Hujan Datang, Waspadai Serbuan Hama Penyakit

Musim hujan menjadi pertanda baik bagi petani. Setelah diterapkan kemarau panjang, petani di sentra produksi pangan akhirnya bisa melepas dahaga dengan datangnya hujan. Petani pun telah bersiap mengolah tanahnya untuk menanam padi.  

irektur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Hasil Sembiring, mengatakan pentingnya semua pihak terkait meningkatkan kewaspadaan di musim penghujan 2015/2016. Pasalnya, bisa saja serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada musim hujan akan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau.

“Memang kejadian hama penyakit tahun 2015 sangat kecil, tapi harus diwaspadai bisa saja serangan wereng lebih gencar di musim hujan nanti,” kata Hasil Sembiring saat pengarahannya Workshop Konsolidasi Upsus Provinsi Jawa Barat, di Bandung, belum lama ini.

Berbeda dengan musim kema­rau, menurut Hasil, saat musim hujan pelaku usaha tani akan berhadapan dengan fenomena La-nina yang berbuntut kejadian banjir di berbagai sentra produksi padi. Kondisi kelembaban tinggi tak hanya berdampak munculnya berbagai jenis penyakit pada tanaman padi, tetapi juga serangan aneka jenis hama.

Karena itu dia meminta, petugas  di lapangan seperti  pengamat hama (POPT) harus lebih kompak.  Langkah-langkah antisipasi juga harus sudah disiapkan sedini mungkin agar kejadian serangan hama bisa segera dicegah jangan sampai meluas. “Pestisida sudah harus disiapkan di kantong-kantong produksi padi supaya bisa segera digunakan bila sudah terdeteksi terjadi serangan yang eksplosif,” katanya.

Para penyuluh pertanian serta jajaran Babinsa agar bersatu padu mendukung langkah antisipasi  yang dilakukan pengamat hama. Pengamanan tanaman dari serangan hama penyakit harus dimulai dari tingkat petani. Apalagi pemerintah telah menetapkan target produksi padi tahun 2016 sebesar 80 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik hampir 5 juta ton dari tahun 2015.

“Sasaran produksi padi kita di tahun 2016 sudah ditingkatkan bahkan secara nasional cita-cita kita ke depan bisa memproduksi sampai 80 juta ton GKG. Jadi perlu langkah pengamanan semua pihak terkait dari tingkat pusat sampai di pundak penyuluh penting dilakukan,” tuturnya.

Hasil mengingatkan, untuk mencegah serangan hama di areal pertanaman padi, segenap aparat di lapangan perlu mengingatkan dan mendorong petani melakukan  tanam serempak di samping gerakan percepatan tanam. Upaya ini tentunya harus dibarengi dengan penyediaan sarana pro­duksi seperti benih dan pupuk yang cukup di petani.

Dirjen Tanaman Pangan pa­da intinya mengimbau kepada semua pihak yang bertugas dalam melakukan pendampingan petani untuk merapatkan barisan dalam upaya perlindungan tanaman padi dari serangan. Sebab, hal itu merupakan langkah awal untuk melaksanakan  pengamanan produksi padi secara nasional. 

Spot Stop

Untuk melaksanakan kebijakan pengamanan produksi padi dari serangan OPT atau dampak perubahan iklim (DPI), Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Dwi Iswari mengatakan, pihaknya menerapkan kebijakan Spot Stop dengan sistem PHT. Spot Stop merupakan kebijakan gerakan pengendalian dini terhadap titik sumber serangan agar serangan tidak meluas.

Spot adalah titik sumber se­rangan OPT berupa populasi atau serangan OPT yang tingkatannya mendekati ambang pengendalian. Jika tidak dikendalikan, maka akan menyebar ke lahan sekitarnya. Se­jalan dengan strategi yang meng­utamakan pengendalian hayati, pengendalian Spot di sua­­tu hamparan diutamakan menggunakan sarana agens hayati.  “Bila dengan agens hayati spot terus berkembang baru dilakukan aplikasi pestisida,” ujarnya.

Dwi Iswari menjelaskan ada beberapa faktor penyebab mengapa masih saja terjadi serangan OPT di lapangan. Faktor tersebut di antaranya, terlambatnya pengamatan, terlambatnya pengen­dalian serta SOP tidak berjalan dengan baik.  

Guna mengatasi berbagai permasalahan tersebut sejauh ini pemerintah telah berupaya  melaksanakan penguatan sub sistem pengamatan dan peramalan, penguatan sub sistem SDM perlindungan, sub sistem sarana perlindungan, sistem kelembagaan perlindungan hingga penguatan sub sistem penerapan teknologi pengendalian OPT.  “Kelima sub sistem pendukung itu diharapkan bekerja bersamaan sehingga bisa sukses pelaksanaan kebijakan pengamanan produksi tanaman pangan dengan sistem PHT,” tutur Dwi Iswari.

Data Ditjen Perlindungan Tanaman Pangan, serangan OPT utama pada tanaman padi tahun 2015 hama tikus menduduki urutan pertama dengan luas serangan mencapai 94.184 hektar (ha). Di urutan kedua penggerek batang seluas 78.689 ha, menyusul serangan  blas (46.924 ha), kresek (41.330 ha),  wereng batang coklat (24.910 ha) dan terakhir serangan tungro (3.965 ha).

Penulis : Ahmad Soim Sinar tani

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini251
Hari kemarin1841
Minggu ini251
Bulan ini48431
Jumlah Pengunjung966424
Online sekarang
24

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Hujan Datang, Waspadai Serbuan Hama Penyakit

Musim hujan menjadi pertanda baik bagi petani. Setelah diterapkan kemarau panjang, petani di sentra produksi pangan akhirnya bisa melepas dahaga dengan datangnya hujan. Petani pun telah bersiap mengolah tanahnya untuk menanam padi.  

irektur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Hasil Sembiring, mengatakan pentingnya semua pihak terkait meningkatkan kewaspadaan di musim penghujan 2015/2016. Pasalnya, bisa saja serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada musim hujan akan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau.

“Memang kejadian hama penyakit tahun 2015 sangat kecil, tapi harus diwaspadai bisa saja serangan wereng lebih gencar di musim hujan nanti,” kata Hasil Sembiring saat pengarahannya Workshop Konsolidasi Upsus Provinsi Jawa Barat, di Bandung, belum lama ini.

Berbeda dengan musim kema­rau, menurut Hasil, saat musim hujan pelaku usaha tani akan berhadapan dengan fenomena La-nina yang berbuntut kejadian banjir di berbagai sentra produksi padi. Kondisi kelembaban tinggi tak hanya berdampak munculnya berbagai jenis penyakit pada tanaman padi, tetapi juga serangan aneka jenis hama.

Karena itu dia meminta, petugas  di lapangan seperti  pengamat hama (POPT) harus lebih kompak.  Langkah-langkah antisipasi juga harus sudah disiapkan sedini mungkin agar kejadian serangan hama bisa segera dicegah jangan sampai meluas. “Pestisida sudah harus disiapkan di kantong-kantong produksi padi supaya bisa segera digunakan bila sudah terdeteksi terjadi serangan yang eksplosif,” katanya.

Para penyuluh pertanian serta jajaran Babinsa agar bersatu padu mendukung langkah antisipasi  yang dilakukan pengamat hama. Pengamanan tanaman dari serangan hama penyakit harus dimulai dari tingkat petani. Apalagi pemerintah telah menetapkan target produksi padi tahun 2016 sebesar 80 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik hampir 5 juta ton dari tahun 2015.

“Sasaran produksi padi kita di tahun 2016 sudah ditingkatkan bahkan secara nasional cita-cita kita ke depan bisa memproduksi sampai 80 juta ton GKG. Jadi perlu langkah pengamanan semua pihak terkait dari tingkat pusat sampai di pundak penyuluh penting dilakukan,” tuturnya.

Hasil mengingatkan, untuk mencegah serangan hama di areal pertanaman padi, segenap aparat di lapangan perlu mengingatkan dan mendorong petani melakukan  tanam serempak di samping gerakan percepatan tanam. Upaya ini tentunya harus dibarengi dengan penyediaan sarana pro­duksi seperti benih dan pupuk yang cukup di petani.

Dirjen Tanaman Pangan pa­da intinya mengimbau kepada semua pihak yang bertugas dalam melakukan pendampingan petani untuk merapatkan barisan dalam upaya perlindungan tanaman padi dari serangan. Sebab, hal itu merupakan langkah awal untuk melaksanakan  pengamanan produksi padi secara nasional. 

Spot Stop

Untuk melaksanakan kebijakan pengamanan produksi padi dari serangan OPT atau dampak perubahan iklim (DPI), Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Dwi Iswari mengatakan, pihaknya menerapkan kebijakan Spot Stop dengan sistem PHT. Spot Stop merupakan kebijakan gerakan pengendalian dini terhadap titik sumber serangan agar serangan tidak meluas.

Spot adalah titik sumber se­rangan OPT berupa populasi atau serangan OPT yang tingkatannya mendekati ambang pengendalian. Jika tidak dikendalikan, maka akan menyebar ke lahan sekitarnya. Se­jalan dengan strategi yang meng­utamakan pengendalian hayati, pengendalian Spot di sua­­tu hamparan diutamakan menggunakan sarana agens hayati.  “Bila dengan agens hayati spot terus berkembang baru dilakukan aplikasi pestisida,” ujarnya.

Dwi Iswari menjelaskan ada beberapa faktor penyebab mengapa masih saja terjadi serangan OPT di lapangan. Faktor tersebut di antaranya, terlambatnya pengamatan, terlambatnya pengen­dalian serta SOP tidak berjalan dengan baik.  

Guna mengatasi berbagai permasalahan tersebut sejauh ini pemerintah telah berupaya  melaksanakan penguatan sub sistem pengamatan dan peramalan, penguatan sub sistem SDM perlindungan, sub sistem sarana perlindungan, sistem kelembagaan perlindungan hingga penguatan sub sistem penerapan teknologi pengendalian OPT.  “Kelima sub sistem pendukung itu diharapkan bekerja bersamaan sehingga bisa sukses pelaksanaan kebijakan pengamanan produksi tanaman pangan dengan sistem PHT,” tutur Dwi Iswari.

Data Ditjen Perlindungan Tanaman Pangan, serangan OPT utama pada tanaman padi tahun 2015 hama tikus menduduki urutan pertama dengan luas serangan mencapai 94.184 hektar (ha). Di urutan kedua penggerek batang seluas 78.689 ha, menyusul serangan  blas (46.924 ha), kresek (41.330 ha),  wereng batang coklat (24.910 ha) dan terakhir serangan tungro (3.965 ha).

Penulis : Ahmad Soim Sinar tani

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi