Agroekosistem Lahan Untuk Budidaya Padi Salibu

Secara umum budidaya padi salibu dapat dilakukan pada berbagai agroekosistem dan ketinggian tempat (dari rendah sampai 1.100 m dpl), seperti lahan irigasi desa atau sederhana yang sistem pengairannya diusahakan secara mandiri oleh kelompok tani, di lahan tadah hujan dan pasang surut. Persyaratan utama yang harus dipenuhi pada budidaya padi salibuantara lain : (a) bukan daerah endemik Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya penyakit tungro, busuk batang, hawar daun bakteri, keong mas, dan lain-lain, (b) ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, (c) tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama, (d) kondisi lahan dengan drainase baik, (d) dan kondisi air tanah pada saatdua minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab).  Dalam hal ini tunas padi salibu lebih baik tumbuhnya jika kondisi tanah lembab dibanding kondisi tergenang. Di wilayah dengan sistem tanam serempak, pengembangan salibu disarankan pada suatu hamparan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi serangan OPT.Teknik budidaya padi salibupada berbagai agroekosistem tersebut sebagai berikut :

Lahan Irigasi Desa

-     Kondisi lahan subur dengan sistem pengairan yang mudah diatur atau dikendalikan secara swadaya oleh kelompok tani. 

-     Jika saat panen kondisi tanah kurang basah, maka masukkan air ke lahan segera setelah dilakukan panen tanaman utama, yang menyisakan tunggul tanaman setinggi 25 cm dari permukaan tanah, untuk mencapai kondisi kapasitas lapang.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru.Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer.

Lahan Tadah Hujan

-     Sebelum tanam tanaman utama dilakukan pengolahan tanah secara sempurna dan penambahan  bahan organik sekitar 2-5 ton/ha.

-     Saat panen tanaman utama upayakan kondisi tanah tidak terlalu kering, jika kering maka lakukan pemberian air segera setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm untuk mencapai kondisi kapasitas lapang.

-     Sisa pemotongan panen tanaman utama sebaiknya diletakkan di sekitar tanaman atau sebagai penutup permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban tanah.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah.  Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

Lahan Pasang Surut

-     Teknologi budidaya padi salibudi lahan pasang surut harus dilakukan kajian dan sebaiknya dipilih lokasi-lokasi yang memiliki tipe luapan A ke B yang tidak tergenangi ketika air pasang.

-     Sistem budidaya padi sistem ratun di lahan pasang surut selama ini banyak dilakukan pada musim tanam periode Oktober – Maret, dan diasumsikan bahwa sistem budidaya salibujuga dapat dilakukan.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami sisa potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini700
Hari kemarin839
Minggu ini3009
Bulan ini30081
Jumlah Pengunjung779721
Online sekarang
18

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Agroekosistem Lahan Untuk Budidaya Padi Salibu

Secara umum budidaya padi salibu dapat dilakukan pada berbagai agroekosistem dan ketinggian tempat (dari rendah sampai 1.100 m dpl), seperti lahan irigasi desa atau sederhana yang sistem pengairannya diusahakan secara mandiri oleh kelompok tani, di lahan tadah hujan dan pasang surut. Persyaratan utama yang harus dipenuhi pada budidaya padi salibuantara lain : (a) bukan daerah endemik Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya penyakit tungro, busuk batang, hawar daun bakteri, keong mas, dan lain-lain, (b) ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, (c) tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama, (d) kondisi lahan dengan drainase baik, (d) dan kondisi air tanah pada saatdua minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab).  Dalam hal ini tunas padi salibu lebih baik tumbuhnya jika kondisi tanah lembab dibanding kondisi tergenang. Di wilayah dengan sistem tanam serempak, pengembangan salibu disarankan pada suatu hamparan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi serangan OPT.Teknik budidaya padi salibupada berbagai agroekosistem tersebut sebagai berikut :

Lahan Irigasi Desa

-     Kondisi lahan subur dengan sistem pengairan yang mudah diatur atau dikendalikan secara swadaya oleh kelompok tani. 

-     Jika saat panen kondisi tanah kurang basah, maka masukkan air ke lahan segera setelah dilakukan panen tanaman utama, yang menyisakan tunggul tanaman setinggi 25 cm dari permukaan tanah, untuk mencapai kondisi kapasitas lapang.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru.Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer.

Lahan Tadah Hujan

-     Sebelum tanam tanaman utama dilakukan pengolahan tanah secara sempurna dan penambahan  bahan organik sekitar 2-5 ton/ha.

-     Saat panen tanaman utama upayakan kondisi tanah tidak terlalu kering, jika kering maka lakukan pemberian air segera setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm untuk mencapai kondisi kapasitas lapang.

-     Sisa pemotongan panen tanaman utama sebaiknya diletakkan di sekitar tanaman atau sebagai penutup permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban tanah.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah.  Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

Lahan Pasang Surut

-     Teknologi budidaya padi salibudi lahan pasang surut harus dilakukan kajian dan sebaiknya dipilih lokasi-lokasi yang memiliki tipe luapan A ke B yang tidak tergenangi ketika air pasang.

-     Sistem budidaya padi sistem ratun di lahan pasang surut selama ini banyak dilakukan pada musim tanam periode Oktober – Maret, dan diasumsikan bahwa sistem budidaya salibujuga dapat dilakukan.

-     Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.

-     Jika tunas yang tumbuh > 70% dari populasi lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami sisa potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

 

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:230

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:252

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:881

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi