Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Budidaya Tanaman

Setelah beberapa tahun terakhir para profesor riset di BB Padi memasuki purna tugas, pada hari ini tanggal 17 Juli 2014. Mengahasilkan kembali profesor riset Bidang Budidaya Tanaman, yaitu, Prof. Dr. Ir. Sarlan Abdurahman, Ms

Sarlan Abdulrachman lahir di Magelang, 13 September 1952, anak kelima dari delapan bersaudara, dari keluarga Bapak Karidin Nitiredjo (alm) dan Ibu Sami Nitiredjo (almh). Menyelesaikan pendidikan SD di Tirtosari pada 1964, SMP di Mungkid pada 1967 dan SLTA Muhammadiyah I Yogyakarta pada 1970. Pendidikan S1 dijalani pada Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 1976. Program S2 dan S3 diselesaikan di universitas yang sama pada Jurusan Agronomi/Budi Daya Tanaman masing-masing pada 1983 dan 1990.

Berbagai pelatihan telah diikuti di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, pelatihan yang diikuti antara lain Integrated Nutrient Management Course (2004). Di luar negeri, pelatihan meliputi Crop Management di Taiwan (1980), Environmental Characterization di India (1992), Report Writing Course di Bangladesh (1994), Nutrient Management (1995) dan Reaching Toward Optimal Productivity (2007) masing-masing di IRRI, Filipina.

Karier sebagai PNS dimulai dari CPNS golongan III/a pada 1981 hingga menjadi Pembina Utama IV/e pada 2012. Mendapat kesempatan mengunjungi beberapa lembaga penelitian di Philrice (Filipina), TNRRI (India), dan AFACI (Korea). Menikah dengan Ir. Kunda Dulas Meihira pada tahun 1983, kini telah dikaruniai dua putra dan putri. Anak pertama Andhika Wisnu Putranto, SP. MSc dan anak kedua Savitri Sheila Mei Aristya Putri, S. Kom. Pengalaman meneliti di Badan Litbang Pertanian dimulai sejak 1977 pada Balai Penelitian Tanaman Pangan di Bogor dan sejak 1990 sampai sekarang pada Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi. Jabatan fungsional peneliti dimulai dari Ajun Peneliti Muda pada 1992, Ajun Peneliti Madya pada 1996, Peneliti Muda dan Peneliti Madya pada 1998, Ahli Peneliti Muda pada 2005, Peneliti Utama pada 2009, dan Ahli Peneliti Utama pada 2012.

Dalam orasi pengukuhanya sebagai profesor riset, beliau mempresentasikan materi orasi berjudul

“PENGELOLAANHARA SPESIFIK LOKASI MENDUKUNG PRODUKSI PADI BERKELANJUTAN”

Pengalaman dalam era Revolusi Hijau membutikan bahwa penggunaan pupuk anorganik cara terus menerus dengan takaran tinggi tidak hanya menurunkan efisiensi pemupukan, tetapi juga berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan tanah. Oleh karena itu, penerapan teknologi pemupukan perlu memperhatikan kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi, kemampuan tanaman menyerap unsur hara dan jenis pupuk yang akan digunakan.

Pengurangan subsidi pupuk telah menyebabkan harga pupuk meningkat. Harga riil yang dibayar petani di atas harga eceran tertinggi (HET). Harga pupuk kemudian meningkat seiring dengan naiknya harga BBM pada Juni 2013, sehingga biaya produksi padi semakin tinggi dan tidak seimbang dengan keuntungan yang diperoleh petani.

Penghematan pemakaian pupuk secara nasional berdampak positif terhadap penghematan energi dan devisa melalui pengurangan impor pupuk. Namun ketidakcermatan penggunaan pengurangan dosis pupuk dapat menurunkan hasil produksi. Konsep pemupukan rasional dan berimbang adalah pengelolaan hara spesifik lokasi atau PHSL yang mampu mengatasi masalah ketidakberimbangan hara di tanah dan mamberi peluang bagi peningkatan hasil padi per unit pemberian pupuk.

Dinamika dan perkembangan teknologi pemupukan padi di Indonesia dipilah ke dalam empat periode, yaitu : (1) Hingga awal abad ke-20, pupuk umumnya digunakan untuk tanaman perkebunan. Pada tahun 1920-an baru diperkenalkan pupuk hijau seperti seperti Crotalaria sap dan tanaman turi. Hasil gabah yang diperoleh pada saat itu sekitar 2 t/ha dengan dosis pupuk 20 kg N/ha. (2) Revolusi Hijau merupakan cikal bakal inovasi peningkatan produksi pangan dunia. Penggunaan varietas PB8 membuka harapan baru bagi peningkatan produksi padi. Puncak dari revolusi hijau di Indonesia adalah terwujudnya swasembada beras pada tahun 1984. Metode uji tanah Bray-1, Bray-2, NH4OAC, Olsen dan Kjelahl digunakan untuk menilai kesuburan tanah, tetapi rekomendasi pemupukan yang dipakai masih berlaku umum untuk semua wilayah di Indonesia. (3) Intensifikasi padi dengan pemupukan berat secara terus-menerus ditenggarai menjadi penyebab perubahan fisi-kimia tanah di lapisan perakaran tanaman. Metode ekstraksi hara yang semula bertujuan untuk mengukur satu unsur hara tertentu di tanah telah berkembang menjadi metode pengukuran beberapa unsur hara sekaligus. Metode Mehlich-Bowling, misalnya, dapat mengukur status hara P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, dan Mn di tanah. (4) Pemupukan padi dewasa ini berorientasi pada peningktan efisiensi penggunaan pupuk dan pelestarian lingkungan. Penggunaan pupuk N mengacu pada tingkat kehijauan daun. Sedangkan penggunaan pupuk P dan K berdasarkan status kesuburan lahan. Acuan-acuan tersebut kemudian menjadi salah satu komponen inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah.

PHSL adalah pendekatan atau cara dalam menetapkan jenis dan dosis pupuk berdasarkan status kesuburan tanah dan kebutuhan hara tanaman. Jumlah pupuk yang diberikan bersifat komplementer apabila pertumbuhan tanaman hanya ditentukan oleh pasokan hara maka keseimbangan hara optimum tercapai pada saat tanaman dapat menyerap 14, 7 kg N 2, 4kg P, & 14, 5 kg K untuk menghasilkan setiap ton gabah. Angka-angka ini kemudian dipakai sebagai dasar perhitungan kebutuhan pupuk pada tanaman padi.

Penetapan kebutuhan hara N didasarkan pada kandungan klorofil yang dapat ditentukan dengan BWD atau SPAD meter. Sedangkan pengunaan larutan HCl 25 % untuk penetapan P dan K. Berdasarkan klasifikasi P dan K tanah, dibuat peta status hara tanah rendah, sedang, dan tinggi. Peta status hara tanah dapat digunakan sebagai dasar dalam alokasi pupuk tingkat provinsi dan penyusunan rekomendasi pemupukan tingkat kecamatan. Penetapan kebutuhan pupuk P dan K juga dapat berdasarkan hasil uji PUTS atau hasil panen Petak Omisi. Hasil uji PUTS berupa rekomendasi pupuk P dan K untuk padi sawah yang dapat di cocokan pada skala warna dan dibaca pada tabel rekomendasi. Dengan data Database yang diperoleh melalui alat-alat benatu pemupukan tersebut, kebutuhan pupuk tanaman padi dapat lebih mudah ditendtukan menggunakan perangkat lunak berbasis IT, seperti HP atau dapat diakses melalui website.

Hasil penelitian pemupukan jangka panjang menyimpulkan bahwa pupuk P dapat diberikan satu kali untuk empat musim tanam dan residu pupuk K termanfaatkan hingga tujuh musim tanam kemudian. Dengan demikian pemberian pupuk P dan K dilakukan berselang seling dengan pupuk K guna meminimalisir inflasi biaya produksi Musiman. Hasil penelitian PHSL di Indonesia telah dipublikasikan dan disimpulkan bahwa penerapanya berpotensi meningkatkan hasil gabah sekitar 400 kg/ha / musim tanam dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sebesar 7 %.

Target produksi yang ditetapkan PHSL memperhatikan potensi hasil varietas, hasil riil yang dicapai dan kondisi lingkungan yang mendukung. Sebagai acuan penetapan target hasil digunakan batas atas 80 % dari potensi hasil menurut deskripsi varietas yang ditanam.

Batas kritis penetapan aplikasi pupuk N berada pada skala 4 BWD atau angka 35 pada SPAD meter, setara 1,4-1,5 g N/m2 luas daun. Pemupukan berdasarkan BWD dapat menghemat kebutuhan pupuk dan menekan biaya pemupukan 15-20 % dari takaran N yang berlaku umum tanpa menurunkan hasil. Temuan ini yang kemudian telah digunakan dasar Permentan 40 tahun 2007. Penerapan PHSL pada sistem tanam jajar legowo memberikan hasil lebih tinggi dibanding sistem tanam atau cara tanam petani. Juara legowo kini sudah menjadi salah satu pilihan Kemeneterian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas padi. Pemberian pupuk N pada lahan sawah meningkatkan emisi gas rumah kaca. Jika penggunaan pupuk N mengikuti konsep PHSL maka emisi GRK dapat ditekan.

Hasil penelitian pemupukan kerja sama antara IRRI dan Badan Litabng Pertanian telah dirumuskan menjadi pendekatan PTT. Penerapan PHSL sebagai komponen utama PTT dalam P2BN mampu meningkatkan produksi padi sehingga Indonesia berhasil mencapai swasembada  beras untukkedua kalinya pada tahun 1998. Pemberian pupuk N berdasarkan BWD telah diterapkan di percontohan penerapan PTT. Penggunaan urea lebih rendah daripada takaran rekomendasi atau kebiasaan petani. Penggunaan pupuk SP36 dan KCI juga dapat dihemat. Hal ini akan mengurangi biaya produksi dan pupuk yang dihemat dapat dimanfaatkan untuk daerah lain.

Verifikasi terhadap sofware PHSL yang diakses melalui internet dan HP di dua kabupaten di Jawa Barat dan tiga kabupaten di DIY menunjukan validitas software untuk penentuan dosis pupuk cukup baik, efisiensi agronomi mencapai >10 kg gabah/kg pupuk N yang digunakan. Varian capaian hasil maupun efisiensi N diakibatkan oleh perbedaan tehnik budi daya petani, bukan faktor pengelolaan pupuk. Sejak 2006 telah dikembangkan inovasi PHSL melalui empat perangkat teknologi informasi. Teknologi ini tersedia lima bahasa yaitu, Sunda, Jawa, Bali dan Bugis, sedangkan perangkat lunak PHSL berbasis Wet diluncurkan di Indonesia pada Januari 2011 oleh menteri pertanian. Perangkat lunak ini bermanfaat untuk memperbaiki teknik pengelolaan pupuk, menentukan target hasil, memberkan acuan rekomendasi pupuk dan saran strategi pemupukan yang efisien.

Jadi, Revolusi Hijau telah mendorong petani untuk terbiasa menggunkan pupuk. Penerapan inovasi PHSL menjadi terobosan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.dukungan human Capital yang berkualitas, memiliki ilmu pengetahuan , skill, loyal, imajinatif, dan dedikatif untuk mewujudkan ketahuan nasional ke depan. 

Acara tersebut juga berlangsung sambutan dari Menteri Pertanian yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang Petanian, DR. Haryono. Dalam penyampaian diucapkan selamat kepada ketiga peserta pengukuhan profesor riset serta memberikan himbauan bahwa pengukuhan tersebut telah menjadi momentum dimulainnya proses perencanaan dan kegiatan jangka panjang pertanian 2015-2045 dan pembangunan 4 tahun 2015-2019 yang dibuat dengan penyusunan strategi pada berbagai tingkatan.

Selain itu, Kepala Badan Litbang pertanian (DR. Haryono) juga mengomentari isi orasi  Dr. Sarlan Abdurahman tentang pentingnya menerapkan Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi dapat mendukung produksi padi berkelanjutan dan mengambil pembelajaran dari revolusi hijau terutama yang terkait dengan pemupukan. Dalam kesempatan tersebut juga terdapat hal menarik yang disambut tawa tamu undangan ketika Dr. Haryono bertanya kenapa teknologi PHSL yang berbasis Hand Phone hanya tersedia 5 bahasa yaitu Indonesia, Sunda , Jawa, Bali dan Bugis. Menurut beliau perlu tambahan bahasa Madura canda kepala badan.

 

 

 

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini103
Hari kemarin658
Minggu ini5644
Bulan ini26635
Jumlah Pengunjung776275
Online sekarang
23

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Budidaya Tanaman

Setelah beberapa tahun terakhir para profesor riset di BB Padi memasuki purna tugas, pada hari ini tanggal 17 Juli 2014. Mengahasilkan kembali profesor riset Bidang Budidaya Tanaman, yaitu, Prof. Dr. Ir. Sarlan Abdurahman, Ms

Sarlan Abdulrachman lahir di Magelang, 13 September 1952, anak kelima dari delapan bersaudara, dari keluarga Bapak Karidin Nitiredjo (alm) dan Ibu Sami Nitiredjo (almh). Menyelesaikan pendidikan SD di Tirtosari pada 1964, SMP di Mungkid pada 1967 dan SLTA Muhammadiyah I Yogyakarta pada 1970. Pendidikan S1 dijalani pada Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 1976. Program S2 dan S3 diselesaikan di universitas yang sama pada Jurusan Agronomi/Budi Daya Tanaman masing-masing pada 1983 dan 1990.

Berbagai pelatihan telah diikuti di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, pelatihan yang diikuti antara lain Integrated Nutrient Management Course (2004). Di luar negeri, pelatihan meliputi Crop Management di Taiwan (1980), Environmental Characterization di India (1992), Report Writing Course di Bangladesh (1994), Nutrient Management (1995) dan Reaching Toward Optimal Productivity (2007) masing-masing di IRRI, Filipina.

Karier sebagai PNS dimulai dari CPNS golongan III/a pada 1981 hingga menjadi Pembina Utama IV/e pada 2012. Mendapat kesempatan mengunjungi beberapa lembaga penelitian di Philrice (Filipina), TNRRI (India), dan AFACI (Korea). Menikah dengan Ir. Kunda Dulas Meihira pada tahun 1983, kini telah dikaruniai dua putra dan putri. Anak pertama Andhika Wisnu Putranto, SP. MSc dan anak kedua Savitri Sheila Mei Aristya Putri, S. Kom. Pengalaman meneliti di Badan Litbang Pertanian dimulai sejak 1977 pada Balai Penelitian Tanaman Pangan di Bogor dan sejak 1990 sampai sekarang pada Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi. Jabatan fungsional peneliti dimulai dari Ajun Peneliti Muda pada 1992, Ajun Peneliti Madya pada 1996, Peneliti Muda dan Peneliti Madya pada 1998, Ahli Peneliti Muda pada 2005, Peneliti Utama pada 2009, dan Ahli Peneliti Utama pada 2012.

Dalam orasi pengukuhanya sebagai profesor riset, beliau mempresentasikan materi orasi berjudul

“PENGELOLAANHARA SPESIFIK LOKASI MENDUKUNG PRODUKSI PADI BERKELANJUTAN”

Pengalaman dalam era Revolusi Hijau membutikan bahwa penggunaan pupuk anorganik cara terus menerus dengan takaran tinggi tidak hanya menurunkan efisiensi pemupukan, tetapi juga berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan tanah. Oleh karena itu, penerapan teknologi pemupukan perlu memperhatikan kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi, kemampuan tanaman menyerap unsur hara dan jenis pupuk yang akan digunakan.

Pengurangan subsidi pupuk telah menyebabkan harga pupuk meningkat. Harga riil yang dibayar petani di atas harga eceran tertinggi (HET). Harga pupuk kemudian meningkat seiring dengan naiknya harga BBM pada Juni 2013, sehingga biaya produksi padi semakin tinggi dan tidak seimbang dengan keuntungan yang diperoleh petani.

Penghematan pemakaian pupuk secara nasional berdampak positif terhadap penghematan energi dan devisa melalui pengurangan impor pupuk. Namun ketidakcermatan penggunaan pengurangan dosis pupuk dapat menurunkan hasil produksi. Konsep pemupukan rasional dan berimbang adalah pengelolaan hara spesifik lokasi atau PHSL yang mampu mengatasi masalah ketidakberimbangan hara di tanah dan mamberi peluang bagi peningkatan hasil padi per unit pemberian pupuk.

Dinamika dan perkembangan teknologi pemupukan padi di Indonesia dipilah ke dalam empat periode, yaitu : (1) Hingga awal abad ke-20, pupuk umumnya digunakan untuk tanaman perkebunan. Pada tahun 1920-an baru diperkenalkan pupuk hijau seperti seperti Crotalaria sap dan tanaman turi. Hasil gabah yang diperoleh pada saat itu sekitar 2 t/ha dengan dosis pupuk 20 kg N/ha. (2) Revolusi Hijau merupakan cikal bakal inovasi peningkatan produksi pangan dunia. Penggunaan varietas PB8 membuka harapan baru bagi peningkatan produksi padi. Puncak dari revolusi hijau di Indonesia adalah terwujudnya swasembada beras pada tahun 1984. Metode uji tanah Bray-1, Bray-2, NH4OAC, Olsen dan Kjelahl digunakan untuk menilai kesuburan tanah, tetapi rekomendasi pemupukan yang dipakai masih berlaku umum untuk semua wilayah di Indonesia. (3) Intensifikasi padi dengan pemupukan berat secara terus-menerus ditenggarai menjadi penyebab perubahan fisi-kimia tanah di lapisan perakaran tanaman. Metode ekstraksi hara yang semula bertujuan untuk mengukur satu unsur hara tertentu di tanah telah berkembang menjadi metode pengukuran beberapa unsur hara sekaligus. Metode Mehlich-Bowling, misalnya, dapat mengukur status hara P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, dan Mn di tanah. (4) Pemupukan padi dewasa ini berorientasi pada peningktan efisiensi penggunaan pupuk dan pelestarian lingkungan. Penggunaan pupuk N mengacu pada tingkat kehijauan daun. Sedangkan penggunaan pupuk P dan K berdasarkan status kesuburan lahan. Acuan-acuan tersebut kemudian menjadi salah satu komponen inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah.

PHSL adalah pendekatan atau cara dalam menetapkan jenis dan dosis pupuk berdasarkan status kesuburan tanah dan kebutuhan hara tanaman. Jumlah pupuk yang diberikan bersifat komplementer apabila pertumbuhan tanaman hanya ditentukan oleh pasokan hara maka keseimbangan hara optimum tercapai pada saat tanaman dapat menyerap 14, 7 kg N 2, 4kg P, & 14, 5 kg K untuk menghasilkan setiap ton gabah. Angka-angka ini kemudian dipakai sebagai dasar perhitungan kebutuhan pupuk pada tanaman padi.

Penetapan kebutuhan hara N didasarkan pada kandungan klorofil yang dapat ditentukan dengan BWD atau SPAD meter. Sedangkan pengunaan larutan HCl 25 % untuk penetapan P dan K. Berdasarkan klasifikasi P dan K tanah, dibuat peta status hara tanah rendah, sedang, dan tinggi. Peta status hara tanah dapat digunakan sebagai dasar dalam alokasi pupuk tingkat provinsi dan penyusunan rekomendasi pemupukan tingkat kecamatan. Penetapan kebutuhan pupuk P dan K juga dapat berdasarkan hasil uji PUTS atau hasil panen Petak Omisi. Hasil uji PUTS berupa rekomendasi pupuk P dan K untuk padi sawah yang dapat di cocokan pada skala warna dan dibaca pada tabel rekomendasi. Dengan data Database yang diperoleh melalui alat-alat benatu pemupukan tersebut, kebutuhan pupuk tanaman padi dapat lebih mudah ditendtukan menggunakan perangkat lunak berbasis IT, seperti HP atau dapat diakses melalui website.

Hasil penelitian pemupukan jangka panjang menyimpulkan bahwa pupuk P dapat diberikan satu kali untuk empat musim tanam dan residu pupuk K termanfaatkan hingga tujuh musim tanam kemudian. Dengan demikian pemberian pupuk P dan K dilakukan berselang seling dengan pupuk K guna meminimalisir inflasi biaya produksi Musiman. Hasil penelitian PHSL di Indonesia telah dipublikasikan dan disimpulkan bahwa penerapanya berpotensi meningkatkan hasil gabah sekitar 400 kg/ha / musim tanam dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sebesar 7 %.

Target produksi yang ditetapkan PHSL memperhatikan potensi hasil varietas, hasil riil yang dicapai dan kondisi lingkungan yang mendukung. Sebagai acuan penetapan target hasil digunakan batas atas 80 % dari potensi hasil menurut deskripsi varietas yang ditanam.

Batas kritis penetapan aplikasi pupuk N berada pada skala 4 BWD atau angka 35 pada SPAD meter, setara 1,4-1,5 g N/m2 luas daun. Pemupukan berdasarkan BWD dapat menghemat kebutuhan pupuk dan menekan biaya pemupukan 15-20 % dari takaran N yang berlaku umum tanpa menurunkan hasil. Temuan ini yang kemudian telah digunakan dasar Permentan 40 tahun 2007. Penerapan PHSL pada sistem tanam jajar legowo memberikan hasil lebih tinggi dibanding sistem tanam atau cara tanam petani. Juara legowo kini sudah menjadi salah satu pilihan Kemeneterian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas padi. Pemberian pupuk N pada lahan sawah meningkatkan emisi gas rumah kaca. Jika penggunaan pupuk N mengikuti konsep PHSL maka emisi GRK dapat ditekan.

Hasil penelitian pemupukan kerja sama antara IRRI dan Badan Litabng Pertanian telah dirumuskan menjadi pendekatan PTT. Penerapan PHSL sebagai komponen utama PTT dalam P2BN mampu meningkatkan produksi padi sehingga Indonesia berhasil mencapai swasembada  beras untukkedua kalinya pada tahun 1998. Pemberian pupuk N berdasarkan BWD telah diterapkan di percontohan penerapan PTT. Penggunaan urea lebih rendah daripada takaran rekomendasi atau kebiasaan petani. Penggunaan pupuk SP36 dan KCI juga dapat dihemat. Hal ini akan mengurangi biaya produksi dan pupuk yang dihemat dapat dimanfaatkan untuk daerah lain.

Verifikasi terhadap sofware PHSL yang diakses melalui internet dan HP di dua kabupaten di Jawa Barat dan tiga kabupaten di DIY menunjukan validitas software untuk penentuan dosis pupuk cukup baik, efisiensi agronomi mencapai >10 kg gabah/kg pupuk N yang digunakan. Varian capaian hasil maupun efisiensi N diakibatkan oleh perbedaan tehnik budi daya petani, bukan faktor pengelolaan pupuk. Sejak 2006 telah dikembangkan inovasi PHSL melalui empat perangkat teknologi informasi. Teknologi ini tersedia lima bahasa yaitu, Sunda, Jawa, Bali dan Bugis, sedangkan perangkat lunak PHSL berbasis Wet diluncurkan di Indonesia pada Januari 2011 oleh menteri pertanian. Perangkat lunak ini bermanfaat untuk memperbaiki teknik pengelolaan pupuk, menentukan target hasil, memberkan acuan rekomendasi pupuk dan saran strategi pemupukan yang efisien.

Jadi, Revolusi Hijau telah mendorong petani untuk terbiasa menggunkan pupuk. Penerapan inovasi PHSL menjadi terobosan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.dukungan human Capital yang berkualitas, memiliki ilmu pengetahuan , skill, loyal, imajinatif, dan dedikatif untuk mewujudkan ketahuan nasional ke depan. 

Acara tersebut juga berlangsung sambutan dari Menteri Pertanian yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang Petanian, DR. Haryono. Dalam penyampaian diucapkan selamat kepada ketiga peserta pengukuhan profesor riset serta memberikan himbauan bahwa pengukuhan tersebut telah menjadi momentum dimulainnya proses perencanaan dan kegiatan jangka panjang pertanian 2015-2045 dan pembangunan 4 tahun 2015-2019 yang dibuat dengan penyusunan strategi pada berbagai tingkatan.

Selain itu, Kepala Badan Litbang pertanian (DR. Haryono) juga mengomentari isi orasi  Dr. Sarlan Abdurahman tentang pentingnya menerapkan Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi dapat mendukung produksi padi berkelanjutan dan mengambil pembelajaran dari revolusi hijau terutama yang terkait dengan pemupukan. Dalam kesempatan tersebut juga terdapat hal menarik yang disambut tawa tamu undangan ketika Dr. Haryono bertanya kenapa teknologi PHSL yang berbasis Hand Phone hanya tersedia 5 bahasa yaitu Indonesia, Sunda , Jawa, Bali dan Bugis. Menurut beliau perlu tambahan bahasa Madura canda kepala badan.

 

 

 

 

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:189

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:187

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:846

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi