Launching Teknologi Terbaru Badan Litbang Pertanian Indo Jarwo Transplanter & Harvester

Dalam upaya mengkomunikasikan dan mendiseminasikan hasil-hasil teknologi inovasi pertanian Badan Litbang Pertanian, pada hari ini Jum’at 8 November 2013,telah melaunching teknologi terbaru Indo Jarwo dan Indo Combine Harvester oleh Menteri Pertanian di Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Kementan, Pasar Minggu, Jakarta.

Gambar 1. Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono, saat memberikan pidato pengantar acara launching Indo Jarwo Transplanter dan Combine Harvester di Gedung PIA Kementan, Jakarta

Launching atau peresmian peluncuran perdana pemakaian kedua alat tersebut dilakukan oleh Menteri Pertanian, Bapak Dr. Suswono didamping oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Bapak Dr. Haryono, para pejabat eselon II lingkup Badan Litbang Bertanian, SDM, PSP, P2HP, para pengusaha, dan tamu undangan lainnya. Dalam pidato pengantarnya, Bapak Kepala Badan Litbang Pertanianmenyampaikan bahwa  kedua alat yang dilaunching tersebut merupakan bagianteknologi inovatif  untuk mendukung pertanian industrial serta pencapaian swasembada pangan. Usaha pemerintah  melalui Kementerian Pertanian untuk mewujudkan program penyediaan padi sebanyak 75,7 juta ton GKG pada 2010-2014dihadapkan berbagai kendala. Kendala tersebut antara lain adalah   menurunnya luas aral sawah akibat konversi pemanfaatan, dampak perubahan iklim global, terbatasnya air irigasi dan menurunnya kinerja  sebagian besar sistem irigasi, masih tingginya susut panen, kelangkaan tenaga kerja untuk sektor pertanian, dan menurunnya minat generasi muda terhadap usaha sektor pertanian. Salah satu strategi untuk mengatasi kendala tersebut antara lain dapat dilakukan dengan penerapan mekanisasi pertanian yang efektif dan efisien.

Gambar 2. Menteri Pertanian, Dr. Suswono, didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono; tengah mencoba alat Indo Jarwo Transplanter, sesaat setelah alat tersebut dilaunching di halaman Gedung PIA Kementan, Jakarta.

Jajar Legowo (Jarwo) & Indo Jarwo Transplanter

Salah satu metode peningkatan produktivitas padi yang telah direkomendasikan oleh Badan Litbang Pertanian adalah penerapan tanam jajar legowo 4:1 dan jajar legowo 2:1. Metode jajar tanam legowo 2:1 mampu menghasilkan jumlah populasi tanaman 213.000 rumpun per hektar atau meningkat 33,31% disbanding dengan metode tegel (25 cm x 25 cm, populasi tanaman 160.000/ha. Peningkatan produktivitas selain disebabkan oleh peningkatan populasi tanaman, juga disebabkan oleh efek pinggiran untuk setiap baris, perbaikan iklim mikro serta kemudahan dalam pemeliharaan sehingga tanaman lebih sehat. Rata-rata peningkatan produktivitas yang dicapai oleh adanya penerapan jajar legowo di semua wilayah kerja BPTP adalah sebesar 13,83 % dibanding metode tanam tegel. Namun demikian, menurut para petani penerap metode jajar legowo bahwa ada panembahan biaya tanam per hektar lebih tinggi dibanding metode tanam konvensional (tegel 25 X 25 cm).

Menyadari adanya kenaikan biaya penanaman padi, pada metode jajar legowo, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian kemudian merancang mesin tanam padi Jajar Legowo 2:1  yang diberi nama Indo Jarwo Transplanter 2:1 yang hari ini di Launching oleh Menteri Pertanian RI (Gambar 2). Mesin tanam padi Indo Jarwo Transplanter sekaligus sebagai antisipasi pemanfaatan tindak lanjut masuknya mesin sejenis untuk penanaman padi metode tegel. Satu unit mesin tanam yang sudah ada di petani mampu menggantikan 20 tenaga kerja tanam per hektar sehingga mampu menurunkan biaya tanam sekaligus mempercepat waktu tanam.

Indo Combine Harvester

Bapak kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan pula bahwa  kendala lainnya dalam pencapaian produktivitas padi adalah susut hasil pada saat panen. Susut hasil yang terjadi saat proses panen paling rendah 10% dari total hasil yang dicapai.  Dengan menggunakan mesin panen, Indo Combine Harvester yang kali ini dilaunching maka susut panen dapat ditekan menjadi 2-5%.

Gambar 3. Menteri Pertanian, Dr. Suswono, didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono; tengah mencoba alat Indo Combine Harvester, sesaat setelah alat tersebut dilaunching di halaman Gedung PIA Kementan, Jakarta

Dijelaskannya pula bahwa satu unit mesin panen padi Indo Combine Harvester dapat memanen padi seluas 4-6 ha/hari, sehingga sangat membantu kecepatan dan efisiensi panen padi serta dapat mengurangi pemakaian tenaga kerja dari kisaran penggunaan  tenaga kerja 30-50 HOK/ha menjadi hanya 3 orang  per mesin pemanen. Susut panen yang dihasilkan mesin ini 2,6%, serta tingkat kebersihan gabah hasil panen mencapai 99,5%.  Ciri pembeda mesin panen padi Indo Combine Hervester adalah pada gaya tekan mesin ke permukaan tanah sebesar 0,13 Kg/cm2, sedangkan mesin-mesin yang ada dipasaran sebesar 0,20 Kg/cm2. Makin kecil nilai gaya tekan mesin ke permukaan tanah akan memperkecil peluang terjadinya mesin terperosok ke dalam tanah. Pertimbangan ini sangat penting karena umumnya kondisi sawah di Indonesia memiliki fasilitas infrastruktur drainasenya jelek sehingga tanahnya lembek. Selain itu dengan lebar kerja 1,2 meter,  Indo Combine Harvester sangat cocok untuk petakan sawah yang sempit.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1034
Hari kemarin2031
Minggu ini6636
Bulan ini34656
Jumlah Pengunjung858554
Online sekarang
32

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Launching Teknologi Terbaru Badan Litbang Pertanian Indo Jarwo Transplanter & Harvester

Dalam upaya mengkomunikasikan dan mendiseminasikan hasil-hasil teknologi inovasi pertanian Badan Litbang Pertanian, pada hari ini Jum’at 8 November 2013,telah melaunching teknologi terbaru Indo Jarwo dan Indo Combine Harvester oleh Menteri Pertanian di Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Kementan, Pasar Minggu, Jakarta.

Gambar 1. Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono, saat memberikan pidato pengantar acara launching Indo Jarwo Transplanter dan Combine Harvester di Gedung PIA Kementan, Jakarta

Launching atau peresmian peluncuran perdana pemakaian kedua alat tersebut dilakukan oleh Menteri Pertanian, Bapak Dr. Suswono didamping oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Bapak Dr. Haryono, para pejabat eselon II lingkup Badan Litbang Bertanian, SDM, PSP, P2HP, para pengusaha, dan tamu undangan lainnya. Dalam pidato pengantarnya, Bapak Kepala Badan Litbang Pertanianmenyampaikan bahwa  kedua alat yang dilaunching tersebut merupakan bagianteknologi inovatif  untuk mendukung pertanian industrial serta pencapaian swasembada pangan. Usaha pemerintah  melalui Kementerian Pertanian untuk mewujudkan program penyediaan padi sebanyak 75,7 juta ton GKG pada 2010-2014dihadapkan berbagai kendala. Kendala tersebut antara lain adalah   menurunnya luas aral sawah akibat konversi pemanfaatan, dampak perubahan iklim global, terbatasnya air irigasi dan menurunnya kinerja  sebagian besar sistem irigasi, masih tingginya susut panen, kelangkaan tenaga kerja untuk sektor pertanian, dan menurunnya minat generasi muda terhadap usaha sektor pertanian. Salah satu strategi untuk mengatasi kendala tersebut antara lain dapat dilakukan dengan penerapan mekanisasi pertanian yang efektif dan efisien.

Gambar 2. Menteri Pertanian, Dr. Suswono, didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono; tengah mencoba alat Indo Jarwo Transplanter, sesaat setelah alat tersebut dilaunching di halaman Gedung PIA Kementan, Jakarta.

Jajar Legowo (Jarwo) & Indo Jarwo Transplanter

Salah satu metode peningkatan produktivitas padi yang telah direkomendasikan oleh Badan Litbang Pertanian adalah penerapan tanam jajar legowo 4:1 dan jajar legowo 2:1. Metode jajar tanam legowo 2:1 mampu menghasilkan jumlah populasi tanaman 213.000 rumpun per hektar atau meningkat 33,31% disbanding dengan metode tegel (25 cm x 25 cm, populasi tanaman 160.000/ha. Peningkatan produktivitas selain disebabkan oleh peningkatan populasi tanaman, juga disebabkan oleh efek pinggiran untuk setiap baris, perbaikan iklim mikro serta kemudahan dalam pemeliharaan sehingga tanaman lebih sehat. Rata-rata peningkatan produktivitas yang dicapai oleh adanya penerapan jajar legowo di semua wilayah kerja BPTP adalah sebesar 13,83 % dibanding metode tanam tegel. Namun demikian, menurut para petani penerap metode jajar legowo bahwa ada panembahan biaya tanam per hektar lebih tinggi dibanding metode tanam konvensional (tegel 25 X 25 cm).

Menyadari adanya kenaikan biaya penanaman padi, pada metode jajar legowo, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian kemudian merancang mesin tanam padi Jajar Legowo 2:1  yang diberi nama Indo Jarwo Transplanter 2:1 yang hari ini di Launching oleh Menteri Pertanian RI (Gambar 2). Mesin tanam padi Indo Jarwo Transplanter sekaligus sebagai antisipasi pemanfaatan tindak lanjut masuknya mesin sejenis untuk penanaman padi metode tegel. Satu unit mesin tanam yang sudah ada di petani mampu menggantikan 20 tenaga kerja tanam per hektar sehingga mampu menurunkan biaya tanam sekaligus mempercepat waktu tanam.

Indo Combine Harvester

Bapak kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan pula bahwa  kendala lainnya dalam pencapaian produktivitas padi adalah susut hasil pada saat panen. Susut hasil yang terjadi saat proses panen paling rendah 10% dari total hasil yang dicapai.  Dengan menggunakan mesin panen, Indo Combine Harvester yang kali ini dilaunching maka susut panen dapat ditekan menjadi 2-5%.

Gambar 3. Menteri Pertanian, Dr. Suswono, didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono; tengah mencoba alat Indo Combine Harvester, sesaat setelah alat tersebut dilaunching di halaman Gedung PIA Kementan, Jakarta

Dijelaskannya pula bahwa satu unit mesin panen padi Indo Combine Harvester dapat memanen padi seluas 4-6 ha/hari, sehingga sangat membantu kecepatan dan efisiensi panen padi serta dapat mengurangi pemakaian tenaga kerja dari kisaran penggunaan  tenaga kerja 30-50 HOK/ha menjadi hanya 3 orang  per mesin pemanen. Susut panen yang dihasilkan mesin ini 2,6%, serta tingkat kebersihan gabah hasil panen mencapai 99,5%.  Ciri pembeda mesin panen padi Indo Combine Hervester adalah pada gaya tekan mesin ke permukaan tanah sebesar 0,13 Kg/cm2, sedangkan mesin-mesin yang ada dipasaran sebesar 0,20 Kg/cm2. Makin kecil nilai gaya tekan mesin ke permukaan tanah akan memperkecil peluang terjadinya mesin terperosok ke dalam tanah. Pertimbangan ini sangat penting karena umumnya kondisi sawah di Indonesia memiliki fasilitas infrastruktur drainasenya jelek sehingga tanahnya lembek. Selain itu dengan lebar kerja 1,2 meter,  Indo Combine Harvester sangat cocok untuk petakan sawah yang sempit.

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi