Ali Jamil, Merancang Keajaiban Padi

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tidak main-main dalam mendesiminasi inovasi teknologi kepada petani. Dulu luas lahan uji coba teknologi dalam skala kecil, akibatnya sering kurang dianggap serius oleh petani. Bahkan, ada pihak yang berkata cara itu tidak memberi jaminan keberhasilan jika dalam skala luas. Sekarang, areal pengujian itu diperluas hingga 100 hektar dan ternyata banyak keajaiban tercipta di dalamnya.

Perluasan lahan uji coba ini dirangkum dalam sebuah program bernama Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP), di lahan ini dikembangkan satu komoditi unggulan daerah, artinya bisa tanaman pangan, hortikultura, perkebunan atau peternakan. Kali ini, jelajah inovasi akan mengungkap LLIP padi yang dikembangkan di kabupaten Purbalingga.

Untuk melihat lebih dalam peran dan manfaat LLIP Padi, Kepala BB Padi Sukabumi, Dr. Ali Jamil yang menjadi motor penggerak kegiatan ini bercerita,"ini adalah cara paling efektif untuk meningkatkan adopsi teknologi. Kedekatan lahan dengan petani dan luasan arealnya akan memberikan gambaran  yang lebih riil tentang manfaat inovasi teknologi. Keberhasilan yang didapat akan langsung disaksikan oleh petani. Namun salah satu kunci keberhasilan LLIP ini adalah pengawalan yang ketat terhadap penerapan teknologi".

Tradisi berinovasi yang telah didapat akan cepat menular kepada petani lainnya. Keuntungan lain dari luasnya lahan uji coba ini adalah seluruh inovasi unggulan yang dimiliki oleh Balitbangtan bisa diterapkan secara full. Dia mencontohkan, LLIP Purbalingga ini memiliki luas 100 hektar yang tersebar di Desa Karang Tengah dan Desa Pegandekan, luas lahan ini dibagi menjadi empat topik inovasi teknologi yakni uji adaptasi Varietas Unggul Baru (VUB), perbenihan, penerapan inovasi Alat dan Mesin Pertanian, dan penerapan  sistem PTT padi.

Pada uji adaptasi berbagai vareiteas unggul, menurutnya, upaya mendesiminasi varietas baru kepada petani, contoh yang digunakan adalah varietas Inpari 32 yang relatif masih baru. Varietas ini calon pengganti varietas Ciherang. Berdasarkan Laporan BPTP Jateng, varietas ini tahan terhadap serangan blas daun dan blas leher, tidak seperti Ciherang yang saat ini rentan terserang kresek.

 Varietas yang menarik lainnya adalah Situbagendit, varietas ini dikenal sebagai varietas amphibi yang bisa padi gogo atau dilahan kurang air dan bisa hidup di lahan sawah. “Alhamdulilah pada pertanaman petani kita umumnya menggunakan varietas situbagendit” ujarnya menambahkan.

Inovasi kedua yang diterapkan padi LLIP Purbalingga ini  adalah perbenihan seluas 32 hektar. Penciptaan benih pada musim kemarau ini, bertujuan untuk mengamankan kebutuhan benih pada musim hujan nanti, sehingga ketika hujan mulai turun petani sudah bisa untuk melakukan penanaman.

Ali Jamil sangat berharap dukungan dari stake holder seperti PT. SHS untuk mengamankan produksi benih ini. "Tolong benih ini jangan masuk mesin giling padi atau dikonsumsi karena ini sangat mahal, bapak-bapak petani  harus menjualnya sebagai benih, bukan konsumsi. Dan benih yang dihasilkan ini masih bersifat SS, artinya masih bisa diturunkan hingga dua kali perbanyakan."

Di Lahan LLIP ini juga diterapkan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Ali Jami menjelaskan, sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, penggunaan Alsintan merupakan  pendukung utama ke empat pertanian modern. Penggunaan Alsintan ini akan mampu mengatasi kelangkaan tenaga kerja, mengurangi kehilangan hasil panen dan meningkatkan provitas.

Sedangkan pada penerapan PTT,  semua yang digunakan pada LLIP ini ditanam dengan sistem jajar legowo (Jarwo) 2:1 dan ternyata petani sudah mengenal Jarwo, sehingga tidak sulit untuk menerapkannya.

Keajaiban Padi

Keajaiban yang patut untuk di catat di LLIP ini adalah soal tingginya provitas dan pasokan air. Rata-rata produktivitas padinya mencapai lebih dari 9 ton per hektar, bahkan untuk varietas Inpari 32 provitasnya mencapai 10 ton per hektar. Angka-angka ini bukan angka yang ada di dalam buku, tetapi angka ini diperoleh dari hasil ubinan di lapangan.

Sedangkan soal air, keajaibannya adalah soal pasokan dan pembagian air. Hingga lebih dari 5 bulan kemarau, dua desa yang menjadi basis LLIP ini masih tetap kebagian air. Keajaiban ini sebenarnya tidak datang begitu saja dari langit, tetapi didukung oleh semangat semua pihak yang terpacu untuk mengamankan LLIP. “kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penyuluh yang setia mengawal petani dan terima kasih kepada TNI yang telah membantu mengamankan pasokan air” kata Ali Jamil.GGH/Lis

Editor: Julianto

Sumber: Sinar Tani

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1073
Hari kemarin1782
Minggu ini2855
Bulan ini30875
Jumlah Pengunjung854773
Online sekarang
40

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Ali Jamil, Merancang Keajaiban Padi

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tidak main-main dalam mendesiminasi inovasi teknologi kepada petani. Dulu luas lahan uji coba teknologi dalam skala kecil, akibatnya sering kurang dianggap serius oleh petani. Bahkan, ada pihak yang berkata cara itu tidak memberi jaminan keberhasilan jika dalam skala luas. Sekarang, areal pengujian itu diperluas hingga 100 hektar dan ternyata banyak keajaiban tercipta di dalamnya.

Perluasan lahan uji coba ini dirangkum dalam sebuah program bernama Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP), di lahan ini dikembangkan satu komoditi unggulan daerah, artinya bisa tanaman pangan, hortikultura, perkebunan atau peternakan. Kali ini, jelajah inovasi akan mengungkap LLIP padi yang dikembangkan di kabupaten Purbalingga.

Untuk melihat lebih dalam peran dan manfaat LLIP Padi, Kepala BB Padi Sukabumi, Dr. Ali Jamil yang menjadi motor penggerak kegiatan ini bercerita,"ini adalah cara paling efektif untuk meningkatkan adopsi teknologi. Kedekatan lahan dengan petani dan luasan arealnya akan memberikan gambaran  yang lebih riil tentang manfaat inovasi teknologi. Keberhasilan yang didapat akan langsung disaksikan oleh petani. Namun salah satu kunci keberhasilan LLIP ini adalah pengawalan yang ketat terhadap penerapan teknologi".

Tradisi berinovasi yang telah didapat akan cepat menular kepada petani lainnya. Keuntungan lain dari luasnya lahan uji coba ini adalah seluruh inovasi unggulan yang dimiliki oleh Balitbangtan bisa diterapkan secara full. Dia mencontohkan, LLIP Purbalingga ini memiliki luas 100 hektar yang tersebar di Desa Karang Tengah dan Desa Pegandekan, luas lahan ini dibagi menjadi empat topik inovasi teknologi yakni uji adaptasi Varietas Unggul Baru (VUB), perbenihan, penerapan inovasi Alat dan Mesin Pertanian, dan penerapan  sistem PTT padi.

Pada uji adaptasi berbagai vareiteas unggul, menurutnya, upaya mendesiminasi varietas baru kepada petani, contoh yang digunakan adalah varietas Inpari 32 yang relatif masih baru. Varietas ini calon pengganti varietas Ciherang. Berdasarkan Laporan BPTP Jateng, varietas ini tahan terhadap serangan blas daun dan blas leher, tidak seperti Ciherang yang saat ini rentan terserang kresek.

 Varietas yang menarik lainnya adalah Situbagendit, varietas ini dikenal sebagai varietas amphibi yang bisa padi gogo atau dilahan kurang air dan bisa hidup di lahan sawah. “Alhamdulilah pada pertanaman petani kita umumnya menggunakan varietas situbagendit” ujarnya menambahkan.

Inovasi kedua yang diterapkan padi LLIP Purbalingga ini  adalah perbenihan seluas 32 hektar. Penciptaan benih pada musim kemarau ini, bertujuan untuk mengamankan kebutuhan benih pada musim hujan nanti, sehingga ketika hujan mulai turun petani sudah bisa untuk melakukan penanaman.

Ali Jamil sangat berharap dukungan dari stake holder seperti PT. SHS untuk mengamankan produksi benih ini. "Tolong benih ini jangan masuk mesin giling padi atau dikonsumsi karena ini sangat mahal, bapak-bapak petani  harus menjualnya sebagai benih, bukan konsumsi. Dan benih yang dihasilkan ini masih bersifat SS, artinya masih bisa diturunkan hingga dua kali perbanyakan."

Di Lahan LLIP ini juga diterapkan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Ali Jami menjelaskan, sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, penggunaan Alsintan merupakan  pendukung utama ke empat pertanian modern. Penggunaan Alsintan ini akan mampu mengatasi kelangkaan tenaga kerja, mengurangi kehilangan hasil panen dan meningkatkan provitas.

Sedangkan pada penerapan PTT,  semua yang digunakan pada LLIP ini ditanam dengan sistem jajar legowo (Jarwo) 2:1 dan ternyata petani sudah mengenal Jarwo, sehingga tidak sulit untuk menerapkannya.

Keajaiban Padi

Keajaiban yang patut untuk di catat di LLIP ini adalah soal tingginya provitas dan pasokan air. Rata-rata produktivitas padinya mencapai lebih dari 9 ton per hektar, bahkan untuk varietas Inpari 32 provitasnya mencapai 10 ton per hektar. Angka-angka ini bukan angka yang ada di dalam buku, tetapi angka ini diperoleh dari hasil ubinan di lapangan.

Sedangkan soal air, keajaibannya adalah soal pasokan dan pembagian air. Hingga lebih dari 5 bulan kemarau, dua desa yang menjadi basis LLIP ini masih tetap kebagian air. Keajaiban ini sebenarnya tidak datang begitu saja dari langit, tetapi didukung oleh semangat semua pihak yang terpacu untuk mengamankan LLIP. “kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penyuluh yang setia mengawal petani dan terima kasih kepada TNI yang telah membantu mengamankan pasokan air” kata Ali Jamil.GGH/Lis

Editor: Julianto

Sumber: Sinar Tani

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi