Tanam Padi Serentak

Pada saat workshop MRTL telah dilontarkan beberapa istilah tentang tanam padi bersama yaitu serempak, serentak, dan berjamaah.  Dua istilah pertama banyak diperdebatkan ada yang ingin istilah serentak dan ada juga yang ingin istilah serempak.   Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (Balai Pustaka, 1999) menunjukkan bahwa  serempak (synchronously)  adalah kata benda diberi arti bersama-sama  atau serentak, berhubungan dengan saat yang sama dan tiba-tiba.  Serempak dikaitkan dengan serangan serempak, datang serempak, maju serempak.

Serentak (simultaneously) adalah kata benda yang berarti bersama-sama  tentang gerakan atau waktu dan serentak diartikan juga serempak, seketika itu juga dilaksanakan secara spontan, misal mereka serentak meninggalkan pekerjaannya atau hadirin serentak menjawab tanda setuju.  Di lain pihak  berjamaah (congregation) adalah kata benda yang diberi arti bersama-sama, misal solat berjamaah.  

Dua kata serempak dan serentak adalah reversible dapat diartikan bolak-balik sama Kata serentak lebih condong kepada gerakannya dalam ruang dan waktu, sedangkan istilah serempak mirip dengan istilah berjamaah.   Namun demikian berjamaah mempunyai nilai yang lebih dari dua istilah terdahulu, yaitu tersirat ikatan jamaah antar stake holder yang didalamnya mengandung keserempakan dan gerakan serentak. Oleh karena itu istilah berjamaah untuk tanam bersama-sama. 

Tanam padi serentak sudah dilaksanakan sejak Prima Tani tahun 2007 dan tanam padi berjamaah terstruktur sebagai terobosan baru pengendalian hama dan penyakit yang dimulai setelah (KLB) serangan WBC tahun 2009 di Jalur Pantura.  Tanam padi berjamaah didasarkan kepada berpikir normatif, masa depan bangsa dan pemecahan masalah produksi padi menghadapi ledakan jumlah penduduk.   Kenapa hama meledak, jawabnya adalah adanya waktu tanam padi yang tidak beratur/bersamaan karena petani saling mendahului yang menyebabkan hama selalu ada sehingga terjadi akumulasi populasi hama pada tanam padi yang tidak berjamaah.   Kalau dianalisis didapat beberapa hal yang menjadi penyebab ledakan hama di antaranya:

  • Perubahan iklim yang diduga telah merubah proses fisiologis tanaman yang berpengaruh terhadap respon hama terhadap tanaman padi, serta anomali iklim  La Nina dan siklus 12 tahunan ledakan WBC (Baehaki et al., 2010b)
  • Adanya air selalu mengalir dan harga yang menjanjikan sehingga tanam padi tidak berjamaah
  • Banyak varietas padi rentan (IR42, Cilamaya, hibrida, ketan) sebagai pemicu ledakan WBC.
  • Praktek budidaya (khusus pemakaian nitrogen yang berlebihan dan pengairan selalu tergenang sepanjang fase pertumbuhan tanaman padi)
  • Penggunaan insektisida tidak akurat, pengurangan dosis dan konsentrasi pemakaian insektisida
  • Melemahnya disiplin monitoring menyebabkan pengendalian tidak dilakukan pada saat ambang ekonomi, namun dilakukan pada ambang luka ekonomi
  • Perubahan biotipe WBC dan patahnya ketahanan varietas padi
  • Laju pertumbuhan intrinsik WBC
  • PHT kurang diterapkan dan kurang menghargai penyuluh
  • Resistensi WBC terhadap insektisida
  • Pengendalian  di daerah hot spot kurang berhasil
  • Munculnya penyakit  kerdil hampa, bersama penyakit kerdil rumput tipe 2 tidak terditeksi
  • Hilangnya sebagian rantai makanan

 

Penyakit blas yang menyerang tanaman padi

Tanaman padi terserang Hawar Daun Bakteri (HDB)

 Perubahan iklim global mengakibatkan terjadinya banjir, kekeringan dan serangan hama di beberapa wilayah Indonesia

 

Kekeringan sering mengancam tanaman padi pada lahan sawah tadah hujan, khususnya pada musim tanam kedua (MT II) atau pada MK I, petani biasanya menanam padi gogo rancah tanpa olah tanah. Praktik ini memungkinkan tanam lebih awal pada MT II, dengan harapan tanaman dapat terhindar dari kekeringan pada MK. Lebih dari 300.000 ha lahan sawah rusak akibat banjir setiap tahun, sehingga diperlukan teknologi untuk mengurangi kerugian akibat rendaman yang merupakan dampak dari banjir (Puslitbang Tanaman Pangan, 2010).

Perubahan iklim juga dapat mengubah pola perkembangan dan dinamika populasi (OPT). Pada MT 2010, WBC merusak sebagian areal pertanaman padi di pantai utara (Pantura) Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan kerugian yang cukup besar. Di Sukamandi, Jawa Barat, misalnya, lebih dari 350 ha pertanaman padi berumur 15-30 hari harus dieradikasi dan ditanam ulang akibat serangan hama WBC. Hal ini dipicu oleh kurangnya pengetahuan petani tentang teknik pengendalian hama yang berbahaya ini, yang mengakibatkan terjadinya resurgensi. Pada MH 2009/2010 dan MK 2010, luas pertanaman padi yang terserang, penyakit kerdil hampa, dan kerdil rumput mencapai 128.738 ha, mulai dari Propinsi Banten hingga Jawa Timur, 4.602 ha di antaranya puso. Angka ini melampaui luas serangan pada saat La Nina 1998, saat itu WBC menyerang pertanaman padi seluas 115.484 ha di Jalur Pantura,  4.874 ha di antaranya puso (Baehaki, 2011).

Tidak hanya di Indonesia, WBC juga menyerang pertanaman padi di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea. Hama ini menyebar luas di wilayah palaeartik (Cina, Jepang dan Korea), wilayah oriental  (Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Filipina), dan wilayah Australian (Australia, Kep. Fiji, Kaledonia, Kep. Solomon, dan Papua Nugini). Di Indonesia, luas pertanaman padi yang terserang WBC dalam periode 2001-2005 berturut-turut 8.949 ha, 8.573 ha, 10.349 ha, 11.746 ha, dan 47.360 ha. Dalam periode 2006-2008, serangan hama WBC relatif menurun berturut-turut menjadi 28.421 ha, 35.987 ha, dan 24.152 ha, kemudian meningkat pada kurun waktu 2009-2011 berturut-turut menjadi 47.473 ha, 137.768 ha, dan 218.060 ha (Baehaki dan Mejaya, 2011) .

 Ancaman kekeringan, kebanjiran, dan serangan hama penyakit pada tanaman padi dapat dikurangi melalui penerapan teknologi irigasi, penyiapan tanah dan tanam, dan penanaman varietas yang sesuai, termasuk varietas tahan hama dan penyakit. Penanaman varietas padi genjah pada MH dan varietas sangat genjah pada MK berperan penting dalam memperpendek masa pertanaman di lapangan agar terhindar dari kekeringan pada fase produktif, khususnya pada MK.

Triangel strategi budidaya tanam padi serentak

Salah satu kendala peningkatan produksi adalah serangan hama, khususnya WBC walaupun ledakan serangannya pada 2009-2011 sudah lewat.  Wereng coklat merupakan “hama global”, karena bukan hanya kendala di Indonesia saja, tetapi juga di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea.  Posisi serangan WBC pada tahun 2011 menjadi sangat penting walaupun tanaman padi puso belum terlalu luas.  Pada tahun 2010 serangan WBC yang diikuti penyakit virus kerdil hama dan virus kerdil rumput mencapai 128.738 ha dan 4.584 ha puso. Tahun 2011 intruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono supaya produksi Nasional mencapai 70,6 juta ton GKG dan surplus  beras 10 juta ton tahun 2014.  Target produksi tahun 2011 tidak tercapai, bahkan menurun 1,1% dibanding produksi tahun 2010.   Pada tahun 2012 produksi padi Nasional ditargertkan sebesar 67,8 juta ton GKG.

Sehubungan dengan hal tersebut, pengendalian hama padi merupakan prioritas utama, karena kegagalan pengendalian hama tersebut dapat menurunkan produksi yang sangat besar.  Tekonologi pengendalian WBC sudah banyak, antara lain penyediaan varietas tahan, penggunaan musuh alami, pengkayaan musuh alami, dan insektisida, namun penerapannya di lapangan banyak yang tidak berhasil, disebabkan petani melupakan sosial kemasyarakatan di antaranya tidak ada modal dasar kesepakatan waktu tanam.   Pengendalian hama tidak dapat dilakukan orang per orang, atau hanya oleh satu lembaga saja, tetapi  harus berdasarsegitiga strategi (SOP, kebijakan pemerintah dan masyarakat)  yang dikemas dalam program aksi budidaya tanam padi berjamaah diawali dengan pasca ledakan (Baehaki, 2011b; Baehaki, 2011c; Baehaki, 2011d).

Pengendalian WBC dan hama-penyakit pada umumnya sebelum ada otonomi daerah dapat diselesaikan dengan baik, karena tinggal pijit tombol intruksi pengendalian sudah jalan.   Pada era otonomi daerah pengendalian hama tidak dapat diselesaikan  hanya dengan teknologi, karena teknologi itu barang pasip, tidak akan aktif bila tidak ada yang menggerakkan.  

Menteri Pertanian dan Dewan Pertimbangan Presiden menekankan bahwa teknik pengendalian WBC terbaru yang harus diterapkan dengan tanam padi berjamaah berlandaskan segitiga strategi pengendalian  yaitu strategi teknologi, strategi sosial, dan kebijakan pemerintah.

Triangle strategy pengendalian wereng batang coklat di Indonesia

Strategi teknologi

Masyarakat tani sebagai pengguna teknologi adalah penggerek utama teknologi. Di pihak lain harus ada strategi ketiga yang sangat penting yaitu  kebijakan pemerintah, salah satunya menata ulang pengendalian WBC dengan MRTL pasca ledakan.

Sudah banyak teknologi yang dihasilkan untuk pengendalian hama sejak varietas tahan IR64 danvarietas Inpari 13 yang tahan WBC di lapangan dan juga toleran serangan virus kerdil.  Strategi teknologi telah dituangkan dalam SOP pengendalian WBC (Baehaki, 2011e). SOP tersebut antara menyangkut pemakaian varietas tahan, tanam berjamaah, pupuk organik, tanam legowo, pengayaan musuh alami, lampu perangkap dan pola tanam, dll.

Strategi sosial

Kinerja petani ditinjau dari pengendalian hama saat ini kurang baik, karena kebanyakan petani bergerak sendiri-sendiri yang menyebabkan umur tanaman tidak seragam yang menyebabkan inokulum hama dan penyakit selalu ada. Kumulatif populasi hama pernah mencapai puncak pada tahun 2010 dan menimbulkan ledakan serangan WBC sampai puso.  Program pemerintah dengan dibentuknya poktan yang mengarah kepada gapoktan untuk mendidik petani supaya mandiri sangat bagus, namun kurang terlihat keberlanjutannya.   Salah satu penyebabnya adalah komitmen (stakeholder) baik itu dari unsur pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat agribisnis lainnya dalam mendukung upaya pembangunan padi belum maksimal. Pembangunan pangan dan pertanian pedesaan ditandai oleh introduksi teknologi yang kemudian dikenal dengan revolusi hijau  dengan menampilkan varietas unggul, pupuk buatan, mekanisasi pertanian, irigasi teknis, dan intensifikasi pertanian massal awalnya mampu mengangkat harkat-martabat penduduk desa.  Dalam strategi sosial perlu dilaksanakan dan dikembangkan pengayaan pengetahuan dan pemberdayaan petani, sinkronisasi, koordinasi, sinergisme antar stakeholder.

Menyikapi hal tersebut diatas dibutuhkan tanggung jawab dari semua pihak baik petani, pemerintah membimbing tanam padi berjamaah, dan penghasil sarana produksi.

Alur pikir yang ditampilkan setelah terbentuknya poktan dan gapoktan cenderung menjadi kelompok-kelompok yang ingin berdiri sendiri dan tidak memikirkan kelompok lainnya.  Perlu dipahami bahwa:  a) secara organisasi kelompok, poktan dan gapoktan dibenarkan berusaha mandiri dan mensejahteraan kelompoknya, b) secara organisasi kenegaraan yang lebih luas antar poktan dan gapoktan harus ada koordinasi dan sinkronisasi dalam hal bertanam padi berjamaah dalam areal yang luas disesuaikan dengan agroekosistemnya.  

Antar organisasi atau poktan sebaiknya harus saling bersinergi dilandasi modal sosial (social capital) yang sangat penting dalam konsep pembangunan pertanian menuju target pemerintah 70,6 juta ton GKG dan surplus beras 10 juta ton tahun 2014.  Tiga komponen utama yang penting dalam hal modal sosial adalah 1). kepercayaan (trust) antar komponen/anggota masyarakat yang memudahkan proses komunikasi dan pengelolaan suatu persoalan, 2). jejaring organisasi kelompok (social networking) atau jejaring individu berupa ikatan (bond) atau pertemanan (bridge)  untuk mendukung gerak aksi  kolektivitas menjadi makin sinergi, dan 3) norma-norma dan sistem nilai (norms and institutions) yang biasanya berciri lokal yang mengawal serta menjaga proses pembangunan sehingga tidak mengalami penyimpangan (Dharmawan, 2006).

Bertanam padi berjamaah telah dikemas dalam Percepatan Perluasan Pengelolaan Tanaman Terpadu (P2PTT). Kemasan P2PTT didasari gerakan tanam berjamaah Inpari 13 oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan di Polan Hardjo-Klaten-Jawa Tengah, pada MK 2011 yang berhasil dengan sukses pada 804 ha dengan hasil panen 9,3-11 t/ha GKP. Pada MH 2011/2012  dilanjutkan dengan slogan “Bali nDeso mBangun Deso” dengan pengolahan lahan secara berjamaah seluas 7000 ha  di Desa Sentono Kec. Karangdowo, Kab Klaten, Propinsi Jawa Tengah diapresiasi oleh Gubernur Jawa Tengah. Dua gerakan pencanangan tersebut merupakan realisasi MRTL yang telah dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2011 di Tegalgondo Jawa Tengah oleh BB Padi dalam upaya mengatasi serangan WBC.  Gerakan tanam padi berjamaah memperlihatkan hasil sangat spektakuler dengan tidak ada lagi serangan wereng di segitiga ledakan WBC (Klaten-Sukohardjo-Boyolali). P2PTT dilanjutkan ke Purbalingga dengan pada musim tanam yang sama dengan menanam varietas inpari 9 E, inpari 13, Inpara 2 dan Inpara 5 pada kawasan 1000 ha. Demikian juga di Jawa Barat, gerakan P2PTT telah dilaksanakan di Subang, Sukabumi dan Bandung oleh BPTP Jawa Barat.

Keterlibatan staf TNI Angkatan Darat selama program tanam berjamaah di Kabupaten Klaten, Prov. Jawa Tengah, 2011

Di lapangan perlu harmonisasi antara petugas yaitu POPT, PPL dan KCD untuk kelancaran operasional lapangan.  SOP pengendalian hama BB Padi perlu diacu oleh   POPT, PPL, dan KCD/UPTD.   Dalam pelaksanaannya keharmonisan tripartit sangat dituntut untuk membawa petani tanam berjamaah dalam satu kawasan dengan jadual waktu tanamnya diberi batasan antara tanam awal dan tanam terakhir adalah 15 hari.

Dari sisi tujuan, implementasi otonomi daerah pada dasarnya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian daerah dalam mengembangkan daerah sendiri dan diarahkan untuk peningkatan pelayanan publik dan pengembangan kreatifitas serta aparatur pemerintahan di daerah.

Dengan demikian pemerintah terutama pemerintah daerah harus membawa masyarakat untuk membangun daerahnya. Satu hal yang penting untuk digarisbawahi berkaitan dengan community relations adalah pengembangan kreatifitas masyarakat.

Selain itu tanggung jawab sosial kalangan bisnis komitmen berkelanjutan untuk berperilaku etis dan memberikan sumbangan  pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan (Natufe, 2001).  Sumbangan  pada pembangunan ekonomi untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat dapat melalui corporate social.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini76
Hari kemarin1058
Minggu ini7358
Bulan ini26959
Jumlah Pengunjung850857
Online sekarang
27

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tanam Padi Serentak

Pada saat workshop MRTL telah dilontarkan beberapa istilah tentang tanam padi bersama yaitu serempak, serentak, dan berjamaah.  Dua istilah pertama banyak diperdebatkan ada yang ingin istilah serentak dan ada juga yang ingin istilah serempak.   Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (Balai Pustaka, 1999) menunjukkan bahwa  serempak (synchronously)  adalah kata benda diberi arti bersama-sama  atau serentak, berhubungan dengan saat yang sama dan tiba-tiba.  Serempak dikaitkan dengan serangan serempak, datang serempak, maju serempak.

Serentak (simultaneously) adalah kata benda yang berarti bersama-sama  tentang gerakan atau waktu dan serentak diartikan juga serempak, seketika itu juga dilaksanakan secara spontan, misal mereka serentak meninggalkan pekerjaannya atau hadirin serentak menjawab tanda setuju.  Di lain pihak  berjamaah (congregation) adalah kata benda yang diberi arti bersama-sama, misal solat berjamaah.  

Dua kata serempak dan serentak adalah reversible dapat diartikan bolak-balik sama Kata serentak lebih condong kepada gerakannya dalam ruang dan waktu, sedangkan istilah serempak mirip dengan istilah berjamaah.   Namun demikian berjamaah mempunyai nilai yang lebih dari dua istilah terdahulu, yaitu tersirat ikatan jamaah antar stake holder yang didalamnya mengandung keserempakan dan gerakan serentak. Oleh karena itu istilah berjamaah untuk tanam bersama-sama. 

Tanam padi serentak sudah dilaksanakan sejak Prima Tani tahun 2007 dan tanam padi berjamaah terstruktur sebagai terobosan baru pengendalian hama dan penyakit yang dimulai setelah (KLB) serangan WBC tahun 2009 di Jalur Pantura.  Tanam padi berjamaah didasarkan kepada berpikir normatif, masa depan bangsa dan pemecahan masalah produksi padi menghadapi ledakan jumlah penduduk.   Kenapa hama meledak, jawabnya adalah adanya waktu tanam padi yang tidak beratur/bersamaan karena petani saling mendahului yang menyebabkan hama selalu ada sehingga terjadi akumulasi populasi hama pada tanam padi yang tidak berjamaah.   Kalau dianalisis didapat beberapa hal yang menjadi penyebab ledakan hama di antaranya:

  • Perubahan iklim yang diduga telah merubah proses fisiologis tanaman yang berpengaruh terhadap respon hama terhadap tanaman padi, serta anomali iklim  La Nina dan siklus 12 tahunan ledakan WBC (Baehaki et al., 2010b)
  • Adanya air selalu mengalir dan harga yang menjanjikan sehingga tanam padi tidak berjamaah
  • Banyak varietas padi rentan (IR42, Cilamaya, hibrida, ketan) sebagai pemicu ledakan WBC.
  • Praktek budidaya (khusus pemakaian nitrogen yang berlebihan dan pengairan selalu tergenang sepanjang fase pertumbuhan tanaman padi)
  • Penggunaan insektisida tidak akurat, pengurangan dosis dan konsentrasi pemakaian insektisida
  • Melemahnya disiplin monitoring menyebabkan pengendalian tidak dilakukan pada saat ambang ekonomi, namun dilakukan pada ambang luka ekonomi
  • Perubahan biotipe WBC dan patahnya ketahanan varietas padi
  • Laju pertumbuhan intrinsik WBC
  • PHT kurang diterapkan dan kurang menghargai penyuluh
  • Resistensi WBC terhadap insektisida
  • Pengendalian  di daerah hot spot kurang berhasil
  • Munculnya penyakit  kerdil hampa, bersama penyakit kerdil rumput tipe 2 tidak terditeksi
  • Hilangnya sebagian rantai makanan

 

Penyakit blas yang menyerang tanaman padi

Tanaman padi terserang Hawar Daun Bakteri (HDB)

 Perubahan iklim global mengakibatkan terjadinya banjir, kekeringan dan serangan hama di beberapa wilayah Indonesia

 

Kekeringan sering mengancam tanaman padi pada lahan sawah tadah hujan, khususnya pada musim tanam kedua (MT II) atau pada MK I, petani biasanya menanam padi gogo rancah tanpa olah tanah. Praktik ini memungkinkan tanam lebih awal pada MT II, dengan harapan tanaman dapat terhindar dari kekeringan pada MK. Lebih dari 300.000 ha lahan sawah rusak akibat banjir setiap tahun, sehingga diperlukan teknologi untuk mengurangi kerugian akibat rendaman yang merupakan dampak dari banjir (Puslitbang Tanaman Pangan, 2010).

Perubahan iklim juga dapat mengubah pola perkembangan dan dinamika populasi (OPT). Pada MT 2010, WBC merusak sebagian areal pertanaman padi di pantai utara (Pantura) Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan kerugian yang cukup besar. Di Sukamandi, Jawa Barat, misalnya, lebih dari 350 ha pertanaman padi berumur 15-30 hari harus dieradikasi dan ditanam ulang akibat serangan hama WBC. Hal ini dipicu oleh kurangnya pengetahuan petani tentang teknik pengendalian hama yang berbahaya ini, yang mengakibatkan terjadinya resurgensi. Pada MH 2009/2010 dan MK 2010, luas pertanaman padi yang terserang, penyakit kerdil hampa, dan kerdil rumput mencapai 128.738 ha, mulai dari Propinsi Banten hingga Jawa Timur, 4.602 ha di antaranya puso. Angka ini melampaui luas serangan pada saat La Nina 1998, saat itu WBC menyerang pertanaman padi seluas 115.484 ha di Jalur Pantura,  4.874 ha di antaranya puso (Baehaki, 2011).

Tidak hanya di Indonesia, WBC juga menyerang pertanaman padi di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea. Hama ini menyebar luas di wilayah palaeartik (Cina, Jepang dan Korea), wilayah oriental  (Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Filipina), dan wilayah Australian (Australia, Kep. Fiji, Kaledonia, Kep. Solomon, dan Papua Nugini). Di Indonesia, luas pertanaman padi yang terserang WBC dalam periode 2001-2005 berturut-turut 8.949 ha, 8.573 ha, 10.349 ha, 11.746 ha, dan 47.360 ha. Dalam periode 2006-2008, serangan hama WBC relatif menurun berturut-turut menjadi 28.421 ha, 35.987 ha, dan 24.152 ha, kemudian meningkat pada kurun waktu 2009-2011 berturut-turut menjadi 47.473 ha, 137.768 ha, dan 218.060 ha (Baehaki dan Mejaya, 2011) .

 Ancaman kekeringan, kebanjiran, dan serangan hama penyakit pada tanaman padi dapat dikurangi melalui penerapan teknologi irigasi, penyiapan tanah dan tanam, dan penanaman varietas yang sesuai, termasuk varietas tahan hama dan penyakit. Penanaman varietas padi genjah pada MH dan varietas sangat genjah pada MK berperan penting dalam memperpendek masa pertanaman di lapangan agar terhindar dari kekeringan pada fase produktif, khususnya pada MK.

Triangel strategi budidaya tanam padi serentak

Salah satu kendala peningkatan produksi adalah serangan hama, khususnya WBC walaupun ledakan serangannya pada 2009-2011 sudah lewat.  Wereng coklat merupakan “hama global”, karena bukan hanya kendala di Indonesia saja, tetapi juga di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea.  Posisi serangan WBC pada tahun 2011 menjadi sangat penting walaupun tanaman padi puso belum terlalu luas.  Pada tahun 2010 serangan WBC yang diikuti penyakit virus kerdil hama dan virus kerdil rumput mencapai 128.738 ha dan 4.584 ha puso. Tahun 2011 intruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono supaya produksi Nasional mencapai 70,6 juta ton GKG dan surplus  beras 10 juta ton tahun 2014.  Target produksi tahun 2011 tidak tercapai, bahkan menurun 1,1% dibanding produksi tahun 2010.   Pada tahun 2012 produksi padi Nasional ditargertkan sebesar 67,8 juta ton GKG.

Sehubungan dengan hal tersebut, pengendalian hama padi merupakan prioritas utama, karena kegagalan pengendalian hama tersebut dapat menurunkan produksi yang sangat besar.  Tekonologi pengendalian WBC sudah banyak, antara lain penyediaan varietas tahan, penggunaan musuh alami, pengkayaan musuh alami, dan insektisida, namun penerapannya di lapangan banyak yang tidak berhasil, disebabkan petani melupakan sosial kemasyarakatan di antaranya tidak ada modal dasar kesepakatan waktu tanam.   Pengendalian hama tidak dapat dilakukan orang per orang, atau hanya oleh satu lembaga saja, tetapi  harus berdasarsegitiga strategi (SOP, kebijakan pemerintah dan masyarakat)  yang dikemas dalam program aksi budidaya tanam padi berjamaah diawali dengan pasca ledakan (Baehaki, 2011b; Baehaki, 2011c; Baehaki, 2011d).

Pengendalian WBC dan hama-penyakit pada umumnya sebelum ada otonomi daerah dapat diselesaikan dengan baik, karena tinggal pijit tombol intruksi pengendalian sudah jalan.   Pada era otonomi daerah pengendalian hama tidak dapat diselesaikan  hanya dengan teknologi, karena teknologi itu barang pasip, tidak akan aktif bila tidak ada yang menggerakkan.  

Menteri Pertanian dan Dewan Pertimbangan Presiden menekankan bahwa teknik pengendalian WBC terbaru yang harus diterapkan dengan tanam padi berjamaah berlandaskan segitiga strategi pengendalian  yaitu strategi teknologi, strategi sosial, dan kebijakan pemerintah.

Triangle strategy pengendalian wereng batang coklat di Indonesia

Strategi teknologi

Masyarakat tani sebagai pengguna teknologi adalah penggerek utama teknologi. Di pihak lain harus ada strategi ketiga yang sangat penting yaitu  kebijakan pemerintah, salah satunya menata ulang pengendalian WBC dengan MRTL pasca ledakan.

Sudah banyak teknologi yang dihasilkan untuk pengendalian hama sejak varietas tahan IR64 danvarietas Inpari 13 yang tahan WBC di lapangan dan juga toleran serangan virus kerdil.  Strategi teknologi telah dituangkan dalam SOP pengendalian WBC (Baehaki, 2011e). SOP tersebut antara menyangkut pemakaian varietas tahan, tanam berjamaah, pupuk organik, tanam legowo, pengayaan musuh alami, lampu perangkap dan pola tanam, dll.

Strategi sosial

Kinerja petani ditinjau dari pengendalian hama saat ini kurang baik, karena kebanyakan petani bergerak sendiri-sendiri yang menyebabkan umur tanaman tidak seragam yang menyebabkan inokulum hama dan penyakit selalu ada. Kumulatif populasi hama pernah mencapai puncak pada tahun 2010 dan menimbulkan ledakan serangan WBC sampai puso.  Program pemerintah dengan dibentuknya poktan yang mengarah kepada gapoktan untuk mendidik petani supaya mandiri sangat bagus, namun kurang terlihat keberlanjutannya.   Salah satu penyebabnya adalah komitmen (stakeholder) baik itu dari unsur pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat agribisnis lainnya dalam mendukung upaya pembangunan padi belum maksimal. Pembangunan pangan dan pertanian pedesaan ditandai oleh introduksi teknologi yang kemudian dikenal dengan revolusi hijau  dengan menampilkan varietas unggul, pupuk buatan, mekanisasi pertanian, irigasi teknis, dan intensifikasi pertanian massal awalnya mampu mengangkat harkat-martabat penduduk desa.  Dalam strategi sosial perlu dilaksanakan dan dikembangkan pengayaan pengetahuan dan pemberdayaan petani, sinkronisasi, koordinasi, sinergisme antar stakeholder.

Menyikapi hal tersebut diatas dibutuhkan tanggung jawab dari semua pihak baik petani, pemerintah membimbing tanam padi berjamaah, dan penghasil sarana produksi.

Alur pikir yang ditampilkan setelah terbentuknya poktan dan gapoktan cenderung menjadi kelompok-kelompok yang ingin berdiri sendiri dan tidak memikirkan kelompok lainnya.  Perlu dipahami bahwa:  a) secara organisasi kelompok, poktan dan gapoktan dibenarkan berusaha mandiri dan mensejahteraan kelompoknya, b) secara organisasi kenegaraan yang lebih luas antar poktan dan gapoktan harus ada koordinasi dan sinkronisasi dalam hal bertanam padi berjamaah dalam areal yang luas disesuaikan dengan agroekosistemnya.  

Antar organisasi atau poktan sebaiknya harus saling bersinergi dilandasi modal sosial (social capital) yang sangat penting dalam konsep pembangunan pertanian menuju target pemerintah 70,6 juta ton GKG dan surplus beras 10 juta ton tahun 2014.  Tiga komponen utama yang penting dalam hal modal sosial adalah 1). kepercayaan (trust) antar komponen/anggota masyarakat yang memudahkan proses komunikasi dan pengelolaan suatu persoalan, 2). jejaring organisasi kelompok (social networking) atau jejaring individu berupa ikatan (bond) atau pertemanan (bridge)  untuk mendukung gerak aksi  kolektivitas menjadi makin sinergi, dan 3) norma-norma dan sistem nilai (norms and institutions) yang biasanya berciri lokal yang mengawal serta menjaga proses pembangunan sehingga tidak mengalami penyimpangan (Dharmawan, 2006).

Bertanam padi berjamaah telah dikemas dalam Percepatan Perluasan Pengelolaan Tanaman Terpadu (P2PTT). Kemasan P2PTT didasari gerakan tanam berjamaah Inpari 13 oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan di Polan Hardjo-Klaten-Jawa Tengah, pada MK 2011 yang berhasil dengan sukses pada 804 ha dengan hasil panen 9,3-11 t/ha GKP. Pada MH 2011/2012  dilanjutkan dengan slogan “Bali nDeso mBangun Deso” dengan pengolahan lahan secara berjamaah seluas 7000 ha  di Desa Sentono Kec. Karangdowo, Kab Klaten, Propinsi Jawa Tengah diapresiasi oleh Gubernur Jawa Tengah. Dua gerakan pencanangan tersebut merupakan realisasi MRTL yang telah dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2011 di Tegalgondo Jawa Tengah oleh BB Padi dalam upaya mengatasi serangan WBC.  Gerakan tanam padi berjamaah memperlihatkan hasil sangat spektakuler dengan tidak ada lagi serangan wereng di segitiga ledakan WBC (Klaten-Sukohardjo-Boyolali). P2PTT dilanjutkan ke Purbalingga dengan pada musim tanam yang sama dengan menanam varietas inpari 9 E, inpari 13, Inpara 2 dan Inpara 5 pada kawasan 1000 ha. Demikian juga di Jawa Barat, gerakan P2PTT telah dilaksanakan di Subang, Sukabumi dan Bandung oleh BPTP Jawa Barat.

Keterlibatan staf TNI Angkatan Darat selama program tanam berjamaah di Kabupaten Klaten, Prov. Jawa Tengah, 2011

Di lapangan perlu harmonisasi antara petugas yaitu POPT, PPL dan KCD untuk kelancaran operasional lapangan.  SOP pengendalian hama BB Padi perlu diacu oleh   POPT, PPL, dan KCD/UPTD.   Dalam pelaksanaannya keharmonisan tripartit sangat dituntut untuk membawa petani tanam berjamaah dalam satu kawasan dengan jadual waktu tanamnya diberi batasan antara tanam awal dan tanam terakhir adalah 15 hari.

Dari sisi tujuan, implementasi otonomi daerah pada dasarnya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian daerah dalam mengembangkan daerah sendiri dan diarahkan untuk peningkatan pelayanan publik dan pengembangan kreatifitas serta aparatur pemerintahan di daerah.

Dengan demikian pemerintah terutama pemerintah daerah harus membawa masyarakat untuk membangun daerahnya. Satu hal yang penting untuk digarisbawahi berkaitan dengan community relations adalah pengembangan kreatifitas masyarakat.

Selain itu tanggung jawab sosial kalangan bisnis komitmen berkelanjutan untuk berperilaku etis dan memberikan sumbangan  pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan (Natufe, 2001).  Sumbangan  pada pembangunan ekonomi untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat dapat melalui corporate social.

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:179

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1044

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:471

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi