Sebuah Jalan untuk Lebih Mempercepat Swasembada Beras

Oleh: Dr. Ir. Soemitro Arintadisastra MEd

Presiden RI, Joko Widodo dalam Muktamar PKB pada akhir Oktober 2014 di Surabaya menyatakan bahwa produksi padi di Amerika Serikat dapat menghasilkan 8 ton/ha, sedangkan di Indonesia hanya 4 ton/ha. Menurut Presiden budidaya padi Indonesia ada yang keliru dan harus diperbaiki. Target Presiden RI Indonesia harus dapat swasembada beras dalam 3 tahun yakni pada tahun 2017.

Para ahli pertanian banyak yang sinis dan skeptis terhadap rencana Presiden Joko Widodo tersebut. Tidak mungkin target tersebut dapat dicapai. Jangankan swasembada beras untuk peningkatan produksi sebesar 4% saja sulit.

Pada umumnya para ahli pertanian dalam melihat pertanian Indonesia masa depan “Agriculture Outlook” menggunakan historical data, data trend. Kalau kita menggunakan historical data dalam memprediksi pertanian masa depan, dapat dipastikan dalam 5 tahun mendatang tidak akan bisa mencapai swasembada pangan! Prediksi dapat juga dilakukan dengan menggunakan program yang akan dilaksanakan selama 5 tahun.

Pertanaman padi Indonesia lebih dari 50 tahun menggunakan inovasi dan teknologi yang tidak memanfaatkan energi sinar matahari dan tanam tidak serentak, tanam awal musim hujan dan panen saat musim hujan pula Oktober–Maret, di mana sinar matahari minim sekali, berarti photosintesa dan asimilasi sangat minimal, akibatnya tunas padi yang tumbuh hanya 25% tunas produktif, 75% tunas tidak produktif, penyerbukan bunga 40% gagal  dan  pengeringan gabah sulit, gabah banyak yang busuk, kehilangan hasil 40% dan produksi rendah sekali hanya bisa 3 ton/ha.

Kementerian Pertanian bisa memanfaatkan inovasi dan teknologi budidaya padi yang terbaru yaitu tanam awal bulan Januari dan panen saat matahari bersinar terang di mana proses photosintesa dan asimilasi maksimal. Dengan cara ini produksi dapat mencapai 10 ton/ha GKP dan kualitas gabah prima, tidak terjadi kehilangan hasil 40%.

Kecepatan aplikasi dan teknologi pergeseran waktu panen dapat dipercepat karena ada kejadian kekeringan, pergeseran waktu tanam. Program ini dapat dipercepat dengan adanya dukungan TNI AD dalam mensukseskan Program Swasembada Pangan.

Berdasarkan historical data selama 40 tahun produksi padi Indonesia bulan Oktober-Maret hanya 60% atau 8,1 juta hektar, produksi rendah menurut BPS rata-rata produktivitasnya 5 ton/ha.

Mentan Amran Sulaiman mengatakan areal produksi padi bulan Januari-Februari-Maret seluas 4,919 juta hektar, berarti ada pergeseran tanam seluas 3,181 juta hektar dari tanam Oktober-Maret bergeser ke Januari-April, sebelum terjadi pergeseran ada tanaman Januari-April seluas 2,5 juta hektar. Berarti produksi padi April-Mei telah terjadi peningkatan dari 15 juta ton menjadi 36,92 juta ton, ada peningkatan sebesar 21,9 juta ton.

Pada musim kemarau produksi padi berasal dari lahan irigasi teknis seluas 4,8 juta hektar, seharusnya bisa mencapai 28,8 juta ton. Karena banyak lahan irigasi rusak, pertanaman padi di lahan irigasi teknis musim kemarau yang bisa ditanami hanya seluas 2,9 juta hektar 17,4 juta ton.

Dengan hitung-hitungan itu maka diperkirakan produksi padi tahun 2015 sebesar 78,91 juta ton. Kalau jaringan irigasi bagus produksi padi pada tahun 2019 dapat mencapai 90,31 juta ton. Keperluan untuk konsumsi penduduk Indonesia 245 juta jiwa x 135 kg beras = 33 juta ton beras atau 55 juta ton GKG. Losses 15% = 8,25 juta ton, berarti keperluan untuk konsumsi sebanyak 63,25 juta ton, artinya sudah over produksi 15,66 juta ton, gabah atau 9,3 juta ton beras. Sebenarnya dengan panen padi bulan April-Mei dan Juni tahun 2015 kita sudah swasembada beras.

Faktor Penentu Keberhasilan

Percepatan pencapaian swasembada beras tersebut bisa tercapai dengan beberapa prasyarat.

Pertama, adanya perubahan kepemimpinan bangsa dan negara ini yang memiliki “Political Will” yang kuat terhadap pembangunan pertanian dengan dukungan dari anggaran yang besar khususnya untuk swasembada pangan.

Kedua, ditemukannya inovasi dan teknologi budidaya padi yang benar dan spektakuler, serta ditemukannya berbagai kesalahan dan kekeliruan dalam budidaya padi. Inovasi dan teknologi budidaya padi yang baru dan spektakuler hasilnya yaitu: a. Pemanfaatan energi sinar matahari yang mampu meningkatkan produksi padi sebesar 150%; b. Teknologi memutus cyclus hidup hama dengan tanam serempak; c. Teknologi peningkatan produksi melalui menggemburkan tanah, mengusir hama dan pupuk organik ajaib bokashi dan poca; d. Teknologi menangkap sinar matahari dan meningkatkan nilai tambah, sistem legowo mina padi; e. Teknologi memperluas areal tanam dengan penumbuhan dan pengembangan kelompok tani pemakai air.

Ketiga, gerakan Bimas baru kerjasama dengan Angkatan Darat. Gerakan peningkatan produksi padi/pertanian kerjasama dengan Angkatan Darat dengan melibatkan 51.000 tenaga Babinsa, 5.000 Koramil dan tenaga yang ada di pedesaan yang baru memiliki disiplin dan loyalitas tinggi. Mereka tinggal dibekali inovasi dan teknologi yang praktis, mudah, murah dan menguntungkan.

Keempat, gerakan rehabilitasi. Rehabilitasi lahan seluas 3,3 juta hektar dan pembuatan 49 waduk dan hasil dari program renovasi dan rehabilitasi 67% jaringan irigasi akan mampu menambah luas areal tanam seluas 1,9 juta hektar tahun 2015 ini sudah tampak jelas hasilnya, yang dikawal TNI AD. Dapat dipastikan pada tahun 2016, dari perbaikan lahan irigasi saja akan terjadi perluasan areal tanam seluas 1,9 juta hektar atau terjadi peningkatan produksi 11,4 juta ton. Berdasarkan berbagai upaya yang dijalankan oleh pemerintah diperkirakan produksi padi pada akhir tahun 2019 akan mencapai 90,3 juta ton GKG atau peningkatan 20,3 juta ton GKG.

Sumber : Tabloid Sinartani

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini111
Hari kemarin2156
Minggu ini6922
Bulan ini23547
Jumlah Pengunjung1071894
Online sekarang
16

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Sebuah Jalan untuk Lebih Mempercepat Swasembada Beras

Oleh: Dr. Ir. Soemitro Arintadisastra MEd

Presiden RI, Joko Widodo dalam Muktamar PKB pada akhir Oktober 2014 di Surabaya menyatakan bahwa produksi padi di Amerika Serikat dapat menghasilkan 8 ton/ha, sedangkan di Indonesia hanya 4 ton/ha. Menurut Presiden budidaya padi Indonesia ada yang keliru dan harus diperbaiki. Target Presiden RI Indonesia harus dapat swasembada beras dalam 3 tahun yakni pada tahun 2017.

Para ahli pertanian banyak yang sinis dan skeptis terhadap rencana Presiden Joko Widodo tersebut. Tidak mungkin target tersebut dapat dicapai. Jangankan swasembada beras untuk peningkatan produksi sebesar 4% saja sulit.

Pada umumnya para ahli pertanian dalam melihat pertanian Indonesia masa depan “Agriculture Outlook” menggunakan historical data, data trend. Kalau kita menggunakan historical data dalam memprediksi pertanian masa depan, dapat dipastikan dalam 5 tahun mendatang tidak akan bisa mencapai swasembada pangan! Prediksi dapat juga dilakukan dengan menggunakan program yang akan dilaksanakan selama 5 tahun.

Pertanaman padi Indonesia lebih dari 50 tahun menggunakan inovasi dan teknologi yang tidak memanfaatkan energi sinar matahari dan tanam tidak serentak, tanam awal musim hujan dan panen saat musim hujan pula Oktober–Maret, di mana sinar matahari minim sekali, berarti photosintesa dan asimilasi sangat minimal, akibatnya tunas padi yang tumbuh hanya 25% tunas produktif, 75% tunas tidak produktif, penyerbukan bunga 40% gagal  dan  pengeringan gabah sulit, gabah banyak yang busuk, kehilangan hasil 40% dan produksi rendah sekali hanya bisa 3 ton/ha.

Kementerian Pertanian bisa memanfaatkan inovasi dan teknologi budidaya padi yang terbaru yaitu tanam awal bulan Januari dan panen saat matahari bersinar terang di mana proses photosintesa dan asimilasi maksimal. Dengan cara ini produksi dapat mencapai 10 ton/ha GKP dan kualitas gabah prima, tidak terjadi kehilangan hasil 40%.

Kecepatan aplikasi dan teknologi pergeseran waktu panen dapat dipercepat karena ada kejadian kekeringan, pergeseran waktu tanam. Program ini dapat dipercepat dengan adanya dukungan TNI AD dalam mensukseskan Program Swasembada Pangan.

Berdasarkan historical data selama 40 tahun produksi padi Indonesia bulan Oktober-Maret hanya 60% atau 8,1 juta hektar, produksi rendah menurut BPS rata-rata produktivitasnya 5 ton/ha.

Mentan Amran Sulaiman mengatakan areal produksi padi bulan Januari-Februari-Maret seluas 4,919 juta hektar, berarti ada pergeseran tanam seluas 3,181 juta hektar dari tanam Oktober-Maret bergeser ke Januari-April, sebelum terjadi pergeseran ada tanaman Januari-April seluas 2,5 juta hektar. Berarti produksi padi April-Mei telah terjadi peningkatan dari 15 juta ton menjadi 36,92 juta ton, ada peningkatan sebesar 21,9 juta ton.

Pada musim kemarau produksi padi berasal dari lahan irigasi teknis seluas 4,8 juta hektar, seharusnya bisa mencapai 28,8 juta ton. Karena banyak lahan irigasi rusak, pertanaman padi di lahan irigasi teknis musim kemarau yang bisa ditanami hanya seluas 2,9 juta hektar 17,4 juta ton.

Dengan hitung-hitungan itu maka diperkirakan produksi padi tahun 2015 sebesar 78,91 juta ton. Kalau jaringan irigasi bagus produksi padi pada tahun 2019 dapat mencapai 90,31 juta ton. Keperluan untuk konsumsi penduduk Indonesia 245 juta jiwa x 135 kg beras = 33 juta ton beras atau 55 juta ton GKG. Losses 15% = 8,25 juta ton, berarti keperluan untuk konsumsi sebanyak 63,25 juta ton, artinya sudah over produksi 15,66 juta ton, gabah atau 9,3 juta ton beras. Sebenarnya dengan panen padi bulan April-Mei dan Juni tahun 2015 kita sudah swasembada beras.

Faktor Penentu Keberhasilan

Percepatan pencapaian swasembada beras tersebut bisa tercapai dengan beberapa prasyarat.

Pertama, adanya perubahan kepemimpinan bangsa dan negara ini yang memiliki “Political Will” yang kuat terhadap pembangunan pertanian dengan dukungan dari anggaran yang besar khususnya untuk swasembada pangan.

Kedua, ditemukannya inovasi dan teknologi budidaya padi yang benar dan spektakuler, serta ditemukannya berbagai kesalahan dan kekeliruan dalam budidaya padi. Inovasi dan teknologi budidaya padi yang baru dan spektakuler hasilnya yaitu: a. Pemanfaatan energi sinar matahari yang mampu meningkatkan produksi padi sebesar 150%; b. Teknologi memutus cyclus hidup hama dengan tanam serempak; c. Teknologi peningkatan produksi melalui menggemburkan tanah, mengusir hama dan pupuk organik ajaib bokashi dan poca; d. Teknologi menangkap sinar matahari dan meningkatkan nilai tambah, sistem legowo mina padi; e. Teknologi memperluas areal tanam dengan penumbuhan dan pengembangan kelompok tani pemakai air.

Ketiga, gerakan Bimas baru kerjasama dengan Angkatan Darat. Gerakan peningkatan produksi padi/pertanian kerjasama dengan Angkatan Darat dengan melibatkan 51.000 tenaga Babinsa, 5.000 Koramil dan tenaga yang ada di pedesaan yang baru memiliki disiplin dan loyalitas tinggi. Mereka tinggal dibekali inovasi dan teknologi yang praktis, mudah, murah dan menguntungkan.

Keempat, gerakan rehabilitasi. Rehabilitasi lahan seluas 3,3 juta hektar dan pembuatan 49 waduk dan hasil dari program renovasi dan rehabilitasi 67% jaringan irigasi akan mampu menambah luas areal tanam seluas 1,9 juta hektar tahun 2015 ini sudah tampak jelas hasilnya, yang dikawal TNI AD. Dapat dipastikan pada tahun 2016, dari perbaikan lahan irigasi saja akan terjadi perluasan areal tanam seluas 1,9 juta hektar atau terjadi peningkatan produksi 11,4 juta ton. Berdasarkan berbagai upaya yang dijalankan oleh pemerintah diperkirakan produksi padi pada akhir tahun 2019 akan mencapai 90,3 juta ton GKG atau peningkatan 20,3 juta ton GKG.

Sumber : Tabloid Sinartani

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi