Menekan OPT: Petani Kabupaten Sanggau Ikuti Teknologi Anjuran

Hamparan tanaman padi menguning dilahan 100 ha dan keceriaan para petani Kab. Sanggau terlihat jelas saat menyambut panen raya yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo pada Gelar Teknologi Hari Pangan Sedunia beberapa hari lagi.

Gelar teknologi diwilayah ini merupakan buah dari perjuangan petani yang sangat panjang. Berjuang sejak tahun 1980 untuk bisa beradaptasi  dengan alam dan iklim diwilayah yang tidak jauh dengan perbatasan negara Indonesia-Malaysia.

Kondisi iklim dengan musim kemarau yang sangat pendek dimanfaatkan petani untuk tanam padi dua kali dalam satu tahun. Tanam padi menjadi rutinitas setiap musim dan selama ini masyarakat petani menggunakan cara budidaya dengan budaya tanam mereka tanpa mempertimbangkan efek perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sehingga perkembangan penyakit seperti blas dan kresek cukup tinggi.

Sejak ada event HPS pada tahun ini, teknologi budidaya dan pengendalian OPT diperkenalkan kepada masyarakat petani dan sejak saat itu pula perkembangan OPT didaerah ini tergolong sangat rendah dan berhasil ditekan. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, tidak terjadi serangan hama penyakit yang serius dan hanya beberapa tanaman saja yang terserang penyakit blas dan kresek.

Dr. Suprihanto selaku peneliti dari Badan Litbang Pertanian mengatakan bahwa penyebab munculnya blas dan kresek diakibatkan intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga terjadi kelembaban yang tinggi pula. Dan pada musim ini, petani telah menerapkan teknologi anjuran untuk menekan perkembangan penyakit blas dan kresek yaitu dengan melakukan tanam jajar legowo untuk mengurangi kelembaban. Berikutnya adalah sistem drainase telah ditata agar air bisa mengalir dengan baik, pemupukan sesuai rekomendasi, menekan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, dan penggunaan varietas tahan maupun melakukan pergiliran varietas untuk beberapa musim berikutnya.

Kemarau pendek di Kabupaten Sanggau merupakan jeda waktu singkat yang bisa memutus siklus penyebaran hama penyakit. Kondisi sekitar sawah yang sebagian ditanami karet dan kelapa sawit mempunyai keuntungan tersendiri bagi petani padi karena secara alami wilayah tersebut terisolasi dan tidak terjadi migrasi hama dari wilayah endemik disekitarnya.

Pendekatan teknologi dan pendampingan telah dilakukan Badan Litbang Pertanian agar petani mau mengadopsi teknologi anjuran dengan selalu menjaga kearifan lokal demi peningkatan produksi padi dan kesejahteraan petani. (Shr)

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini120
Hari kemarin2577
Minggu ini5127
Bulan ini48572
Jumlah Pengunjung1150077
Online sekarang
10

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Menekan OPT: Petani Kabupaten Sanggau Ikuti Teknologi Anjuran

Hamparan tanaman padi menguning dilahan 100 ha dan keceriaan para petani Kab. Sanggau terlihat jelas saat menyambut panen raya yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo pada Gelar Teknologi Hari Pangan Sedunia beberapa hari lagi.

Gelar teknologi diwilayah ini merupakan buah dari perjuangan petani yang sangat panjang. Berjuang sejak tahun 1980 untuk bisa beradaptasi  dengan alam dan iklim diwilayah yang tidak jauh dengan perbatasan negara Indonesia-Malaysia.

Kondisi iklim dengan musim kemarau yang sangat pendek dimanfaatkan petani untuk tanam padi dua kali dalam satu tahun. Tanam padi menjadi rutinitas setiap musim dan selama ini masyarakat petani menggunakan cara budidaya dengan budaya tanam mereka tanpa mempertimbangkan efek perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sehingga perkembangan penyakit seperti blas dan kresek cukup tinggi.

Sejak ada event HPS pada tahun ini, teknologi budidaya dan pengendalian OPT diperkenalkan kepada masyarakat petani dan sejak saat itu pula perkembangan OPT didaerah ini tergolong sangat rendah dan berhasil ditekan. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, tidak terjadi serangan hama penyakit yang serius dan hanya beberapa tanaman saja yang terserang penyakit blas dan kresek.

Dr. Suprihanto selaku peneliti dari Badan Litbang Pertanian mengatakan bahwa penyebab munculnya blas dan kresek diakibatkan intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga terjadi kelembaban yang tinggi pula. Dan pada musim ini, petani telah menerapkan teknologi anjuran untuk menekan perkembangan penyakit blas dan kresek yaitu dengan melakukan tanam jajar legowo untuk mengurangi kelembaban. Berikutnya adalah sistem drainase telah ditata agar air bisa mengalir dengan baik, pemupukan sesuai rekomendasi, menekan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, dan penggunaan varietas tahan maupun melakukan pergiliran varietas untuk beberapa musim berikutnya.

Kemarau pendek di Kabupaten Sanggau merupakan jeda waktu singkat yang bisa memutus siklus penyebaran hama penyakit. Kondisi sekitar sawah yang sebagian ditanami karet dan kelapa sawit mempunyai keuntungan tersendiri bagi petani padi karena secara alami wilayah tersebut terisolasi dan tidak terjadi migrasi hama dari wilayah endemik disekitarnya.

Pendekatan teknologi dan pendampingan telah dilakukan Badan Litbang Pertanian agar petani mau mengadopsi teknologi anjuran dengan selalu menjaga kearifan lokal demi peningkatan produksi padi dan kesejahteraan petani. (Shr)

Berita Terbaru

Padi  Lahan Kering Dataran Tinggi

Info Teknologi | 11-01-2018 | Hits:564

Padi Lahan Kering Dataran Tinggi

Panen di Musim Paceklik

Berita Utama | 10-01-2018 | Hits:243

Panen di Musim Paceklik

Luas Panen Padi di Beberapa Wilayah

Berita Utama | 03-01-2018 | Hits:355

Luas Panen Padi di Beberapa Wilayah

Karakteristik Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan

Info Teknologi | 02-01-2018 | Hits:316

Karakteristik Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

Info Teknologi | 21-12-2017 | Hits:628

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

Menteri Pertanian Meluncurkan Varietas Unggul Baru

Info Aktual | 21-12-2017 | Hits:889

Menteri Pertanian Meluncurkan Varietas Unggul Baru

Budidaya Organik dan Non-Organik Padi Terhadap Mutu

Info Teknologi | 16-12-2017 | Hits:617

Budidaya Organik dan Non-Organik Padi Terhadap Mutu

Varietas Unggul Baru untuk Agroekosistem Tertentu

Berita Utama | 11-12-2017 | Hits:810

Varietas Unggul Baru untuk Agroekosistem Tertentu

Panen dan Temu Lapang di Tabanan Bali

Info Aktual | 06-12-2017 | Hits:280

Panen dan Temu Lapang di Tabanan Bali

Budidaya Padi pada Lahan Suboptimal

Info Teknologi | 27-11-2017 | Hits:1268

Budidaya Padi pada Lahan Suboptimal

Petani Tabanan: Padi Hibrida Lebih Menggiurkan

Info Aktual | 20-11-2017 | Hits:943

Petani Tabanan: Padi Hibrida Lebih Menggiurkan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi