Tahun 2014/2015, Puso Akibat OPT Seluas 476 Ha (0,01 Persen)

JAKARTA – Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan menangani banjir serta kekeringan sampai pada Musim Hujan (MH) 2014/2015 Oktober hingga Maret dan Musim Kemarau (MK) 2015 yakni April hingga Juli. Upaya tersebut terus dilakukan guna menjaga produksi padi agar tetap aman dan petani tidak mengalami gagal panen atau merugi.

Berdasarkan laporan dari Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi seluruh Indonesia yang telah diterima menyebutkan, pada MH 2014/2015, luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan yakni seluas 40.627 hektare (ha) atau 0,50 persen dar luas tanam 8.186.545 ha.

Adapun luas puso terbesar pada periode tersebut yakni disebabkan karena banjir seluas 34.222 ha yang kondisi terparahnya terjadi di daerah Aceh, Jawa Timur dan Banten. Kemudian, puso disebabkan karena kekeringan seluas 5.929 ha yang terjadi di daerah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.

"Selanjutnya puso karena OPT seluas 476 hektare atau sebesar 0,01 persen dari luas tanam 8.186.545 hektare yang kondisi terparahnya terjadi di daerah Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara dan Banten dan pusonya terjadi di bulan Februari," jelas Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Dwi Iswari.

Sementara itu, pada MK 2015 (April-Juli) yakni luas lahan padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 19.724 ha atau 0,44 persen dari luas tanam 4.529.751 ha.

Luas puso tertinggi karena kekeringan seluas 10.696 ha (0,24 persen dari 4.529.751 ha) terutama terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang puncaknya berlangsung pada bulan Juni.

“Puso karena OPT seluas 5.320 hektare atau 0,12 persen dari luas tanam 4.529.751 hekrare puncaknya terjadi di bulan Juli dan kondisi terparahnya melanda daerah Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, puso yang disebabkan karena banjir seluas 3.708 ha (0,08 persen dari luas tanam 4.529.751 ha terutama melanda daerah Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan luas puso tertinggi terjadi di bulan Juni.

Untuk mengendalikan serangan OPT dan menangani banjir serta kekeringan, Dwi mengatakan upaya yang telah dilakukan Kementan yaitu melakukan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 612.836 ha dan merealisasikan pelaksanaan penerapan Pengandalian Hama Terpadu (PHT) skala luas yang bersumber dari dana APBN dan APBN-P.

“Pengandalian Hama Terpadu (PHT) skala luas yang bersumber dari dana APBN untuk tanaman padi sebanyak 82 unit (2.050 ha) mencapai 57,75 persen dari rencana 142 unit (3.550 ha), jagung sebanyak 6 unit (90 ha) mencapai 66,67 persen dari rencana 9 unit (135 ha), kedelai sebanyak 7 unit (70 ha) mencapai 63,64 persen dari rencana 11 unit (110 ha).

Kemudian, lanjut Dwi, Kementan juga telah melakukan realisasi pelaksanaan penerapan PHT skala luas yang bersumber dari dana APBN-P yakni untuk tanaman padi sebanyak 63 unit (1.575 ha) mencapai 19,38 persen dari rencana 325 unit (8.125 ha), jagung sebanyak 2 unit (30 ha) mencapai 15,38 persen dari rencana 13 unit (195 ha) dan kedelai belum ada realisasi dari rencana 5 unit (50 ha).

"Upaya lain, Kementan juga meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap perkembangan luas serangan OPT, banjir dan kekeringan. Penyerahan Cadangan Benih Nasional (CBN) pun akan terus dilakukan Kementan," tutur Dwi.

Sumber : Biro Umum dan Humas Kementan

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini175
Hari kemarin2156
Minggu ini6986
Bulan ini23611
Jumlah Pengunjung1071958
Online sekarang
17

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tahun 2014/2015, Puso Akibat OPT Seluas 476 Ha (0,01 Persen)

JAKARTA – Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan menangani banjir serta kekeringan sampai pada Musim Hujan (MH) 2014/2015 Oktober hingga Maret dan Musim Kemarau (MK) 2015 yakni April hingga Juli. Upaya tersebut terus dilakukan guna menjaga produksi padi agar tetap aman dan petani tidak mengalami gagal panen atau merugi.

Berdasarkan laporan dari Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi seluruh Indonesia yang telah diterima menyebutkan, pada MH 2014/2015, luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan yakni seluas 40.627 hektare (ha) atau 0,50 persen dar luas tanam 8.186.545 ha.

Adapun luas puso terbesar pada periode tersebut yakni disebabkan karena banjir seluas 34.222 ha yang kondisi terparahnya terjadi di daerah Aceh, Jawa Timur dan Banten. Kemudian, puso disebabkan karena kekeringan seluas 5.929 ha yang terjadi di daerah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.

"Selanjutnya puso karena OPT seluas 476 hektare atau sebesar 0,01 persen dari luas tanam 8.186.545 hektare yang kondisi terparahnya terjadi di daerah Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara dan Banten dan pusonya terjadi di bulan Februari," jelas Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Dwi Iswari.

Sementara itu, pada MK 2015 (April-Juli) yakni luas lahan padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 19.724 ha atau 0,44 persen dari luas tanam 4.529.751 ha.

Luas puso tertinggi karena kekeringan seluas 10.696 ha (0,24 persen dari 4.529.751 ha) terutama terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang puncaknya berlangsung pada bulan Juni.

“Puso karena OPT seluas 5.320 hektare atau 0,12 persen dari luas tanam 4.529.751 hekrare puncaknya terjadi di bulan Juli dan kondisi terparahnya melanda daerah Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, puso yang disebabkan karena banjir seluas 3.708 ha (0,08 persen dari luas tanam 4.529.751 ha terutama melanda daerah Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan luas puso tertinggi terjadi di bulan Juni.

Untuk mengendalikan serangan OPT dan menangani banjir serta kekeringan, Dwi mengatakan upaya yang telah dilakukan Kementan yaitu melakukan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 612.836 ha dan merealisasikan pelaksanaan penerapan Pengandalian Hama Terpadu (PHT) skala luas yang bersumber dari dana APBN dan APBN-P.

“Pengandalian Hama Terpadu (PHT) skala luas yang bersumber dari dana APBN untuk tanaman padi sebanyak 82 unit (2.050 ha) mencapai 57,75 persen dari rencana 142 unit (3.550 ha), jagung sebanyak 6 unit (90 ha) mencapai 66,67 persen dari rencana 9 unit (135 ha), kedelai sebanyak 7 unit (70 ha) mencapai 63,64 persen dari rencana 11 unit (110 ha).

Kemudian, lanjut Dwi, Kementan juga telah melakukan realisasi pelaksanaan penerapan PHT skala luas yang bersumber dari dana APBN-P yakni untuk tanaman padi sebanyak 63 unit (1.575 ha) mencapai 19,38 persen dari rencana 325 unit (8.125 ha), jagung sebanyak 2 unit (30 ha) mencapai 15,38 persen dari rencana 13 unit (195 ha) dan kedelai belum ada realisasi dari rencana 5 unit (50 ha).

"Upaya lain, Kementan juga meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap perkembangan luas serangan OPT, banjir dan kekeringan. Penyerahan Cadangan Benih Nasional (CBN) pun akan terus dilakukan Kementan," tutur Dwi.

Sumber : Biro Umum dan Humas Kementan

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi