Taman Teknologi Pertanian Mollo di Netpala, NTT

Lokasi TTP Molo berada di desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terpilihnya desa ini sebagai lokasi TTP, karena memiliki point lebih tinggi dibanding sebelas desa lain (di TTS, TTU, Kupang dan Kota Kupang) yang dievaluasi menurut kriteria Bappenas. Untuk sampai lokasi TTP ini, dibutuhkan waktu 30 menit ke arah utara dari kota SoE, yaitu ibukota dari kabupaten TTS, dengan akses jalan yang agak baik karena beraspal.

Berdasarkan kondisi biofisik, desa Netpala merupakan bagian dari agroekosistem dataran tinggi iklim kering karena berada pada 900 sampai 1078 mdpl dengan musim hujan antara Desember sampai April, dan sisanya merupakan bulan kering. Kawasan ini merupakan bagian dari pegunungan Mutis di kecamatan Mollo, sehingga topografi wilayahnya adalah perbukitan dan pegunungan atau sebagian besarnya wilayahnya berlereng. Desa yang berpenduduk 1720 jiwa atau 343 kepala keluarga ini hampir sebagian besarnya bermata pencaharian sebagai petani, dengan basis ekonomi keluarganya adalah pada komoditas aneka sayuran, jeruk dan ternak.

Hasil identifikasi mengenai keberadaan desa melalui Participatory Rural Apraissal (PRA) dan Baseline Survei, kegiatan usahatani di desa ini relatif panjang dibanding waktu bulan basah. Aktivitas usahatani dimulai November sampai September dimana pada bulan-bulan ini petani setempat berfokus pada aktifitas usahatani aneka sayuran dan tanaman pangan. Tercatat bahwa, aneka sayuran yang ditanam adalah Kol, Sawi putih, sawi, wortel, terung, lombok. Hasil produksi aneka sayuran yang jatuh pada bulan-bulan musim hujan ini dipasarkan ke kota Kupang yang jaraknya 150 km dari desa ini. Dipasarkan ke kota Kupang karena, pada saat itu, suplai komoditas aneka sayuran yang biasanya berasal dari seputaran wilayah kota Kupang, tidak tersedia. Oleh karena itu usahatani aneka sayuran dari desa Netpala tergolong sebagai usahatani sayuran off-seasson. Kondisi ini yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi dari desa ini.

Selain usahatani aneka sayuran yang ditanam pada musim hujan, petani juga menanam tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah, kacang nasi, ubikayu dan ubi jalar. Hampir semua komoditas ini ditanam hanya untuk dimakan, kecuali ada sebagian hasil dari kacang tanah dan ubijalar yang dijual di sekitar pasar desa kecamatan yang berjarak 2 km dari desa. Tindakan budidaya pada usahatani tanaman pangan adalah relatif sederhana atau berbeda dengan tindakan budidaya pada tanaman aneka sayuran, dimana pengunaan eksernal input seperti penggunaan benih/bibit unngul, pupuk an-organik, pestisida, ZPT lebih menonjol penggunaannya. Perbedaaan tindakan budidaya antara usahatani tanaman pangan dan aneka sayuran dikerenakan perbedaan dalam oeirentasinya. Orientasi usahatani tanaman pangan berfokus pada penyediaan bahan pangan (food security) dan sebaliknya usahatani aneka sayuran berorientasi komersial.

Usahatani lain adalah usahatani jeruk. Berdasarkan ceritera masyarakat setempat, masa lalu desa Netpala merupakan salah satu sentra produksi jeruk keprok SoE (JKS). JKS merupakan jeruk lokal yang sudah sudah dilepas sebagai varietas jeruk unggul nasional yang memiliki nilai jual yang tinggi. Namun karena ketidakmampuan petani mengendalikan penyakit jamur diplodia batang dan phytopthora pada akar, sehingga menurunkan semangat untuk menanam. Konsekuensi dari kondisi ini ada kecenderungan terjadi penurunan populasi. Sebagian besar petani menanan Jeruk ini di pekarangan dan ada juga sebagian kecil yang memiliki lahan khusus yang ditanam dengan populasi yang relatif tinggi di luar pekarangan.

Hewan ternak yang dominan diusahakan oleh petani setempat adalah Sapi dan Babi. Hasil baseline survei yang dilakukan oleh Tim Balitbangtan pada tahun 2015, bahwa kontribusi pendapatan usahatani yang berasal dari sapi dan babi adalah berturut-turut 17% dan 1%. Kontribusi pendapatan dari ternak sapi adalah hampir menyamai pendapatan yang berasal dari jagung yakni 18 % atau berbeda hanya 1%.

Total pendapatan masyarakat setempat adalah sebesar Rp. 20.8 juta/tahun dimana kontribusi dari pendapatan dari usahatani adalah sebesar 58 % dan sisanya 42% berasal dari non usahatani. Gambaran umum mengenai kontribusi beberapa komoditas terhadap pendapatan usahatani adalah, aneka sayur sebesar 49%, ubikayu 7%, jeruk 5% dan ubijalar 1%.

Mulai 2015, melalui Kementerian Pertanian telah dirancang dan dibangun TTP di desa Netpala yang dinamai dengan TTP-MOLLO. Pembangunan dimulai dengan membuat grand design kawasan dengan menyiapkan masterplan serta menyusun business & action plan. Hasil rancang bangun TTP Mollo, secara tata-ruang dibagi dalam tiga zona. Zona 1 adalah zona TTP center seluas 4 ha, dimana sebagian besar akan ditempatkan beberapa bangunan fungsional seperti, kantor, tempat parkir, tempat latihan petani, gazebo, gedung alsintan, gedung prosesing hasil-hasil pertanian dan screen house. TTP center diharapkan sebagai pintu masuk bagi pengunjung di kawasan TTP di desa Netpala.

Selain itu di TTP center disiapkan ruang untuk menerapkan beberapa teknologi/inovasi baru sebagai show window. Kegiatan-kegiatan inovasi yang akan dilaksanakan adalah produksi tanaman hias krisan dan melati dan juga memproduski induk tanaman krisan. Inovasi lain adalah tempat/ajang menerapkan teknologi pengolahan hasil khusunya jagung dan aneka kacang yang diproduksi oleh petani setempat. Lokasi TTP center ditempatkan pada lahan pemerintah kabupaten TTS yang di desa Netpala, dan posisinya tepat pada pintu masuk desa Netpala.

Zona 2 adalah zona on-farm. Zona ini adalah lahan milik petani dimana keterlibatan petani dalam menerapkan semua teknologi yang direkomendasikan dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. Sedangkan zona 3, adalah zona rekreasi yang ditempatkan di sekitar lahan dekat embung yang akan dibangun.

Atas dasar business dan action plan yang telah dirancang maka secara umum telah ditetapkan tiga komoditas sebagai core business. Ketiga komoditas ini adalah aneka sayuran, jeruk keprok SoE dan Jagung. Fokus bisnis pada komoditas aneka sayuran adalah perbaikan budidaya, efsiensi produksi dan efisiensi pemasaran. Sedangkan fokus bisnis pada JKS adalah perbaikan budidaya, pengendalian penyakit jamur diplodia dan phytopthora dan mendorong peningkatan populasi setiap rumah tangga. Sementara untuk komoditas jagung, lebih mengfokuskan pada peningkatan nilai tambah melalui penguasaan teknologi pengolahan hasil. Diharapkan, jika melalui hilirisasi jagung berjalan sesuai rencana maka akan menarik perbaikan budidaya jagung, yang selama ini tidak berkembang karena orientasi produksinya hanya semata untuk food security.

Selain perhatian terhadap tiga komoditas core business tersebut, juga dilakukan perbaikan tehadap pemeliharaan ternak sapi dengan mengarahkan pada pemeliharaan intensif menggunakan kandang komunal atau berkelompok. Keuntungan menggungkan cara ini petani bisa memanfaatkan kotoran ternaknya untuk pupuk kandang ataupun membuat bio-gas untuk menunjang bahan bakar. Demikian pula, pada sektor peternakan diperkenalkan ternak kelinci sebagai komoditas ternak kecil yang berpotensi untuk menghasilkan daging. Dasar memperkenalkan ternak kelinci, karena berkaitan dengan tersediannya limba aneka sayur yang berlimpa pada saat musim panen.

Tanaman atau komoditas introduksi lain yang diperkenalkan adalah tanaman hias, krisan dan melati dan tanaman buah, strobery. Tanaman ini merupakan tanaman baru yang tidak pernah diketahui petani setempat. Karena potensi biofisiknya, tanaman ini berpotensi untuk dikembangkan. Diharapkan jika petani mengaprseiasi untuk pengembangan maka berpeluang komoditas ini sebagai sumber pendapatan baru.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini257
Hari kemarin1841
Minggu ini257
Bulan ini48437
Jumlah Pengunjung966430
Online sekarang
22

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Taman Teknologi Pertanian Mollo di Netpala, NTT

Lokasi TTP Molo berada di desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terpilihnya desa ini sebagai lokasi TTP, karena memiliki point lebih tinggi dibanding sebelas desa lain (di TTS, TTU, Kupang dan Kota Kupang) yang dievaluasi menurut kriteria Bappenas. Untuk sampai lokasi TTP ini, dibutuhkan waktu 30 menit ke arah utara dari kota SoE, yaitu ibukota dari kabupaten TTS, dengan akses jalan yang agak baik karena beraspal.

Berdasarkan kondisi biofisik, desa Netpala merupakan bagian dari agroekosistem dataran tinggi iklim kering karena berada pada 900 sampai 1078 mdpl dengan musim hujan antara Desember sampai April, dan sisanya merupakan bulan kering. Kawasan ini merupakan bagian dari pegunungan Mutis di kecamatan Mollo, sehingga topografi wilayahnya adalah perbukitan dan pegunungan atau sebagian besarnya wilayahnya berlereng. Desa yang berpenduduk 1720 jiwa atau 343 kepala keluarga ini hampir sebagian besarnya bermata pencaharian sebagai petani, dengan basis ekonomi keluarganya adalah pada komoditas aneka sayuran, jeruk dan ternak.

Hasil identifikasi mengenai keberadaan desa melalui Participatory Rural Apraissal (PRA) dan Baseline Survei, kegiatan usahatani di desa ini relatif panjang dibanding waktu bulan basah. Aktivitas usahatani dimulai November sampai September dimana pada bulan-bulan ini petani setempat berfokus pada aktifitas usahatani aneka sayuran dan tanaman pangan. Tercatat bahwa, aneka sayuran yang ditanam adalah Kol, Sawi putih, sawi, wortel, terung, lombok. Hasil produksi aneka sayuran yang jatuh pada bulan-bulan musim hujan ini dipasarkan ke kota Kupang yang jaraknya 150 km dari desa ini. Dipasarkan ke kota Kupang karena, pada saat itu, suplai komoditas aneka sayuran yang biasanya berasal dari seputaran wilayah kota Kupang, tidak tersedia. Oleh karena itu usahatani aneka sayuran dari desa Netpala tergolong sebagai usahatani sayuran off-seasson. Kondisi ini yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi dari desa ini.

Selain usahatani aneka sayuran yang ditanam pada musim hujan, petani juga menanam tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah, kacang nasi, ubikayu dan ubi jalar. Hampir semua komoditas ini ditanam hanya untuk dimakan, kecuali ada sebagian hasil dari kacang tanah dan ubijalar yang dijual di sekitar pasar desa kecamatan yang berjarak 2 km dari desa. Tindakan budidaya pada usahatani tanaman pangan adalah relatif sederhana atau berbeda dengan tindakan budidaya pada tanaman aneka sayuran, dimana pengunaan eksernal input seperti penggunaan benih/bibit unngul, pupuk an-organik, pestisida, ZPT lebih menonjol penggunaannya. Perbedaaan tindakan budidaya antara usahatani tanaman pangan dan aneka sayuran dikerenakan perbedaan dalam oeirentasinya. Orientasi usahatani tanaman pangan berfokus pada penyediaan bahan pangan (food security) dan sebaliknya usahatani aneka sayuran berorientasi komersial.

Usahatani lain adalah usahatani jeruk. Berdasarkan ceritera masyarakat setempat, masa lalu desa Netpala merupakan salah satu sentra produksi jeruk keprok SoE (JKS). JKS merupakan jeruk lokal yang sudah sudah dilepas sebagai varietas jeruk unggul nasional yang memiliki nilai jual yang tinggi. Namun karena ketidakmampuan petani mengendalikan penyakit jamur diplodia batang dan phytopthora pada akar, sehingga menurunkan semangat untuk menanam. Konsekuensi dari kondisi ini ada kecenderungan terjadi penurunan populasi. Sebagian besar petani menanan Jeruk ini di pekarangan dan ada juga sebagian kecil yang memiliki lahan khusus yang ditanam dengan populasi yang relatif tinggi di luar pekarangan.

Hewan ternak yang dominan diusahakan oleh petani setempat adalah Sapi dan Babi. Hasil baseline survei yang dilakukan oleh Tim Balitbangtan pada tahun 2015, bahwa kontribusi pendapatan usahatani yang berasal dari sapi dan babi adalah berturut-turut 17% dan 1%. Kontribusi pendapatan dari ternak sapi adalah hampir menyamai pendapatan yang berasal dari jagung yakni 18 % atau berbeda hanya 1%.

Total pendapatan masyarakat setempat adalah sebesar Rp. 20.8 juta/tahun dimana kontribusi dari pendapatan dari usahatani adalah sebesar 58 % dan sisanya 42% berasal dari non usahatani. Gambaran umum mengenai kontribusi beberapa komoditas terhadap pendapatan usahatani adalah, aneka sayur sebesar 49%, ubikayu 7%, jeruk 5% dan ubijalar 1%.

Mulai 2015, melalui Kementerian Pertanian telah dirancang dan dibangun TTP di desa Netpala yang dinamai dengan TTP-MOLLO. Pembangunan dimulai dengan membuat grand design kawasan dengan menyiapkan masterplan serta menyusun business & action plan. Hasil rancang bangun TTP Mollo, secara tata-ruang dibagi dalam tiga zona. Zona 1 adalah zona TTP center seluas 4 ha, dimana sebagian besar akan ditempatkan beberapa bangunan fungsional seperti, kantor, tempat parkir, tempat latihan petani, gazebo, gedung alsintan, gedung prosesing hasil-hasil pertanian dan screen house. TTP center diharapkan sebagai pintu masuk bagi pengunjung di kawasan TTP di desa Netpala.

Selain itu di TTP center disiapkan ruang untuk menerapkan beberapa teknologi/inovasi baru sebagai show window. Kegiatan-kegiatan inovasi yang akan dilaksanakan adalah produksi tanaman hias krisan dan melati dan juga memproduski induk tanaman krisan. Inovasi lain adalah tempat/ajang menerapkan teknologi pengolahan hasil khusunya jagung dan aneka kacang yang diproduksi oleh petani setempat. Lokasi TTP center ditempatkan pada lahan pemerintah kabupaten TTS yang di desa Netpala, dan posisinya tepat pada pintu masuk desa Netpala.

Zona 2 adalah zona on-farm. Zona ini adalah lahan milik petani dimana keterlibatan petani dalam menerapkan semua teknologi yang direkomendasikan dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. Sedangkan zona 3, adalah zona rekreasi yang ditempatkan di sekitar lahan dekat embung yang akan dibangun.

Atas dasar business dan action plan yang telah dirancang maka secara umum telah ditetapkan tiga komoditas sebagai core business. Ketiga komoditas ini adalah aneka sayuran, jeruk keprok SoE dan Jagung. Fokus bisnis pada komoditas aneka sayuran adalah perbaikan budidaya, efsiensi produksi dan efisiensi pemasaran. Sedangkan fokus bisnis pada JKS adalah perbaikan budidaya, pengendalian penyakit jamur diplodia dan phytopthora dan mendorong peningkatan populasi setiap rumah tangga. Sementara untuk komoditas jagung, lebih mengfokuskan pada peningkatan nilai tambah melalui penguasaan teknologi pengolahan hasil. Diharapkan, jika melalui hilirisasi jagung berjalan sesuai rencana maka akan menarik perbaikan budidaya jagung, yang selama ini tidak berkembang karena orientasi produksinya hanya semata untuk food security.

Selain perhatian terhadap tiga komoditas core business tersebut, juga dilakukan perbaikan tehadap pemeliharaan ternak sapi dengan mengarahkan pada pemeliharaan intensif menggunakan kandang komunal atau berkelompok. Keuntungan menggungkan cara ini petani bisa memanfaatkan kotoran ternaknya untuk pupuk kandang ataupun membuat bio-gas untuk menunjang bahan bakar. Demikian pula, pada sektor peternakan diperkenalkan ternak kelinci sebagai komoditas ternak kecil yang berpotensi untuk menghasilkan daging. Dasar memperkenalkan ternak kelinci, karena berkaitan dengan tersediannya limba aneka sayur yang berlimpa pada saat musim panen.

Tanaman atau komoditas introduksi lain yang diperkenalkan adalah tanaman hias, krisan dan melati dan tanaman buah, strobery. Tanaman ini merupakan tanaman baru yang tidak pernah diketahui petani setempat. Karena potensi biofisiknya, tanaman ini berpotensi untuk dikembangkan. Diharapkan jika petani mengaprseiasi untuk pengembangan maka berpeluang komoditas ini sebagai sumber pendapatan baru.

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi