Petrokimia Gresik Kembangkan Benih Padi Unggul

Cilacap -Untuk ikut membantu pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan percepatan produksi pangan Nasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pupuk PT Petrokimia Gresik (PKG) mengembangkan benih padi hibrida varietas Hipa 18.

Benih tersebut mempunyai keunggulan lebih tahan terhadap penyakit blas, hama wereng dan waktu panen yang lebih singkat serta bulir padi yang dihasilkan lebih banyak ditambah tekstur nasi yang dihasilkan padi tersebut lebih pulen.

Dirut Petrokimia Gresik, Nugroho Christijanto, mengatakan jika inovasi dan pengembangan benih merupakan salah satu komponen utama pencapaian swasembada pangan karena benih sangat mempengaruhi hasil panen, maka dari itu pihaknya mengembangkan benih padi hibrida varietas Hipa 18 yang merupakan benih padi kedua yang dikembangkan bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian setelah sebelumnya pihaknya mengembangkan bibit padi Petroseed.

"Kita punya dua (bibit unggul), pertama Petroseed yang babonannya Ciherang, kedua yang ini, hibrida," katanya usai panen padi Hibrida varietas Hipa 18 di lahan demonstasi plot (demplot) Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu, (12/3/2016).

Menurut dia, benih padi hipa 18 tersebut ditanam melalui kerjasama kemitraan dengan kelompok tani di beberapa daerah penghasil padi di Jawa Tengah. Untuk benih padi hipa 18 hanya membutuhkan sekitar 15 kilogram benih untuk 1 hentar lahan.

Berdasarkan hasil panen ubinan (14 meter persegi) pada lahan demplot seluas 0,7 hektar di Desa Mernek dapat menghasilnya sekitar 13 ton per hektar. Tapi jika hasil panen ubinan tersebut dikurangi dengan ukuran tanggul dan sebagainya, hasil panen padi Hipa 18 diperkirakan bisa mencapai 10,7 ton per hektar.

"Ini sudah jauh di atas ekspektasi kami yang sekitar 10 ton per hektar. Ini hasil panen kami yang kedua setelah panen di Malang, Jawa Timur, hasilnya 10,2 ton per hektar," jelasnya.

Dia menjelaskan, benih padi Hipa 18 tersebut rencananya akan diluncurkan sekitar tanggal 21 Maret 2016 setelah semua proses legal formalnya selesai. Untuk awal peluncuran, pihaknya akan menyiapkan sebanyak 100 ton benih padi Hipa 18 yang akan dipasarkan kepada petani.

"Kami bekerja sama dengan mitra penangkar benih untuk menjaga ketersediaan benih Hipa 18 karena kami tidak punya lahan sendiri," jelasnya.

Setelah di Cilacap, pihaknya akan panen padi hipa 18 di Kediri, Jawa Timur, dan Pati, Jawa Tengah.

Sementara menurut Kuswanto, seorang petani di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap mengatakan jika para petani di desanya sangat tertarik untuk menanam padi hipa18 karena hasil panen mampu mencapai 10 ton per hektar dari sebelum menggunakan bibit padi hipa 18 yang hanya 6 ton per hektar.

"Ini hasil panennya mampu di atas 10 ton per hektar. Rendemennya bagus dan harga gabah di pasaran sekarang mencapai Rp. 3.900 per kilogram," kata Kuswanto.

Dia mengungkapkan, hal tersebut diketahui dari hasil panen petani lain di Desa Mernek yang tidak menanam padi Hipa 18 pada musim tanam Oktober-Maret hanya berkisar 3-4 ton per hektar karena banyak yang rebah terkena angin dan hujan serta serangan hama dan penyakit tanaman.

"Pada musim tanam kali ini memang cuacanya cukup ekstrem namun kami bisa buktikam hasilnya bagus. Pada musim tanam mendatang (April-September), saya yakin hasilnya bisa lebih bagus lagi," ujar dia yang juga Ketua Pos Penyuluhan Desa Mernek.

Hasil produksi padi hipa 18 lebih tinggi jika dibandingkan dengan padi nonhibrida, bahkan, padi Hipa 18 juga tahan terhadap serangan hama wereng maupun bakteri kresek atau hawar daun.

"Saya mengharapkan padi hibrida ini bisa diterima oleh petani secara umum agar produksinya lebih bagus, di atas 10 ton per hektar, sehingga swasembada pangan bisa tercapai," ungkapnya.

Sumber: Arbi Anugrah - detikfinance

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini10
Hari kemarin2473
Minggu ini2483
Bulan ini50663
Jumlah Pengunjung968656
Online sekarang
14

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Petrokimia Gresik Kembangkan Benih Padi Unggul

Cilacap -Untuk ikut membantu pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan percepatan produksi pangan Nasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pupuk PT Petrokimia Gresik (PKG) mengembangkan benih padi hibrida varietas Hipa 18.

Benih tersebut mempunyai keunggulan lebih tahan terhadap penyakit blas, hama wereng dan waktu panen yang lebih singkat serta bulir padi yang dihasilkan lebih banyak ditambah tekstur nasi yang dihasilkan padi tersebut lebih pulen.

Dirut Petrokimia Gresik, Nugroho Christijanto, mengatakan jika inovasi dan pengembangan benih merupakan salah satu komponen utama pencapaian swasembada pangan karena benih sangat mempengaruhi hasil panen, maka dari itu pihaknya mengembangkan benih padi hibrida varietas Hipa 18 yang merupakan benih padi kedua yang dikembangkan bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian setelah sebelumnya pihaknya mengembangkan bibit padi Petroseed.

"Kita punya dua (bibit unggul), pertama Petroseed yang babonannya Ciherang, kedua yang ini, hibrida," katanya usai panen padi Hibrida varietas Hipa 18 di lahan demonstasi plot (demplot) Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu, (12/3/2016).

Menurut dia, benih padi hipa 18 tersebut ditanam melalui kerjasama kemitraan dengan kelompok tani di beberapa daerah penghasil padi di Jawa Tengah. Untuk benih padi hipa 18 hanya membutuhkan sekitar 15 kilogram benih untuk 1 hentar lahan.

Berdasarkan hasil panen ubinan (14 meter persegi) pada lahan demplot seluas 0,7 hektar di Desa Mernek dapat menghasilnya sekitar 13 ton per hektar. Tapi jika hasil panen ubinan tersebut dikurangi dengan ukuran tanggul dan sebagainya, hasil panen padi Hipa 18 diperkirakan bisa mencapai 10,7 ton per hektar.

"Ini sudah jauh di atas ekspektasi kami yang sekitar 10 ton per hektar. Ini hasil panen kami yang kedua setelah panen di Malang, Jawa Timur, hasilnya 10,2 ton per hektar," jelasnya.

Dia menjelaskan, benih padi Hipa 18 tersebut rencananya akan diluncurkan sekitar tanggal 21 Maret 2016 setelah semua proses legal formalnya selesai. Untuk awal peluncuran, pihaknya akan menyiapkan sebanyak 100 ton benih padi Hipa 18 yang akan dipasarkan kepada petani.

"Kami bekerja sama dengan mitra penangkar benih untuk menjaga ketersediaan benih Hipa 18 karena kami tidak punya lahan sendiri," jelasnya.

Setelah di Cilacap, pihaknya akan panen padi hipa 18 di Kediri, Jawa Timur, dan Pati, Jawa Tengah.

Sementara menurut Kuswanto, seorang petani di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap mengatakan jika para petani di desanya sangat tertarik untuk menanam padi hipa18 karena hasil panen mampu mencapai 10 ton per hektar dari sebelum menggunakan bibit padi hipa 18 yang hanya 6 ton per hektar.

"Ini hasil panennya mampu di atas 10 ton per hektar. Rendemennya bagus dan harga gabah di pasaran sekarang mencapai Rp. 3.900 per kilogram," kata Kuswanto.

Dia mengungkapkan, hal tersebut diketahui dari hasil panen petani lain di Desa Mernek yang tidak menanam padi Hipa 18 pada musim tanam Oktober-Maret hanya berkisar 3-4 ton per hektar karena banyak yang rebah terkena angin dan hujan serta serangan hama dan penyakit tanaman.

"Pada musim tanam kali ini memang cuacanya cukup ekstrem namun kami bisa buktikam hasilnya bagus. Pada musim tanam mendatang (April-September), saya yakin hasilnya bisa lebih bagus lagi," ujar dia yang juga Ketua Pos Penyuluhan Desa Mernek.

Hasil produksi padi hipa 18 lebih tinggi jika dibandingkan dengan padi nonhibrida, bahkan, padi Hipa 18 juga tahan terhadap serangan hama wereng maupun bakteri kresek atau hawar daun.

"Saya mengharapkan padi hibrida ini bisa diterima oleh petani secara umum agar produksinya lebih bagus, di atas 10 ton per hektar, sehingga swasembada pangan bisa tercapai," ungkapnya.

Sumber: Arbi Anugrah - detikfinance

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi