Rantai Distribusi Pangan Kepanjangan, Ini Solusi Mentan

Jakarta -Harga sejumlah bahan pangan pokok seperti beras, jagung, daging sapi, daging ayam, dan sebagainya mengalami lonjakan pada awal 2016 ini. Salah satu penyebab tingginya harga pangan ini adalah, rantai pasokan yang terlalu panjang.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengungkapkan, harga pangan tetap rendah di tingkat petani, namun melambung tinggi di tingkat konsumen. Menurutnya, ada yang salah dalam rantai pasokan ini, para pedagang perantara menikmati keuntungan yang besar.

Untuk mengatasi masalah ini, Amran menyarankan agar peran Bulog diperluas, tidak hanya menangani beras saja, tapi semua komoditas pangan strategis. Bulog harus ikut mengintervensi pasar, membeli langsung dari petani dan menjualnya langsung ke masyarakat.

"Kami akan koordinasi dengan Kemendag, Bulog, ini supply chain (rantai pasokan) harus dipotong, semua komoditas. Nanti Bulog yang beli, Kementan mendukung, yang biasanya dari 8 titik menjadi 4 titik, menjadi 50%," papar Amran, dalam jumpa pers di Kantor Ditjen Hortikultura Kementan, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Dia menjelaskan, rantai pasokan dapat dipotong separuh, jika Bulog membeli langsung ke petani, membawanya ke pasar, dan menjualnya langsung ke konsumen. Cara ini diyakini Amran bisa menekan harga bahan pokok, termasuk daging sapi.

"Jadi dari petani ke Bulog, Bulog langsung ke pasar, lalu ke konsumen, jadi tinggal 4 titik. Itu solusi untuk seluruh komoditas, termasuk daging sapi," ucapnya.

Untuk jaringan pasar, Bulog dapat menggunakan Toko Tani Indonesia (TTI) yang akan dibangun hingga 1.000 unit di seluruh Indonesia pada tahun ini. "Kan ada Toko Tani Indonesia, tahun ini ada 1.000 unit, sekarang sudah ada 200," ujar Amran.

Selain membuat harga bahan pangan terjangkau untuk masyarakat, peranan Bulog sebagai stabilitator harga pangan ini juga akan membuat harga di tingkat petani terjamin. "Kalau supply chain ini kita potong 50%, ini kita mengangkat harga di tingkat petani, tapi menekan harga di tingkat konsumen. Ini harus kita benahi dari sekarang," tutupnya.

Michael Agustinus - detikfinance

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1373
Hari kemarin2644
Minggu ini6335
Bulan ini39154
Jumlah Pengunjung957147
Online sekarang
28

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Rantai Distribusi Pangan Kepanjangan, Ini Solusi Mentan

Jakarta -Harga sejumlah bahan pangan pokok seperti beras, jagung, daging sapi, daging ayam, dan sebagainya mengalami lonjakan pada awal 2016 ini. Salah satu penyebab tingginya harga pangan ini adalah, rantai pasokan yang terlalu panjang.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengungkapkan, harga pangan tetap rendah di tingkat petani, namun melambung tinggi di tingkat konsumen. Menurutnya, ada yang salah dalam rantai pasokan ini, para pedagang perantara menikmati keuntungan yang besar.

Untuk mengatasi masalah ini, Amran menyarankan agar peran Bulog diperluas, tidak hanya menangani beras saja, tapi semua komoditas pangan strategis. Bulog harus ikut mengintervensi pasar, membeli langsung dari petani dan menjualnya langsung ke masyarakat.

"Kami akan koordinasi dengan Kemendag, Bulog, ini supply chain (rantai pasokan) harus dipotong, semua komoditas. Nanti Bulog yang beli, Kementan mendukung, yang biasanya dari 8 titik menjadi 4 titik, menjadi 50%," papar Amran, dalam jumpa pers di Kantor Ditjen Hortikultura Kementan, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Dia menjelaskan, rantai pasokan dapat dipotong separuh, jika Bulog membeli langsung ke petani, membawanya ke pasar, dan menjualnya langsung ke konsumen. Cara ini diyakini Amran bisa menekan harga bahan pokok, termasuk daging sapi.

"Jadi dari petani ke Bulog, Bulog langsung ke pasar, lalu ke konsumen, jadi tinggal 4 titik. Itu solusi untuk seluruh komoditas, termasuk daging sapi," ucapnya.

Untuk jaringan pasar, Bulog dapat menggunakan Toko Tani Indonesia (TTI) yang akan dibangun hingga 1.000 unit di seluruh Indonesia pada tahun ini. "Kan ada Toko Tani Indonesia, tahun ini ada 1.000 unit, sekarang sudah ada 200," ujar Amran.

Selain membuat harga bahan pangan terjangkau untuk masyarakat, peranan Bulog sebagai stabilitator harga pangan ini juga akan membuat harga di tingkat petani terjamin. "Kalau supply chain ini kita potong 50%, ini kita mengangkat harga di tingkat petani, tapi menekan harga di tingkat konsumen. Ini harus kita benahi dari sekarang," tutupnya.

Michael Agustinus - detikfinance

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi