Antisipasi Serangan Wereng: Kendalikan Sedini Mungkin di Daerah Hotspot Serangan

Wereng coklat dipandang sebagai hama padi utama karena wereng coklat merupakan serangga dengan genetik plastisitas yang tinggi sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan pada waktu yang relatif singkat. Wereng coklat merupakan hama r-strategik berkembang biak dengan cepat mengikuti laju pertumbuhan eksponensial, mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik dalam waktu singkat sebelum serangga lain ikut berkompetisi. Bergerak cepat, menyebar menemukan habitat yang baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi, sehingga wereng tersebut terhindar dari katastropik (pemusnahan diri).

Keistimewaan wereng coklat mempunyai pola perkembangan hama mengikuti biological clock yaitu berkembang biak dan merusak tanaman padi erat hubungannya dengan lingkungan yang cocok baik musim hujan maupun musim kemarau. Wereng coklat dapat mentransfer virus kerdil hampa (VKH - ragged stunt) dan virus kerdil rumput tipe I (= Grassy Stunt Type I = GSTI) yang serangannya lebih besar dari serangan wereng coklat itu sendiri, dan bahkan saat ini wereng coklat sedang aktif bekerja menularkan penyakit kerdil rumput tipe 2 (VKR2 = Grassy Stunt Type 2 = GST2). Wereng coklat mampu melemahkan kerja insektisida yang dianggap ampuh sebelumnya. Penggunaan pestisida menyebabkan resisten dan resurgensi terhadap wereng coklat. Keistimewaan wereng coklat yang luar biasa berkembang menjadi biotipe baru. Perubahan biotipe dari wereng coklat merupakan tantangan yang tidak akan mudah diatasi.

Berdasarkan sifat wereng coklat tersebut diatas, maka pengendalian harus dilakukan secara dini dan menggunakan bebagai cara. Pada awalnya para petani berembuk di saung meeting menentukan varietas tahan yang dirancang berdasarkan sebaran biotipe dan diselaraskan dengan musim serta ditanam secara berjamaah.

Penetapan waktu pesemaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap. Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran. Bila datangnya wereng imigran dari generasi ke generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi kurva tangkapan bimodal (dua puncak). Pada saat kurva tangkapan bimodal maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

Para petani atau petugas harus rajin mencatat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (GO), maka pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-l. Tuntaskan pengendalian pada wereng coklat generasi ke-1 dengan berpedoman kepada hasil pengamatan dan keputusan pengendalian wereng coklat di pertanaman menggunakan ambang ekonomi berdasar musuh alami. Bila ada sumber penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput, maka pengendalian tidak perlu menunggu sampai mencapai ambang ekonomi. Kendalikan wereng coklat sampai populasi serendah mungkin, hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat, cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Untuk itu, bila terjadi serangan wereng coklat, harus segera mengendalilan sedini mungin di daerah hot spot atau di titik-titik serangan supaya wereng coklat tidak menyebar ke daerah lain.

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini651
Hari kemarin2229
Minggu ini2880
Bulan ini19505
Jumlah Pengunjung1067852
Online sekarang
35

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Antisipasi Serangan Wereng: Kendalikan Sedini Mungkin di Daerah Hotspot Serangan

Wereng coklat dipandang sebagai hama padi utama karena wereng coklat merupakan serangga dengan genetik plastisitas yang tinggi sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan pada waktu yang relatif singkat. Wereng coklat merupakan hama r-strategik berkembang biak dengan cepat mengikuti laju pertumbuhan eksponensial, mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik dalam waktu singkat sebelum serangga lain ikut berkompetisi. Bergerak cepat, menyebar menemukan habitat yang baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi, sehingga wereng tersebut terhindar dari katastropik (pemusnahan diri).

Keistimewaan wereng coklat mempunyai pola perkembangan hama mengikuti biological clock yaitu berkembang biak dan merusak tanaman padi erat hubungannya dengan lingkungan yang cocok baik musim hujan maupun musim kemarau. Wereng coklat dapat mentransfer virus kerdil hampa (VKH - ragged stunt) dan virus kerdil rumput tipe I (= Grassy Stunt Type I = GSTI) yang serangannya lebih besar dari serangan wereng coklat itu sendiri, dan bahkan saat ini wereng coklat sedang aktif bekerja menularkan penyakit kerdil rumput tipe 2 (VKR2 = Grassy Stunt Type 2 = GST2). Wereng coklat mampu melemahkan kerja insektisida yang dianggap ampuh sebelumnya. Penggunaan pestisida menyebabkan resisten dan resurgensi terhadap wereng coklat. Keistimewaan wereng coklat yang luar biasa berkembang menjadi biotipe baru. Perubahan biotipe dari wereng coklat merupakan tantangan yang tidak akan mudah diatasi.

Berdasarkan sifat wereng coklat tersebut diatas, maka pengendalian harus dilakukan secara dini dan menggunakan bebagai cara. Pada awalnya para petani berembuk di saung meeting menentukan varietas tahan yang dirancang berdasarkan sebaran biotipe dan diselaraskan dengan musim serta ditanam secara berjamaah.

Penetapan waktu pesemaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap. Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran. Bila datangnya wereng imigran dari generasi ke generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi kurva tangkapan bimodal (dua puncak). Pada saat kurva tangkapan bimodal maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

Para petani atau petugas harus rajin mencatat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (GO), maka pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-l. Tuntaskan pengendalian pada wereng coklat generasi ke-1 dengan berpedoman kepada hasil pengamatan dan keputusan pengendalian wereng coklat di pertanaman menggunakan ambang ekonomi berdasar musuh alami. Bila ada sumber penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput, maka pengendalian tidak perlu menunggu sampai mencapai ambang ekonomi. Kendalikan wereng coklat sampai populasi serendah mungkin, hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat, cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Untuk itu, bila terjadi serangan wereng coklat, harus segera mengendalilan sedini mungin di daerah hot spot atau di titik-titik serangan supaya wereng coklat tidak menyebar ke daerah lain.

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi