Ekonomi Beras Indonesia, Peranan Beras dalam Perekonomian Nasional

Beras merupakan komoditas unik bagi Indonesia. Di pedesaan beras telah menjadi simbol status ekonomi rumah tangga. Ketidakstabilan persediaan pangan dan atau fluktuasi harga beras dapat memicu munculnya kerusuhan yang mengarah pada tindak kriminal (Saliem 2001). Pengalaman pada tahun 1966 dan 1998 menunjukan bahwa goncangan politik dapat berubah menjadi krisis ekonomi politik, karena harga pangan melonjak tinggi dalam waktu yang singkat. Sebaliknya pada saat kondisi pangan aman, seperti saat ini, maka masalah pangan tidak menjadi pendorong eskalasi politik. Namun, sampai saat ini debat politik masih selalu muncul manakala harga beras melonjak tajam atau harga gabah turun tajam. Sebagian besar masyarakat masih tetap menghendaki adanya pasokan dan harga beras yang stabil, tersedia sepanjang waktu, terdistribusi secara merata, dan dengan harga terjangkau (Sawit 2001). Hal ini menunjukan beras masih merupakan komoditas strategis secara politis.

Menurut Simatupang dan Rusastra (2004), walaupun sedikit menurun, beras masih tetap memegang peran penting dalam perekonomian nasional, karena:

  1. beras masih merupakan makanan pokok penduduk sehingga sistem agribisnis beras berperan strategis dalam pemantapan ketahanan pangan,
  2. sistem agribisnis beras mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah yang besar, karena sampai saat ini usahatani padi masih dominan dalam sektor pertanian, dan
  3. sistem agribisnis beras sangat instrumental dalam upaya pengentasan kemiskinan, karena kebanyakan penduduk miskin terlibat dalam usahatani padi.

Sejak kuartal kedua tahun 2008 dunia dihadapkan pada krisis pangan, karena produksi beras dunia menurun tajam. Harga beras di pasar dunia melonjak tajam mencapai 1000 dolar AS per ton, dimana pada kondisi normal hanya berkisar antara 180-300 dolar AS per ton. Kondisi ini telah memicu terjadinya demonstrasi dan kerusuhan, terutama di negara-negara yang mengalami krisis pangan. Untungnya, pada waktu yang sama produksi beras Indonesia cukup normal, sehingga krisis pangan dunia tidak begitu berdampak bagi Indonesia dari sisi pasokan. Namun demikian, krisis pangan ini diperkirakan akan berdampak terhadap naiknya harga beras dipasar domestik seiring dengan naiknya harga BBM (bahan bakar minyak).

Peran beras dalam perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Dalama periode 2003-2006, PDB Indonesia berdasarkan harga konstan pada tahun 2000 mengalami peningkatan 5,4% per tahun. PDB sektor pertanian pada periode yang sama tumbuh 2,82%. Sumbangan subsektor tanaman pangan, termasuk padi meningkat 2,73%. Dalam kelompok subsektor tanaman pangan, komoditas padi meningkat 2,73%. Dalam kelompok subsektor tanaman pangan, komoditas padi memberikan kontribusi yang paling besar. Hal ini dapat dilihat dari produksi komoditas ini yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan lainnya. Dengan demikian, padi mempunyai peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diperkirakan lebih dari 60% penduduk Indonesia, terutama di pedesaan, terluar dalam kegiatan usahatani padi.

Dilihat dari pangsa penyebarannya, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional cenderung turun. Sebelum tahun 2003, pangsa sektor pertanian terhadap PDB lebih dari 16%, dan pada tahun 2003 menurun menjadi 15,2% dan pada tahun 2006 menjadi 14,2%. Penurunan terjadi pada semua subsektor pertanian, kecuali subsektor perikanan. Sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB (26-28%), disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang berkisar antara 15-17%. Kontributor terbesar berikutnya (ketiga) adalah sektor pertanian. Dengan demikian, sektor pertanian, termasuk padi di dalamnya, mempunyai peran penting dalam perekonomian nasional.

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini627
Hari kemarin2229
Minggu ini2856
Bulan ini19481
Jumlah Pengunjung1067828
Online sekarang
36

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Ekonomi Beras Indonesia, Peranan Beras dalam Perekonomian Nasional

Beras merupakan komoditas unik bagi Indonesia. Di pedesaan beras telah menjadi simbol status ekonomi rumah tangga. Ketidakstabilan persediaan pangan dan atau fluktuasi harga beras dapat memicu munculnya kerusuhan yang mengarah pada tindak kriminal (Saliem 2001). Pengalaman pada tahun 1966 dan 1998 menunjukan bahwa goncangan politik dapat berubah menjadi krisis ekonomi politik, karena harga pangan melonjak tinggi dalam waktu yang singkat. Sebaliknya pada saat kondisi pangan aman, seperti saat ini, maka masalah pangan tidak menjadi pendorong eskalasi politik. Namun, sampai saat ini debat politik masih selalu muncul manakala harga beras melonjak tajam atau harga gabah turun tajam. Sebagian besar masyarakat masih tetap menghendaki adanya pasokan dan harga beras yang stabil, tersedia sepanjang waktu, terdistribusi secara merata, dan dengan harga terjangkau (Sawit 2001). Hal ini menunjukan beras masih merupakan komoditas strategis secara politis.

Menurut Simatupang dan Rusastra (2004), walaupun sedikit menurun, beras masih tetap memegang peran penting dalam perekonomian nasional, karena:

  1. beras masih merupakan makanan pokok penduduk sehingga sistem agribisnis beras berperan strategis dalam pemantapan ketahanan pangan,
  2. sistem agribisnis beras mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah yang besar, karena sampai saat ini usahatani padi masih dominan dalam sektor pertanian, dan
  3. sistem agribisnis beras sangat instrumental dalam upaya pengentasan kemiskinan, karena kebanyakan penduduk miskin terlibat dalam usahatani padi.

Sejak kuartal kedua tahun 2008 dunia dihadapkan pada krisis pangan, karena produksi beras dunia menurun tajam. Harga beras di pasar dunia melonjak tajam mencapai 1000 dolar AS per ton, dimana pada kondisi normal hanya berkisar antara 180-300 dolar AS per ton. Kondisi ini telah memicu terjadinya demonstrasi dan kerusuhan, terutama di negara-negara yang mengalami krisis pangan. Untungnya, pada waktu yang sama produksi beras Indonesia cukup normal, sehingga krisis pangan dunia tidak begitu berdampak bagi Indonesia dari sisi pasokan. Namun demikian, krisis pangan ini diperkirakan akan berdampak terhadap naiknya harga beras dipasar domestik seiring dengan naiknya harga BBM (bahan bakar minyak).

Peran beras dalam perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Dalama periode 2003-2006, PDB Indonesia berdasarkan harga konstan pada tahun 2000 mengalami peningkatan 5,4% per tahun. PDB sektor pertanian pada periode yang sama tumbuh 2,82%. Sumbangan subsektor tanaman pangan, termasuk padi meningkat 2,73%. Dalam kelompok subsektor tanaman pangan, komoditas padi meningkat 2,73%. Dalam kelompok subsektor tanaman pangan, komoditas padi memberikan kontribusi yang paling besar. Hal ini dapat dilihat dari produksi komoditas ini yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan lainnya. Dengan demikian, padi mempunyai peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diperkirakan lebih dari 60% penduduk Indonesia, terutama di pedesaan, terluar dalam kegiatan usahatani padi.

Dilihat dari pangsa penyebarannya, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional cenderung turun. Sebelum tahun 2003, pangsa sektor pertanian terhadap PDB lebih dari 16%, dan pada tahun 2003 menurun menjadi 15,2% dan pada tahun 2006 menjadi 14,2%. Penurunan terjadi pada semua subsektor pertanian, kecuali subsektor perikanan. Sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB (26-28%), disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang berkisar antara 15-17%. Kontributor terbesar berikutnya (ketiga) adalah sektor pertanian. Dengan demikian, sektor pertanian, termasuk padi di dalamnya, mempunyai peran penting dalam perekonomian nasional.

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi