lahan tadah hujan yaitu Inpari 7 Lanrang, Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, Inpari 37 Lanrang, Inpari 41 Agritan Tadah Hujan  dan  varietas Inpari 42, 43 GSR. Hasil panen ubinan Inpari 42 GSR Agritan 7,2 t/ha GKP.

Secara umum, luas lahan baku sawah di Kabupaten Wajo mencapai 99.720 ha dan sekitar 70% nya merupakan lahan sawah tadah hujan dengan rata-rata produksi wilayah tersebut 5,1 t/ha.

Sementara itu, lahan sawah tadah hujan di kecamatan Takkalalla, mencapai 10.850 ha, dengan rata-rata kepemilikan lahan 4-5 ha/petani. Selain petambak,  masyarakat Takkalalla melakukan usaha padi di lahan tadah hujan sebagai sumber pendapatan utamanya.

Penerapan teknologi budidaya padi produksi tinggi, spesifik agro-ekosistem (TEPAT-SAE), diwilayah ini merupakan kebijakan yang tepat karena  Wajo mempunyai kondisi iklim yang spesifik dan sangat berbeda dengan dengan iklim di wilayah Sulawesi Selatan atau Indonesia pada umumnya.

Musim rendengan (penghujan) akan dimulai pada pertengahan bulan April 2018 hingga September 2018 (Musim A-SEP), berbeda dengan kondisi Indonesia pada umumnya yang mengalami musim kemarau pada bulan April.

Komponen teknologi Tepat-Sae Isabela mempunyai beberapa kesamaan teknologi larikan gogo (Largo) tetapi ada beberapa komponen yang membedakan.

Berikut ini komponen teknologi Tepat-Sae antara lain penggunaan varietas unggul tahan yang punya potensi hasil tinggi, dengan sistem tanam sebar/hambur benih langsung  maksimal 40 kg/ha hal ini untuk menjaga populasi optimal per ha,  Optimalisasi daya kecambah benih, dengan perendaman benih selama 48 jam, dilanjutkan dengan penirisan selama 12 jam, hingga calon bibit tumbuh, dan siap untuk diberikan tambahan pupuk hayati Agrimeth (Seed treatment); atau pada lahan sawah tadah hujan yang tergenang air lebih dari 5 cm diatas permukaan tanah, dianjurkan untuk menggunakan (iron coated seed). Coating seed merupakan benih yang diselimuti iron sebagai bahan pemberat benih sehingga benih dapat menancap di permukaan tanah meskipun benih disebar/dihambur dalam kondisi air tergenang, juga untuk mengurangi serangan hama keong-mas; (3) Hambur dengan jarak antar lorong maksimal 4m, untuk memudahkan perawatan tanaman dan aplikasi pupuk, pestisida/herbisida; (4). Pemupukan spesifik sawah tadah hujan untuk menghindari rebah tanpa menurunkan hasil panen; (5). Aplikasi bio-silika dosis 1l/ha pada saat vegetative maksimal dan panicle initiation untuk meningkatkan kekuatan/kekerasan batang dan menghindari rebah; (6) Penggunaan combine harvester untuk panen.

Kedepan, Isabela bisa dikembangkan dengan menggunakan alat/mesin hambur dengan menggunakan boom-sprayer atau drone-hambur benih. (Shr)

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2018
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 1
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 2

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini686
Hari kemarin2387
Minggu ini5366
Bulan ini37138
Jumlah Pengunjung1747141
Online sekarang
38

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Petani Takkalalla Kabupaten Wajo Jatuh Hati ke Isabela

Setelah sebelumnya sukses dengan panen dan temu lapang demfarm teknologi jarwo super di Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI) kembali menyelenggarakan hal serupa yaitu demfarm seluas 56 hektar di Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.(28/8/2018)

Panen dan temu lapang di Kec. Takkalalla dihadiri Kepala BB Padi yang diwakili oleh Kabid KSPHP Dr. Suprihanto, Kepala Dinas Pertanian  Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir. H. Ambo Epu,  Camat Takkalalla Hj. Andi Besse Suhaemi, S.Sos, peneliti BPTP Sulsel, peneliti Lolit tungro, Danramil, Kapolsek,  Kepala BBP, koordinator penyuluh, para penyuluh dinas pertanian, dan petani.

Kegiatan diawali panen dengan alat panen combine harvester dilanjutkan dengan temu lapang di areal pertanaman yang diikuti kurang lebih 250 peserta.

Kepala Dinas Pertanian  Ambo menyambut baik kegiatan demfarm diwilayahnya dan mendukung kegiatan demfam tidak berakhir disini.

"Ini merupakan suatu langkah yang tepat dan harus didukung penuh karena dengan kegiatan denfarm ini petani bisa bersentuhan langsung dengan teknologi baru dan sekaligus belajar teknik budidaya yang baik agar procuksi padi lahan tadah hujan meningkat". Ungkap Ambo.

Sementara itu Dr. Suprihanto dalam sambutannya sangat mengapresiasi kerjasama yang baik dan dukungan penuh dari seluruh jajaran pemerintah daerah Kabupagen Wajo, khususnya Kecamatan Takkalalla.

Dirinya mengatakan "Sudah menjadi tugas kewajiban kami untuk mendekatkan teknologi agar benar-benar sampai dan bisa diterapkan petani, sehingga dengan adanya demfarm ini ada umpan balik dari petani mana-mana yang kurang dan perlu terus dikembangkan", kata Suprihanto.

Tujuan utama demfarm di Kabupaten ini tidak lain untuk mempercepat proses diseminasi sekaligus memperkenalkan teknologi budidaya  spesifik untuk peningkatan produksi padi di lahan sawah tadah hujan dengan teknologi intensifikasi sebar benih langsung (Isabela).

Varietas unggul yang ditanam terdiri dari 8 varietas spesifik lahan tadah hujan yaitu Inpari 7 Lanrang, Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, Inpari 37 Lanrang, Inpari 41 Agritan Tadah Hujan  dan  varietas Inpari 42, 43 GSR. Hasil panen ubinan Inpari 42 GSR Agritan 7,2 t/ha GKP.

Secara umum, luas lahan baku sawah di Kabupaten Wajo mencapai 99.720 ha dan sekitar 70% nya merupakan lahan sawah tadah hujan dengan rata-rata produksi wilayah tersebut 5,1 t/ha.

Sementara itu, lahan sawah tadah hujan di kecamatan Takkalalla, mencapai 10.850 ha, dengan rata-rata kepemilikan lahan 4-5 ha/petani. Selain petambak,  masyarakat Takkalalla melakukan usaha padi di lahan tadah hujan sebagai sumber pendapatan utamanya.

Penerapan teknologi budidaya padi produksi tinggi, spesifik agro-ekosistem (TEPAT-SAE), diwilayah ini merupakan kebijakan yang tepat karena  Wajo mempunyai kondisi iklim yang spesifik dan sangat berbeda dengan dengan iklim di wilayah Sulawesi Selatan atau Indonesia pada umumnya.

Musim rendengan (penghujan) akan dimulai pada pertengahan bulan April 2018 hingga September 2018 (Musim A-SEP), berbeda dengan kondisi Indonesia pada umumnya yang mengalami musim kemarau pada bulan April.

Komponen teknologi Tepat-Sae Isabela mempunyai beberapa kesamaan teknologi larikan gogo (Largo) tetapi ada beberapa komponen yang membedakan.

Berikut ini komponen teknologi Tepat-Sae antara lain penggunaan varietas unggul tahan yang punya potensi hasil tinggi, dengan sistem tanam sebar/hambur benih langsung  maksimal 40 kg/ha hal ini untuk menjaga populasi optimal per ha,  Optimalisasi daya kecambah benih, dengan perendaman benih selama 48 jam, dilanjutkan dengan penirisan selama 12 jam, hingga calon bibit tumbuh, dan siap untuk diberikan tambahan pupuk hayati Agrimeth (Seed treatment); atau pada lahan sawah tadah hujan yang tergenang air lebih dari 5 cm diatas permukaan tanah, dianjurkan untuk menggunakan (iron coated seed). Coating seed merupakan benih yang diselimuti iron sebagai bahan pemberat benih sehingga benih dapat menancap di permukaan tanah meskipun benih disebar/dihambur dalam kondisi air tergenang, juga untuk mengurangi serangan hama keong-mas; (3) Hambur dengan jarak antar lorong maksimal 4m, untuk memudahkan perawatan tanaman dan aplikasi pupuk, pestisida/herbisida; (4). Pemupukan spesifik sawah tadah hujan untuk menghindari rebah tanpa menurunkan hasil panen; (5). Aplikasi bio-silika dosis 1l/ha pada saat vegetative maksimal dan panicle initiation untuk meningkatkan kekuatan/kekerasan batang dan menghindari rebah; (6) Penggunaan combine harvester untuk panen.

Kedepan, Isabela bisa dikembangkan dengan menggunakan alat/mesin hambur dengan menggunakan boom-sprayer atau drone-hambur benih. (Shr)

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi