Pangan dan Pertanian Indonesia: Refleksi 2015 dan Prospek 2016 Petani Nikmati Harga Pangan Wajar

MENGURAI penyebab lonjakan harga pangan tidaklah sederhana. Kebutuhan pangan yang tinggi menjelang dan pada saat hari raya/libur nasional seolah menjadi alasan valid penyebab naiknya harga pangan. Jangan-jangan ini hanya persepsi rutinitas yang dibangun opini tahunan oleh orang-orang tertentu untuk mengail di air keruh. Wilayah yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan adalah di kota-kota besar, namun di wilayah-wilayah pelosok ternyata pasokan pangan dan harganya normal.

Penanganan masalah pangan tidak dapat hanya didasarkan pada pergerakan harga dalam beberapa hari, karena dipengaruhi oleh opini. Kebijakan pangan tidak bisa dilakukan dengan menempuh jalan pintas, kemudian mengimpor beras sebagai satu-satunya solusi menstabilkan harga. Perlu dipahami trend harga dari waktu ke waktu, karena komoditas pangan dalam waktu tertentu pernah jatuh dan petani menderita rugi, sedangkan pada saat tertentu harga melonjak tinggi. Karakteristik jenis pangan dan fluktuasi harga ini turut berkontribusi terhadap inflasi inilah yang menjadikan pemerintah memberikan perhatian serius.

Fakta menunjukkan terjadi anomali harga beras di tingkat eceran dengan harga gabah di petani. Berdasarkan data harga beras bulan di tingkat eceran sejak 2011 - 2015 diketahui bahwa harga beras setiap bulan cenderung naik walaupun pasokan berfluktuasi naik dan turun sesuai musimnya. Hal ini menunjukkan tidak ada korelasi antara pasokan dengan harga eceran beras. Kenaikan harga beras ini tidak dinikmati oleh petani. Harga cenderung tinggi ini bukan akibat kurangnya pasokan beras, melainkan faktor lain seperti pada 2015 tidak ada subsidi BBM sehingga biaya input naik, impor pangan dikendalikan, nilai kurs, inflasi, dan adanya kegagalan pasar di tingkat eceran. Mengatasi gejolak harga dalam kondisi pasar gagal ini semestinya dengan harga intervensi pemerintah sehingga terjadi pasar bersaing sempurna.
Kondisi sebaliknya terjadi pada harga gabah di tingkat produsen. Pasar gabah di produsen pada saat musim panen raya, harga akan jatuh dan sebaliknya pada musim gadu, harga akan naik.

Kebijakan pemerintah melindungi petani sudah tepat dengan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan diikuti pembelian gabah/beras petani langsung oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Dengan demikian, produksi petani berupa padi dari Angka Ramalan (Aram) II tahun 2015 sebesar 74,99 juta ton, jagung 19,83 juta ton, dan kedelai 982,97 ribu ton atau masing-masing naik 5,85%, 4,34%, dan 2,93% dibandingkan 2014 sudah tentu meningkatkan kesejahteraan petani, karena petani menikmati harga yang wajar dan dilindungi oleh kebijakan HPP.

Parameter bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan petani juga bisa dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada November 2015 sebesar 102,95 (di atas 100) dan lebih tinggi dibandingkan 2014. Selanjutnya, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTURTP) nasional pada November 2015 sebesar 109,38 atau naik 0,63% dibandingkan NTURTP bulan sebelumnya.

Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan berlaku pada 5 Januari 2016 tentunya akan berpengaruh terhadap pertanian, baik berpengaruh pada efisiensi biaya usaha tani maupun transportasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) untuk kegiatan proses produksi dan pascapanen membutuhkan BBM terutama jenis solar. Kebutuhan BBM untuk Alsintan diperkirakan 0,95% dari total BBM. Rencana penurunan harga solar Rp750 per liter akan menghemat biaya bahan bakar traktor roda dua sekitar Rp168.750 per unit per musim; pompa air Rp750.000 per unit per musim; power trasher Rp405.000 per unit per musim dan lainnya. Demikian juga biaya angkut hasil pertanian ke pasar akan dihemat yang besarnya tergantung jenis kendaraan dan status kepemilikan yaitu milik sendiri atau sewa.

Sumber : Kementrian Pertanian

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini109
Hari kemarin2156
Minggu ini6920
Bulan ini23545
Jumlah Pengunjung1071892
Online sekarang
15

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Pangan dan Pertanian Indonesia: Refleksi 2015 dan Prospek 2016 Petani Nikmati Harga Pangan Wajar

MENGURAI penyebab lonjakan harga pangan tidaklah sederhana. Kebutuhan pangan yang tinggi menjelang dan pada saat hari raya/libur nasional seolah menjadi alasan valid penyebab naiknya harga pangan. Jangan-jangan ini hanya persepsi rutinitas yang dibangun opini tahunan oleh orang-orang tertentu untuk mengail di air keruh. Wilayah yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan adalah di kota-kota besar, namun di wilayah-wilayah pelosok ternyata pasokan pangan dan harganya normal.

Penanganan masalah pangan tidak dapat hanya didasarkan pada pergerakan harga dalam beberapa hari, karena dipengaruhi oleh opini. Kebijakan pangan tidak bisa dilakukan dengan menempuh jalan pintas, kemudian mengimpor beras sebagai satu-satunya solusi menstabilkan harga. Perlu dipahami trend harga dari waktu ke waktu, karena komoditas pangan dalam waktu tertentu pernah jatuh dan petani menderita rugi, sedangkan pada saat tertentu harga melonjak tinggi. Karakteristik jenis pangan dan fluktuasi harga ini turut berkontribusi terhadap inflasi inilah yang menjadikan pemerintah memberikan perhatian serius.

Fakta menunjukkan terjadi anomali harga beras di tingkat eceran dengan harga gabah di petani. Berdasarkan data harga beras bulan di tingkat eceran sejak 2011 - 2015 diketahui bahwa harga beras setiap bulan cenderung naik walaupun pasokan berfluktuasi naik dan turun sesuai musimnya. Hal ini menunjukkan tidak ada korelasi antara pasokan dengan harga eceran beras. Kenaikan harga beras ini tidak dinikmati oleh petani. Harga cenderung tinggi ini bukan akibat kurangnya pasokan beras, melainkan faktor lain seperti pada 2015 tidak ada subsidi BBM sehingga biaya input naik, impor pangan dikendalikan, nilai kurs, inflasi, dan adanya kegagalan pasar di tingkat eceran. Mengatasi gejolak harga dalam kondisi pasar gagal ini semestinya dengan harga intervensi pemerintah sehingga terjadi pasar bersaing sempurna.
Kondisi sebaliknya terjadi pada harga gabah di tingkat produsen. Pasar gabah di produsen pada saat musim panen raya, harga akan jatuh dan sebaliknya pada musim gadu, harga akan naik.

Kebijakan pemerintah melindungi petani sudah tepat dengan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan diikuti pembelian gabah/beras petani langsung oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Dengan demikian, produksi petani berupa padi dari Angka Ramalan (Aram) II tahun 2015 sebesar 74,99 juta ton, jagung 19,83 juta ton, dan kedelai 982,97 ribu ton atau masing-masing naik 5,85%, 4,34%, dan 2,93% dibandingkan 2014 sudah tentu meningkatkan kesejahteraan petani, karena petani menikmati harga yang wajar dan dilindungi oleh kebijakan HPP.

Parameter bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan petani juga bisa dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada November 2015 sebesar 102,95 (di atas 100) dan lebih tinggi dibandingkan 2014. Selanjutnya, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTURTP) nasional pada November 2015 sebesar 109,38 atau naik 0,63% dibandingkan NTURTP bulan sebelumnya.

Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan berlaku pada 5 Januari 2016 tentunya akan berpengaruh terhadap pertanian, baik berpengaruh pada efisiensi biaya usaha tani maupun transportasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) untuk kegiatan proses produksi dan pascapanen membutuhkan BBM terutama jenis solar. Kebutuhan BBM untuk Alsintan diperkirakan 0,95% dari total BBM. Rencana penurunan harga solar Rp750 per liter akan menghemat biaya bahan bakar traktor roda dua sekitar Rp168.750 per unit per musim; pompa air Rp750.000 per unit per musim; power trasher Rp405.000 per unit per musim dan lainnya. Demikian juga biaya angkut hasil pertanian ke pasar akan dihemat yang besarnya tergantung jenis kendaraan dan status kepemilikan yaitu milik sendiri atau sewa.

Sumber : Kementrian Pertanian

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi