Green Super Rice Padi Masa Depan

Tantangan pertanian global adalah pemenuhan kebutuhan beras yang semakin meningkat disamping cekaman abiotik yang semakin tinggi seperti serangan hama penyakit, kekeringan, dan lain sebagainya. Sementara itu, dari segi ekonomi, tuntutan peningkatan efisiensi dari pemanfaatan input produksi juga semakin besar, seperti pupuk, benih yang bermutu, teknologi budidaya, dan lain-lain.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melaui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) bekerjasama dengan The International Rice Research Institute (IRRI) dan Chinese Academy of Agricultural Science (CAAS) terlibat dalam pengembangan varietas padi masa depan yang lebih ramah lingkungan dengan pengurangan penggunaan pestisida, pupuk kimia, dan air.

Dari kerja sama tersebut dilakukan  pengujian dan perakitan galur-galur GSR untuk padi yang dapat adaptif pada kondisi lingkungan di Indonesia. Dalam kurun waktu lima tahun telah teridentifikasi dua varietas padi yaitu Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR. Kedua varietas tersebut terbukti  dapat menghasilkan gabah dengan hasil tinggi pada kondisi optimum (9-10 ton/ha), mampu mempertahankan produksi pada kondisi pupuk 80% dari rekomendasi yang diberikan serta memiliki adaptasi pada kondisi lingkungan kering dan basah (Amphibi). Di samping itu kedua varietas tersebut memiliki periode pengisian biji lebih panjang dibandingkan dengan varietas padi umumnya, sehingga rendemen berasnya lebih tinggi dan penampilan beras bening seperti kristal. Kebeningan beras yang baik ini menjadikan derajat penyosohan beras dapat dikurangi sehingga kandungan gizi seperti vitamin B, lemak dan protein di dalam lapisan ari beras dapat dipertahankan.

Kanan Inpari 42 GSR dan Kiri varietas Ciherang di Sampang Cilacap

Di dalam deskripsi kedua varietas ini terbukti agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe I dan rentan terhadap wereng coklat biotipe II dan III, namun demikian kedua varietas tersebut tahan terhadap serangan wereng batang coklat  populasi lapang. Hal tersebut terbukti ketika serangan wereng di daerah Sampang Kabupaten Cilacap mampu bertahan hidup hingga panen dibandingkan varietas Ciherang yang mengalami Puso.

Depan Ciherang terkena hopper burn dan belakang Inpari 42 GSR masih terlihat hijau

Sepanjang awal tahun tahun 2017  sampai dengan saat ini, BB Padi - Badan Litbang Pertanian telah mendistribusikan benih sumber Inpari 42 GSR dan 43 GSR sebanyak masing 1,4 ton dan  1,3  ton di sejumlah wilayah yaitu Indramayu, Karawang, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Karanganyar. Diharapkan benih tersebut terus menyebar didaerah sekitarnya dan memberikan dampak kepada kesejahteraan petani. (YN)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini162
Hari kemarin2459
Minggu ini7583
Bulan ini40402
Jumlah Pengunjung958395
Online sekarang
14

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Green Super Rice Padi Masa Depan

Tantangan pertanian global adalah pemenuhan kebutuhan beras yang semakin meningkat disamping cekaman abiotik yang semakin tinggi seperti serangan hama penyakit, kekeringan, dan lain sebagainya. Sementara itu, dari segi ekonomi, tuntutan peningkatan efisiensi dari pemanfaatan input produksi juga semakin besar, seperti pupuk, benih yang bermutu, teknologi budidaya, dan lain-lain.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melaui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) bekerjasama dengan The International Rice Research Institute (IRRI) dan Chinese Academy of Agricultural Science (CAAS) terlibat dalam pengembangan varietas padi masa depan yang lebih ramah lingkungan dengan pengurangan penggunaan pestisida, pupuk kimia, dan air.

Dari kerja sama tersebut dilakukan  pengujian dan perakitan galur-galur GSR untuk padi yang dapat adaptif pada kondisi lingkungan di Indonesia. Dalam kurun waktu lima tahun telah teridentifikasi dua varietas padi yaitu Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR. Kedua varietas tersebut terbukti  dapat menghasilkan gabah dengan hasil tinggi pada kondisi optimum (9-10 ton/ha), mampu mempertahankan produksi pada kondisi pupuk 80% dari rekomendasi yang diberikan serta memiliki adaptasi pada kondisi lingkungan kering dan basah (Amphibi). Di samping itu kedua varietas tersebut memiliki periode pengisian biji lebih panjang dibandingkan dengan varietas padi umumnya, sehingga rendemen berasnya lebih tinggi dan penampilan beras bening seperti kristal. Kebeningan beras yang baik ini menjadikan derajat penyosohan beras dapat dikurangi sehingga kandungan gizi seperti vitamin B, lemak dan protein di dalam lapisan ari beras dapat dipertahankan.

Kanan Inpari 42 GSR dan Kiri varietas Ciherang di Sampang Cilacap

Di dalam deskripsi kedua varietas ini terbukti agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe I dan rentan terhadap wereng coklat biotipe II dan III, namun demikian kedua varietas tersebut tahan terhadap serangan wereng batang coklat  populasi lapang. Hal tersebut terbukti ketika serangan wereng di daerah Sampang Kabupaten Cilacap mampu bertahan hidup hingga panen dibandingkan varietas Ciherang yang mengalami Puso.

Depan Ciherang terkena hopper burn dan belakang Inpari 42 GSR masih terlihat hijau

Sepanjang awal tahun tahun 2017  sampai dengan saat ini, BB Padi - Badan Litbang Pertanian telah mendistribusikan benih sumber Inpari 42 GSR dan 43 GSR sebanyak masing 1,4 ton dan  1,3  ton di sejumlah wilayah yaitu Indramayu, Karawang, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Karanganyar. Diharapkan benih tersebut terus menyebar didaerah sekitarnya dan memberikan dampak kepada kesejahteraan petani. (YN)

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi