Panen Perdana di Taman Teknologi Pertanian Netpala

Petani Netpala jadi Contoh untuk NTT

Kembangkan potensi pertanian seraya menciptakan kedaulatan pangan bagi masyarakat Indonesia, pemerintah RI tahun 2015 menentukan 16 provinsi sebagai pilot proyek Program Taman Teknologi Pertanian (PTT). Taman tersebut didampingi Badan Penelitian Teknologi Tanaman Padi (BPTP) di provinsi masing-masing.

PROVINSI NTT, pengembangan program itu dilakukan dikabupaten TTS, tepatnya di Desa Netpala Kecamatan Mollo Utara.

Kepala Puslitbang Holtikultura RI M. Prama Yufdy yang hadir pada acara panen perdana hasil TTP di Desa Netpala, Sabtu (13/2) mengatakan, gagasan program TTP oleh Presiden RI di munculkan dengan tujuan untuk menciptakan wirausaha baru dengan pemanfaatan teknologi. Pasalnya, di zaman sekarang petani akan sukses jika memberdayakan teknologi yang ada. Sebanyak 16 provinsi dipilih untuk memulai program tersebut, dengan harapan ke depan ilmu dan keterampilan yang diperoleh petani dari program tersebut dapat ditransfer kepada masyarakat lain disekitar desa tetangga pengembangan program TTP, maupun di kecamatan tetangga.

 “ awalnya ada kekhawatiran tentang pelaksanaan program ini tapi syukur lah apa yang diharapkan oleh bapak Presiden dan harapan kita bersama berjalan sesuai rencana,” ujar Prama Yufdy.

Meski program sudah berjalan sesuai harapan, namun belum dapat dikatakan berhasil karena program TPP akan dikatakan berhasil jika masyarakat telah mencapai kedaulatan ekonomi dan kedaulatan pangan melalui program TTP serta dapat mentrasfer ilmu dan keterampilan kepada seluruh masyarakat di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi dalam program tersebut merupakan ujung tombak dalam keberhasilan program TTP. Sehingga, petani diharapkan untuk terus meng-up date pemahaman dan keterampilan tentang inovasi teknologi yang ada.

“Pendampingnya yang dilakukan oleh BPTP hanya tiga tahun. Jadi kami harapkan pemuda ikut mengambil bagian dalam kesuksesan program ini. Sehingga, setelah masa pendampingan berakhir, petani tetap mengembangkan program ini,” harap dia.

Kepala Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat, Amirudin Pohan pada kesempatan itu mengatakan, program TTP di desa Netpala dimulai tahun 2015, namun pada awal pelaksanaan program ini dimulai dengan pengadaan sarana dan prasarana, persiapan petani dalam pelaksanaan program berbasis teknologi dan juga kelembagaan program. Karena itu, hingga saat ini pelaksanaan program TTP di Desa Netpala baru sampai pada panen perdana hasil yakni sayur-sayuran dan hasil holtikultura.

Program TTP tidak hanya mengembangkan potensi sayur-sayuran dan holtikultura berbasis teknologi dan juga pupuk angoranik, tetapi juga sampai pemasarannya.

“Kami sudah kerja sama dengan Apindo, jadi hasil sayur dan holtikultura yang dihasilkan, akan diambil langsung oleh Apindo untuk di pasarkan ke pasar-pasar yang ada di NTT. Kami juga bentuk koperasi berbadan hukum, untuk menjaga kestabilan harga hasil. Petani juga kami terus bina melalui pelatihan-pelatihan. Program ini akan dikembangkan ditempat lain di NTT, tapi tentu melalui studi kelayakan terlebih dahulu,” katanya.

Ketua DPP Apindo Provinsi NTT Fredi Ongko Saputra mengatakan, umumnya di Indonesia pemerintah hanya memikirkan bagaimana untuk mengembangakan potensi yang ada, tanpa memikirkan pemasarannya atau pasca panen. Padahal, pengembangan potensi dan juga pemasaran tidak bisa dipisahkan.

“Pasca panen juga harus ditingkatkan, sehingga hasil yang dihasilkan petani dapat tersalurkan dengan baik. Kami turun sampai di desa bukan untuk cari keuntungan saja , tapi juga bersama petani untuk menjaga kualitas hasil agar sampai dipasaran dengan baik,” ujar Fredi.

Bupati TTS Paulus VR Mella mengemukakan, masyarakat Desa Netpala merupakan masyarakat yang paling beruntung karena dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, NTT masuk nominasi dalam pengembangan program TTP dan tepatnya ada di Desa Netpala.

Desa Netpala dipilih pemerintah untuk pengembangan program TTP, karena memenuhi syarat yakni cuaca dan struktur geografis.” Orang Netpala memang sudah biasa tanam sayur, tapi hanya untuk kebutuhan sehari-hari dan sifatnya musiman. Sekarang dengan adanya TTP, bisa dikembangkan lebih besar untuk menjadikan tanaman sayur dan holtikultura sebagai penghasilan pokok,” papar Pulus.

Pelaksanaan Program TTP di Desa Netpala, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan legislatif dan juga sektor swasta dan perbankan untuk terus mengembangkan program tersebut,sehingga petani mendapat penguatan kelembagaan, peningkatan produksi dan juga pemasaran.

“Desa Netpala merupakan perintis. Jadi bisa dikembangkan ke beberapa kecamatan tetangga yang memiliki kesamaan cuaca dan geografis. Program ini akan berhasil jika sudah dinikmati oleh seluruh masyarakat TTS. Tanggung jawab yang besar bagi masyarakat Netpala, karena harus kembangkan program ini secara maksimal, jangan sampai ada masyarakat dari daerah lain datang mereka mengatakan ini sama saja dengan daerah kami. Pasti ada beda karena ada koperasi, estimasi pendapatan dan pemasaran terencana. Sekarang sudah saatnya petani menjadi raja di daerah sendiri,” Tegas Paulus.

Ketua Gapoktan Desa Netpala, Viktor Lakapu menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, karena dengan adanya program TTP masyarakat di Desa Netpala bisa mengembangkan potensi yang ada dengan maksimal.

Sebelumnya, masyarakat mengalami kendala dalam pengembangan potensi yang ada akibat keterbatasan modal, teknologi dan juga keterampilan. Namun dengan adanya program TTP, produksi masyarakat meningkat, sehingga penghasilan juga ikut naik signifikan.

“Sebelumnya penghasilan masyarakat yang menanam sayur di Desa kami satu kali tanam menghasilkan uang Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Tapi dengan program TTP, di musim tanam perdana ada anggota kelompok yang sudah dapat uang Rp 11 sampai Rp 16 juta,” sebut Viktor.

Di Desa Netpala terdapat 17 kelompok tani dengan jumlah anggota sebanyak 327 orang. Jenis kegiatan usaha yang dilakukan adalah menanam berbagai jenis sayur, tanaman pangan, jeruk dan peternakan sapi. Pengembangan program TTP di Desa Netpala sangat tepat, karena pada umum nya dimusim penghujan, daerah daratan rendah tidak berproduksi hasil sayur sehingga di Desa Netpala menjadi penyandang kebutuhan sayur untuk masyarakat di Pulau Timor.

“Kami harap, pemerintah terus mendampingi kami sampai benar-benar kami mandiri dan kami mentrasfer ilmu dari pengetahuan kami kepada mastarakat di desa lain,” tandas Viktor. (yop/ays)

Sumber: Timor Express

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini528
Hari kemarin1089
Minggu ini5915
Bulan ini25516
Jumlah Pengunjung849414
Online sekarang
29

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Panen Perdana di Taman Teknologi Pertanian Netpala

Petani Netpala jadi Contoh untuk NTT

Kembangkan potensi pertanian seraya menciptakan kedaulatan pangan bagi masyarakat Indonesia, pemerintah RI tahun 2015 menentukan 16 provinsi sebagai pilot proyek Program Taman Teknologi Pertanian (PTT). Taman tersebut didampingi Badan Penelitian Teknologi Tanaman Padi (BPTP) di provinsi masing-masing.

PROVINSI NTT, pengembangan program itu dilakukan dikabupaten TTS, tepatnya di Desa Netpala Kecamatan Mollo Utara.

Kepala Puslitbang Holtikultura RI M. Prama Yufdy yang hadir pada acara panen perdana hasil TTP di Desa Netpala, Sabtu (13/2) mengatakan, gagasan program TTP oleh Presiden RI di munculkan dengan tujuan untuk menciptakan wirausaha baru dengan pemanfaatan teknologi. Pasalnya, di zaman sekarang petani akan sukses jika memberdayakan teknologi yang ada. Sebanyak 16 provinsi dipilih untuk memulai program tersebut, dengan harapan ke depan ilmu dan keterampilan yang diperoleh petani dari program tersebut dapat ditransfer kepada masyarakat lain disekitar desa tetangga pengembangan program TTP, maupun di kecamatan tetangga.

 “ awalnya ada kekhawatiran tentang pelaksanaan program ini tapi syukur lah apa yang diharapkan oleh bapak Presiden dan harapan kita bersama berjalan sesuai rencana,” ujar Prama Yufdy.

Meski program sudah berjalan sesuai harapan, namun belum dapat dikatakan berhasil karena program TPP akan dikatakan berhasil jika masyarakat telah mencapai kedaulatan ekonomi dan kedaulatan pangan melalui program TTP serta dapat mentrasfer ilmu dan keterampilan kepada seluruh masyarakat di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi dalam program tersebut merupakan ujung tombak dalam keberhasilan program TTP. Sehingga, petani diharapkan untuk terus meng-up date pemahaman dan keterampilan tentang inovasi teknologi yang ada.

“Pendampingnya yang dilakukan oleh BPTP hanya tiga tahun. Jadi kami harapkan pemuda ikut mengambil bagian dalam kesuksesan program ini. Sehingga, setelah masa pendampingan berakhir, petani tetap mengembangkan program ini,” harap dia.

Kepala Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat, Amirudin Pohan pada kesempatan itu mengatakan, program TTP di desa Netpala dimulai tahun 2015, namun pada awal pelaksanaan program ini dimulai dengan pengadaan sarana dan prasarana, persiapan petani dalam pelaksanaan program berbasis teknologi dan juga kelembagaan program. Karena itu, hingga saat ini pelaksanaan program TTP di Desa Netpala baru sampai pada panen perdana hasil yakni sayur-sayuran dan hasil holtikultura.

Program TTP tidak hanya mengembangkan potensi sayur-sayuran dan holtikultura berbasis teknologi dan juga pupuk angoranik, tetapi juga sampai pemasarannya.

“Kami sudah kerja sama dengan Apindo, jadi hasil sayur dan holtikultura yang dihasilkan, akan diambil langsung oleh Apindo untuk di pasarkan ke pasar-pasar yang ada di NTT. Kami juga bentuk koperasi berbadan hukum, untuk menjaga kestabilan harga hasil. Petani juga kami terus bina melalui pelatihan-pelatihan. Program ini akan dikembangkan ditempat lain di NTT, tapi tentu melalui studi kelayakan terlebih dahulu,” katanya.

Ketua DPP Apindo Provinsi NTT Fredi Ongko Saputra mengatakan, umumnya di Indonesia pemerintah hanya memikirkan bagaimana untuk mengembangakan potensi yang ada, tanpa memikirkan pemasarannya atau pasca panen. Padahal, pengembangan potensi dan juga pemasaran tidak bisa dipisahkan.

“Pasca panen juga harus ditingkatkan, sehingga hasil yang dihasilkan petani dapat tersalurkan dengan baik. Kami turun sampai di desa bukan untuk cari keuntungan saja , tapi juga bersama petani untuk menjaga kualitas hasil agar sampai dipasaran dengan baik,” ujar Fredi.

Bupati TTS Paulus VR Mella mengemukakan, masyarakat Desa Netpala merupakan masyarakat yang paling beruntung karena dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, NTT masuk nominasi dalam pengembangan program TTP dan tepatnya ada di Desa Netpala.

Desa Netpala dipilih pemerintah untuk pengembangan program TTP, karena memenuhi syarat yakni cuaca dan struktur geografis.” Orang Netpala memang sudah biasa tanam sayur, tapi hanya untuk kebutuhan sehari-hari dan sifatnya musiman. Sekarang dengan adanya TTP, bisa dikembangkan lebih besar untuk menjadikan tanaman sayur dan holtikultura sebagai penghasilan pokok,” papar Pulus.

Pelaksanaan Program TTP di Desa Netpala, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan legislatif dan juga sektor swasta dan perbankan untuk terus mengembangkan program tersebut,sehingga petani mendapat penguatan kelembagaan, peningkatan produksi dan juga pemasaran.

“Desa Netpala merupakan perintis. Jadi bisa dikembangkan ke beberapa kecamatan tetangga yang memiliki kesamaan cuaca dan geografis. Program ini akan berhasil jika sudah dinikmati oleh seluruh masyarakat TTS. Tanggung jawab yang besar bagi masyarakat Netpala, karena harus kembangkan program ini secara maksimal, jangan sampai ada masyarakat dari daerah lain datang mereka mengatakan ini sama saja dengan daerah kami. Pasti ada beda karena ada koperasi, estimasi pendapatan dan pemasaran terencana. Sekarang sudah saatnya petani menjadi raja di daerah sendiri,” Tegas Paulus.

Ketua Gapoktan Desa Netpala, Viktor Lakapu menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, karena dengan adanya program TTP masyarakat di Desa Netpala bisa mengembangkan potensi yang ada dengan maksimal.

Sebelumnya, masyarakat mengalami kendala dalam pengembangan potensi yang ada akibat keterbatasan modal, teknologi dan juga keterampilan. Namun dengan adanya program TTP, produksi masyarakat meningkat, sehingga penghasilan juga ikut naik signifikan.

“Sebelumnya penghasilan masyarakat yang menanam sayur di Desa kami satu kali tanam menghasilkan uang Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Tapi dengan program TTP, di musim tanam perdana ada anggota kelompok yang sudah dapat uang Rp 11 sampai Rp 16 juta,” sebut Viktor.

Di Desa Netpala terdapat 17 kelompok tani dengan jumlah anggota sebanyak 327 orang. Jenis kegiatan usaha yang dilakukan adalah menanam berbagai jenis sayur, tanaman pangan, jeruk dan peternakan sapi. Pengembangan program TTP di Desa Netpala sangat tepat, karena pada umum nya dimusim penghujan, daerah daratan rendah tidak berproduksi hasil sayur sehingga di Desa Netpala menjadi penyandang kebutuhan sayur untuk masyarakat di Pulau Timor.

“Kami harap, pemerintah terus mendampingi kami sampai benar-benar kami mandiri dan kami mentrasfer ilmu dari pengetahuan kami kepada mastarakat di desa lain,” tandas Viktor. (yop/ays)

Sumber: Timor Express

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:173

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1025

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:463

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi